Beberapa hari yang lalu, saya bikin survei kecil-kecilan dengan beberapa teman lelaki. Masing-masing dari mereka diberi pertanyaan “Kira-kira standar moral dan cara berpakaian perempuan itu berhubungan atau tidak?”. Begitu.

Jawabanya macam-macam. ada yang bilang: “Moral itu ibarat arem-arem, lah. Gue kan nggak tahu yang paling enak yang isinya ayam atau sayuran. Walaupun ayam dinilai lebih enak, tapi itu bakal jadi penilaian yang egois juga kalo belum bener-bener nyobain dua-duanya. Nah, itu sih yang bikin moral tuh relatif, nggak bisa disimpulkan secara universal.” Analogi yang sungguh aduhay. Dan entah apakah itu menjawab pertanyaanku atau tidak. Tapi analoginya menarik. Analogi isi arem-arem menunjukkan kalau moral dan kepantasan tidak bergantung dengan cara berpakaian, melainkan isi kepala seseorang. Seperti memilih arem-arem yang enak. Bukan soal ia dibungkus pelastik dan kertas yang transparan atau  kulit pisang yang hijau. Melainkan aisi arem-arem itu sendiri. Apakah isinya ayam atau sayuran?

Tapi, stereotip masyarakat tentang gaya berpakaian sepertinya memang sulit dihilangkan. Yang menempel di benak kita: si baju minim pasti bermoral buruk, dan si baju tertutup pasti baik-baik.

Berkaca dari fenomena ini, persis seperti keramaian di media sosial yang sedang ramai belakangan.Soal iklan Shopee yang menampilkan Black Pink. Hal itulah yang kemudian menimbulkan pertanyaan: Apa sih hubungan cara berpakaian dengan moral?

Di jagad media sosial  heboh dengan petisi yang dibuat oleh seorang Ibu yang mengajak netizen memboikot iklan Shopee yang menayangkan Blackpink karena dinilai tidak pantas dan melanggar norma kesopanan. Si pembuat petisi berspekulasi kalau seandainya iklan seperti ini dilanggengkan maka akan berpengaruh buruk terhadap kondisi psikologis anak. Kekhawatiran anaknya untuk ikut berpakaian mini seperti mereka menjadi salah satu alasan mengapa iklan ini perlu diboikot.

Petisi ini pun menuai perdebatan. Kelompok pro yang kebanyakan diikuti oleh kelompok religius mendukung penuh kebijakan Ibu Maimon untuk menghilangkan Blackpink dari tayangan televisi. Sedang yang kontra, menyanggah petisi ini dengan alasan tak ada yang bisa menyekat standar berpakaian perempuan.

Berbicara moral dan standar berpakaian, sepertinya Ibu Maimon dan teman-temannya sudah lupa dengan keberadaan ftv-ftv yang menggambarkan pakaian seksi sebagai lambang modernitas atau budaya kehidupan perkotaan yang sudah disentuh dengan gaya kebarat-baratan.

Jika memang standar tayangan televisi memang benar-benar musti distandardisasi oleh moral, kenapa tayangan sampah seperti Rumah Uya atau Katakan Putus tidak diboikot dari dulu saja? Yang seperti itu justru malah merusak moral dan nggak ada faedahnya. Atau jangan-jangan kebutuhan pasar media audio-visual Indonesia memang seperti itu?

Alih-alih membela moral hakiki, Ibu Maimon ini bisa dibilang salah satu jenis manusia yang merepotkan. Sebab mobilisasi massa seperti inilah yang dilakukan dengan dalih keadilan dan nilai moral tanpa ditelusuri “moral siapa? Atau “moral yang bagaimana?”. Dalam cuitannya di twitter, Laily Fitry menjelaskan bahwa mekanisme massa dieksploitasi untuk menegakkan versi moral sendiri dan ketidakadilan yang dilakukan sendiri. Itulah mengapa setiap teriakan perang moral dan melawan ketidakadilan seperti itu tak menghasilkan kesejahteraan bagi semua. Karena yang mereka teriakkan tak lebih dari ketidaknyamanan diri.

Jenis manusia yang merepotkan nomor dua adalah mereka yang ramai-ramai mengatur cara berpakaian perempuan harus seperti ini-seperti itu, pokoknya sampai dia bilang muslimah itu sudah harusnya seperti itu. Cara berpakaian harus tertutup, pakai kerudung harus menjuntai, pokoknya kalau mau dianggap perempuan baik-baik harus mengikuti standar budaya ketimuran.

Jadi, yang mereka bela itu sebenarnya moral atau budaya timur, sih?

Jawabannya, yang mereka bela itu mungkin budaya  timur dan mengabaikan budaya Indonesia. Padahal, budaya berpakaian Indonesia dari zaman dahulu sangat jauh dari kesan kearab-araban. Para perempuan memakai kebaya, kemben, bahkan topless. Dan semuanya hidup rukun tanpa ada kerusuhuan kelompok yang membuat petisi.

Dengan adanya petisi, semua orang lebih leluasa untuk berpendapat dan mobilisasi massa. Tayangan-tayangan televisi memang perlu memasok program yang kreatif dan edukatif. Saya setuju jika tayangan yang berbau seksual dihapus dari program mana pun. Tapi, dengan menggiring opini kalau orang berbaju terbuka adalah contoh tidak baik, ini juga tidak bisa dibenarkan.

Orang yang bertato dan jauh dari lingkungan akademis, tidak berarti dalam hatinya bengis dan tidak ada belas kasih. Pun sebaliknya, bisa jadi orang yang memakai pakian yang kita anggap itu adalah standar moralitas malah sebenar-benarnya orang jahat.

Kalau judulnya saja sudah membela moral, kenapa tidak melakukan hal yang lebih penting daripada mengurusi paha dan dada orang lain, seperti melawan pernikahan anak, membela saudara muslim di timur yang ditembaki sampai mati atau menolong mereka yang sedang terjebak dalam perdagangan manusia. Karena hanya dengan itulah agama bisa dikatakan sejati, bukan agama petisi apalagi agama reuni.

Jadi, quotes “Don’t judge someone by cover” sudah bisa kita terapkan kan, dulur-dulur?

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Penulis adalah perempuan biasa yang menemukan Komunitas Swara Saudari sebagai wujud kepedulian terhadap isu-isu perempuan. Senang menjadi fasilitator Kelas diskusi dan sesekali menulis berbagai isu gender di beberapa media online. Selalu ingin disapa duluan, silakan coba di akun twitter @owyaaay sampai jumpa di sana, ya.