“Brakkk!”

Di bawah cahaya lentera yang menyala-nyala, gerombolan Odysseus keluar dari tubuh kuda kayu dan segera menghunus pedang terhadap orang-orang Troya. Tipu muslihat yang digunakan oleh pasukan Akhaia itu berhasil membuat perang sepuluh tahun antara Troya dan Akhaia dimenangkan oleh orang-orang Akhaia.

Menuntaskan dendam yang terpendam selama sepuluh tahun tanpa bisa menembus gerbang kota Troya, maka dengan semangat berapi-api, tentara Akhaia membakar kota dan menjarahnya. Kota Troya yang terkenal karena kemegahan serta pertahanannya yang sulit ditembus tinggal abu, semua harta benda habis terbakar, anak-anak dan wanita diangkut untuk dijadikan budak.

Siapa yang menyangka, di dalam tubuh kuda kayu yang mengkilap itu berisi tentara dengan pedang terhunus. Kuda yang awalnya dikira sebagai hadiah persembahan dari Akhaia yang mengakui kekalahannya terhadap Troya ternyata berisi malapetaka bagi Troya itu sendiri.

Tentu saja kisah ini perlu kita runut dari awal, membahas bagian-bagian yang memoles riuhnya sejarah Yunani. Terlebih, Perang Troya menjadi salah satu sejarah Yunani yang termashyur dan diceritakan dalam berbagai syair, naskah drama hingga novel-novel fantasi.

Dikisahkan bahwa Paris, seorang pangeran dari Troya, anak Priamos yang termashyur menculik Helene. Siapa yang tak kenal Helene, ratu Sparta yang menjadi kebanggaan warga Yunani sekaligus menjadi simbol keagungan negeri para dewa. Helene diceritakan dibuat tergila-gila jatuh cinta oleh dewi Aphrodite kepada Paris, tentu saja dengan riang hati Paris memboyong Helene ke Troya.

Tak disangka-sangka, suami sah dari Helene yakni raja Menelaos merasa terhina saat istrinya harus direbut begitu saja oleh Paris. Drama rumah tangga ini kemudian berujung pada perintahnya terhadap saudaranya, Agamemnon untuk menghancurkan Troya dan kembali membawa istrinya ke Yunani.

Berbekal dendam akan kembalinya ratu Sparta yang agung, Helene serta membunuh Paris dan memporak porandakan Troya, pasukan Akhaia berangkat menempuh perjalanan ribuan mil, melewati berbagai macam rintangan. Siapa lagi yang meragukan bangsa Yunani? Dengan bantuan dewa-dewa yang bersemayam di Olympus seperti halnya dewa-dewa kahyangan dalam Bharatayudha, tentu kekuatan mereka berada diluar batas kemampuan manusia.

Dalam dongeng maupun realita, tampaknya perang dan kekacauan tak bisa dilepaskan dari tangan-tangan penguasa atau tangan-tangan besar pembantu di belakangnya. Siapa yang tak kenal Sri Kresna, seorang Dewa yang ngejawantah ke bumi untuk membantu berlangsungnya perang dan memenangkan anak-anak Pandu di ladang Kuru. Sebagaimana dalam kisah ini diceritakan bahwa pasukan Akhaia didukung oleh Athena, Poseidon dan Hera, begitu pula dengan Troya yang dibantu Apollo, Aphrodite dan Ares.

Di manakah perang yang hanya berlangsung akibat teriakan seorang petani, atau perang hebat yang menelan jutaan korban jiwa tanpa ada dalang besar di belakangnya? Semua perselisihan diawali oleh bagaimana seorang pemimpin menempatkan dirinya di tengah-tengah atau di belakang masyarakat, apakah ia akan memimpin adu domba dan menempatkan rakyat di ladang perang atau justru memberi solusi dan kedamaian.

Sebuah PR tentu saja bagi semua pemimpin di dunia ini, siapapun dan apapun yang ia pimpin. Seorang pemimpin tentu saja perlu memberikan angin segar bagi kesejahteraan dan kedamaian masyarakat, suatu yang tampaknya perlu dibenahi dalam sistem pemerintahan serta permasyarakatan kita.

Tidak hanya menjadi Menelaos yang berani menyulut semangat rakyatnya, tapi seorang pemimpin juga perlu memberikan kedamaian dan rasa aman bagi segenap masyarakat yang ia naungi dibawah kepemimpinannya. Gubernur, Presiden, Camat, hingga ketua RT seharusnya berani untuk berkata “Jangan khawatir, semua bisa kita atasi bersama-sama”.

Karena tanpa memberikan rasa aman, seorang pemimpin akan berakhir selayaknya tokoh-tokoh dalam drama tragedi Yunani. Orang-orang baik tapi tidak memberikan kebaikan yang sama terhadap sekitarnya akan berakhir dalam tragedi mengenaskan dan kehampaan. Begitulah tragedi Yunani berpesan, bahwa orang-orang baik biasanya akan mengalami tragedi, mengalami pergulatan batin yang amat berat.

Maka, sebelum berakhir dalam kubangan kesedihan, Menelaos segera berjanji pada masyarakat Yunani bahwa dia akan membawa Helene kembali. Sebagai pemimpin sekaligus suami, membawa kembali ratu yang dielu-elukan sebagai wanita tercantik di bumi itu suatu kewajiban tersendiri. Selain kembali membuat masyarakat merasa tenang, dia juga perlu melakukannya sebagai pembuktian bahwa dia seorang pemimpin yang bertanggung jawab terhadap semua lapisan negerinya.

Tapi malang bagi Troya, sebagaimana Kurawa yang hanya mengandalkan kuantitas dan kekuatan fisik, mereka harus remuk dihadapkan dengan kekuatan siasat dan strategi perang. Perang yang berlangsung selama sepuluh tahun itu akhirnya dihabiskan dengan satu malam, di mana pasukan Akhaia atau Yunani menggunakan kuda kayu sebagai tipuan bagi bangsa Troya.

“Kami mengaku kalah, dan dengan ini pula, segala kehormatan kami berikan kepada Troya yang agung. Kami harap tiada lagi ada perselisihan diantara kita, urusan yang lalu biarlah berlalu.” Barangkali begitu yang dikatakan oleh orang-orang Akhaia sambil menyerahkan beberapa kuda kayu tinggi besar kepada bangsa Troya.

Dengan senang hati, Troya menyambut kemenangan mereka dan membawa kuda-kuda kayu itu ke dalam kota. Sambil meneriakkan kalimat-kalimat kemenangan, para perwira Troya mengarak kuda-kuda kayu hadiah dari Yunani itu keliling kota. Namun naas menimpa, di dalam kuda kayu itu bukan berisi angin, tapi puluhan atau bahkan ratusan prajurit Yunani.

Sampai di sini kisah kemegahan Troya berakhir. Priamos, raja Troya harus mati dalam kesia-siaannya. Kepemimpinannya yang hanya mengandalkan kekuatan fisik dan kemegahan harus berakhir tragis dibawah lincahnya siasat serta strategi yang dibawa sebagai senjata oleh bangsa Yunani. Inilah yang perlu dijadikan PR oleh kita sebagai masyarakat maupun para pemimpin, jadilah pemimpin yang bisa menggerakan masyarakat sekaligus peka dan paham akan strategi-strategi yang perlu dibawakan untuk mengatur kedamaian serta kesejahteraan masyarakat.

Jadilah pemimpin yang mampu membawa masyarakat bersama dalam genggamannya melewati arus globalisasi yang kian kencang dengan inovasi dan terobosan baru, jangan hanya bertahan seperti Troya. Karena terus bertahan akan tetap kalah oleh mereka yang mulai melangkah menyambut masa depan. Berpegang teguh pada nilai-nilai yang sudah ada boleh saja, asal dibarengi dengan memperbaharuinya agar relevan dengan perkembangan zaman.

Jika bukan sekarang, apakah perlu menunggu kuda-kuda troya inovasi orang lain membuat langkah dan karya? Tentu tidak. Beranilah menerjang resiko dan masa depan sebagaimana semangat prajurit Yunani, berinovasi dan susun strategi untuk mengimbangi perjalanan zaman sebagaimana Odysseus menghentak Troya dengan inovasinya.

Jadilah pemimpin yang memberikan rasa aman dan damai bagi masyarakat, dan jadilah masyarakat yang berani berinovasi untuk memudahkan para pemimpin dalam mengatur rakyatnya. Begitulah negeri para dewa memberikan petuah bagi umat manusia.

Profil Penulis

Azi Satria
Azi Satria
biasanya disapa Azi Satria lahir di Ciamis dua tahun setelah pergantian milenium. Menempuh pendidikan di SMAN 1 Rancah dan memiliki ketertarikan akan dunia seni, sastra dan filsafat. Rajin menulis di media daring maupun luring sebagai pemanasan menyambut masa depannya.
Tulisan yang Lain