

Malam itu hujan turun seperti seseorang yang terlalu lama menahan tangis. Tidak deras, hanya rinai kecil yang mengetuk genting kontrakan tua di sudut kota, seolah sedang mengingatkan bahwa ada hal-hal yang belum selesai meski waktu telah berkali-kali mencoba menghapusnya.
Malik duduk sendiri di depan meja kayu yang dipenuhi buku-buku filsafat, lembar puisi berantakan, dan puntung rokok yang mati sebelum habis terbakar. Lampu kamar redup kekuningan, membuat bayangannya tampak lebih tua dari usia sebenarnya.
Di luar sana, jalanan mulai lengang, hanya suara motor sesekali lewat lalu hilang ditelan malam. Namun di kepalanya, keramaian itu tak pernah benar-benar pergi. Ada suara-suara kecil yang terus hidup; tentang percakapan lama, tawa yang pernah membuat dadanya hangat, dan sepasang mata yang kini hanya tinggal sisa ingatan.
Sialnya menjadi pencinta sastra, pikirnya pelan, adalah ketika seseorang tak pernah benar-benar selesai dengan kehilangan. Kata-kata membuat luka selalu punya cara untuk hidup lebih lama. Ia sudah mencoba membunuh rindu itu berkali-kali lewat puisi yang dibakar, lagu yang dihapus dari daftar putar, bahkan dengan memaksa dirinya jatuh cinta pada perempuan lain yang ditemuinya di ujung percakapan-percakapan kosong. Namun semakin ia berusaha pergi, semakin wajah itu tinggal menetap di kepalanya seperti hujan yang lupa cara berhenti turun.
Perempuan itu bernama Lena. Ia datang beberapa tahun lalu di sebuah kelas filsafat barat yang pengap dan membosankan. Semua orang sibuk mencatat penjelasan dosen tentang absurditas hidup ala Albert Camus, sementara Malik justru sibuk memperhatikan perempuan di bangku dekat jendela yang diam-diam menulis puisi di sela catatan kuliah. Saat itulah ia sadar, ada orang-orang tertentu yang bahkan sebelum berbicara sudah terasa seperti rumah. Lena memiliki cara aneh memandangi dunia; seolah setiap kesedihan adalah karya seni yang layak dipeluk perlahan. Mereka akhirnya dekat karena buku, kopi murah, dan kebiasaan pulang sambil membicarakan hal-hal yang tak penting bagi dunia, tetapi terasa begitu besar bagi mereka sendiri.
Mereka pernah berjalan di bawah senja tanpa tujuan, membicarakan mengapa manusia terus bertahan hidup meski dunia berkali-kali menghancurkannya. Lena pernah berkata bahwa manusia sebenarnya tidak takut mati, manusia hanya takut dilupakan. Malik tertawa kecil waktu itu, lalu menjawab bahwa para penyair mungkin adalah manusia paling egois karena ingin abadi lewat luka-lukanya sendiri. Lena ikut tertawa, dan suara tawanya masih diingat Malik sampai sekarang, bahkan lebih jelas daripada suara ibunya sendiri.
Namun seperti hampir semua kisah yang terlalu indah, hidup diam-diam menyiapkan jarak. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengkhianatan dramatis seperti dalam novel-novel murahan. Mereka hanya perlahan menjadi asing. Kesibukan datang seperti tembok yang tumbuh sedikit demi sedikit. Percakapan mulai pendek. Balasan pesan menjadi dingin. Hingga suatu hari Lena pergi begitu saja, membawa seluruh kemungkinan yang pernah mereka bayangkan bersama.
Sejak itu Malik membenci hujan dan lagu-lagu lama. Hujan selalu mengingatkannya pada perempuan yang pernah duduk di sampingnya sambil membacakan puisi dengan suara pelan. Sedangkan lagu-lagu lama terasa seperti jebakan; sekali diputar, seluruh kenangan kembali hidup tanpa ampun. Ia pernah mencoba mabuk supaya lupa, pernah berjalan tanpa arah hingga dini hari hanya untuk melelahkan pikirannya sendiri, tetapi rindu rupanya lebih keras kepala daripada manusia.
Kadang-kadang ia masih mencari Lena pada wajah orang lain. Pada perempuan yang duduk sendirian di halte. Pada seseorang yang membaca buku sambil menunggu kopi dingin. Pada aroma hujan bulan November. Bahkan pada senja yang jatuh terlalu muram di balik gedung-gedung kota. Namun semakin ia mencari, semakin ia sadar bahwa beberapa orang memang tidak diciptakan untuk kembali. Mereka hanya datang sebentar, mengubah isi kepala seseorang, lalu pergi meninggalkan ruang kosong yang tak pernah benar-benar bisa diisi lagi.
Malam semakin larut. Malik menyalakan rokok terakhirnya sambil membuka buku catatan lusuh di atas meja. Di halaman paling belakang ada puisi lama yang belum selesai ditulis. Ia membaca ulang pelan-pelan, lalu tersenyum kecil seperti seseorang yang akhirnya lelah melawan kenyataan. Barangkali benar kata waktu: tidak semua kehilangan perlu temu. Ada cinta yang tak lagi punya tubuh untuk dipeluk, tetapi tetap hidup diam-diam di dalam dada manusia paling sunyi.
Di luar, hujan mulai reda. Kota perlahan tertidur. Namun Malik tahu, beberapa rindu memang tidak pernah benar-benar selesai. Mereka hanya berubah menjadi sisa kata-kata yang menetap paling jauh di dalam kepala, lalu tinggal di sana selamanya.
Sejak malam itu Malik jarang menulis puisi lagi. Buku catatannya tetap terbuka di atas meja, tetapi halaman-halamannya lebih sering kosong seperti seseorang yang kehilangan alasan untuk berbicara. Ia masih pergi kuliah, masih duduk di warung kopi yang sama, masih tertawa ketika teman-temannya melontarkan lelucon receh tentang hidup yang payah, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan mengering. Ia menjadi manusia yang pandai terlihat baik-baik saja, meski di dalam kepalanya terus berlangsung keributan yang tak pernah selesai.
Beberapa bulan setelah Lena pergi, kota memasuki musim hujan paling panjang. Langit hampir tiap sore runtuh dalam gerimis yang malas. Jalanan basah, udara dingin, dan aroma tanah membuat kenangan tumbuh semakin liar. Malik mulai terbiasa berjalan sendirian selepas magrib tanpa tujuan jelas. Kadang ia berhenti di jembatan kecil dekat rel kereta, memandangi lampu kota yang memantul di genangan air sambil menghisap rokok sampai habis. Di tempat itu ia sering merasa hidup hanyalah kumpulan perpisahan yang dipaksa terlihat biasa.
Malam itu, saat hujan turun tipis-tipis seperti abu yang jatuh dari langit, Malik kembali datang ke jembatan kecil itu. Jaket hitamnya basah di bagian pundak, rambutnya sedikit berantakan diterpa angin. Ia berdiri cukup lama sampai matanya menangkap seseorang di ujung jalan. Perempuan dengan sweater abu-abu dan payung bening. Langkahnya pelan. Kepalanya sedikit menunduk seperti orang yang terlalu lelah pada hidup. Malik membeku.
Untuk beberapa detik dunia terasa berhenti bergerak.
Lena atau mungkin hanya seseorang yang terlalu mirip dengannya.
Dadanya mendadak sesak oleh hal-hal yang sudah lama ia kubur paksa. Ia ingin memanggil nama itu, tetapi suaranya tertahan di tenggorokan seperti anak kecil yang takut kecewa. Perempuan itu berjalan semakin dekat, lalu berhenti di bawah lampu jalan yang redup. Bukan Lena. Hanya seseorang dengan mata yang kebetulan menyimpan kesedihan serupa.
Malik tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip menyerah.
“Lucu ya,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri, “Manusia bisa kehilangan seseorang begitu lama sampai wajah orang lain pun mulai tampak seperti kenangan.”
Perempuan itu tak mengenalnya. Ia hanya berdiri sebentar sambil memeriksa layar ponselnya, lalu pergi bersama hujan yang makin larut. Namun anehnya, setelah perempuan itu hilang di tikungan jalan, Malik justru merasa lebih kosong dari biasanya. Seolah malam sengaja mempermainkannya dengan menghadirkan bayangan yang hampir ia percaya sebagai keajaiban.
Ia pulang menjelang dini hari dengan sepatu basah dan kepala penuh suara-suara lama. Sesampainya di kamar, ia membuka laptop tua yang sudah lama tak disentuh. Di dalam folder bernama “sementara”, ada puluhan draft puisi tentang Lena yang tak pernah selesai. Beberapa hanya terdiri dari satu baris. Beberapa lain terlalu berantakan untuk dibaca ulang. Malik menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya mulai mengetik lagi.
“Aku pernah mencintaimu sedalam-dalamnya sampai lupa bagaimana cara pulang pada diriku sendiri.”
Ia berhenti. Menghapus kalimat itu. Menulis ulang. Menghapus lagi.
Sialnya menjadi pencinta sastra adalah ketika kata-kata tak pernah benar-benar bisa menyelamatkan siapa pun. Mereka hanya membantu seseorang bertahan sedikit lebih lama dari kegilaannya sendiri.
Di luar jendela, hujan kembali turun perlahan. Malik menyandarkan tubuhnya ke kursi lalu memejamkan mata. Ia teringat percakapan terakhirnya dengan Lena bertahun lalu. Waktu itu mereka duduk di sebuah warung kopi kecil dekat kampus. Lena menatap jalanan yang basah sambil berkata bahwa cinta kadang tidak gagal karena kurang besar, tetapi karena dua orang yang sama-sama lelah memperjuangkannya.
“Kalau suatu hari aku pergi,” kata Lena waktu itu, “ … jangan benci kenangan kita.”
Malik, yang waktu itu terlalu yakin bahwa semua akan baik-baik saja, hanya tertawa kecil sambil menjawab, “Manusia sepertiku hidup dari kenangan.”
Kini ia sadar, jawaban itu ternyata kutukan.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari ketika listrik tiba-tiba padam. Kamar mendadak gelap. Hanya suara hujan dan aroma tembakau tersisa di udara. Malik berjalan menuju jendela, memandangi kota yang pelan-pelan tenggelam dalam sunyi. Di kejauhan terdengar suara kereta melintas, panjang dan sendu seperti seseorang yang berpamitan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Malik tidak lagi berharap Lena kembali.
Ia mulai mengerti, beberapa orang memang diciptakan hanya untuk menetap sebagai luka yang indah, bukan untuk dimiliki selamanya.
Kadang membahas sastra, filsafat, sufisme, dan hal-hal absurd yang membuat hidup terasa sedikit lebih masuk akal. Selebihnya hanya lelaki biasa yang masih belajar menerima kehilangan, memahami semesta, dan mengharapkan ridho Tuhan di tengah dunia yang bising dan tergesa-gesa.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!