Sinyal Terputus di Tengah Doa

Sinyal Terputus di Tengah Doa

 

Kutadahkan tangan di atas layar,

Mencari menara pemancar

yang sudi mengantar amin

ke seberang lautan.

 

Ibu bertanya tentang kabarku.

Suaranya patah-patah,

terpotong oleh jarak dan cuaca

yang bersembunyi di dalam kabel.

 

“Aku baik,” kataku.

Tapi layar mendadak beku.

Wajahnya diam.

Tinggal aku bersama dengung

panjang penanda putus.

 

Doaku menggantung di udara.

Terjepit di antara ikon baterai memerah,

dan kota yang kehabisan kata-kata.

 

Sudut Jogja, 2026

Arsitektur Sepi di Lantai 13

 

Kaca jendela ini menolak angin.

Hanya menerima pantulan wajahku

yang menua di depan kalender.

 

Di bawah sana,

jalanan membelah kota.

Lampu-lampu merayap seperti urat nadi.

Di sini udara berhenti,

hanya ada bunyi pendingin ruangan.

 

Orang-orang merancang menara.

Menyusun baja dan beton ke langit.

Mereka lupa membuat pintu

untuk jalan keluar dari isi kepala.

 

Lantai tiga belas tak punya tanah.

Kami mengakar pada kursi putar,

menghitung tanggal,

merawat sunyi yang dibangun simetris.

 

Sudut Jogja, 2026

 

 

 

Penjaga Museum Percakapan

 

Di dalam layar ini ada ruang kedap.

Menyimpan abjad yang batal kurangkai

menjadi suaramu.

 

Kursor berkedip.

Menunggu keberanian yang selalu telat.

Aku mengetik rindu,

lalu menghapusnya sebelum subuh tiba.

 

Di sini, kata-kata mengeras jadi fosil.

Terkubur di bawah draf,

bersama pertanyaan-pertanyaan

yang tak sanggup menanggung jawaban.

 

Kita terhubung oleh sinyal.

Tapi terpisah oleh spasi yang tak pernah ditekan.

Menjadi sepasang penjaga museum

bagi percakapan kita sendiri.

 

Sudut Jogja, 2026

 

 

 

 

Wajah Tabah Berbaris

 

Pagi berbaris di depan pintu besi.

Sepatu kami basah oleh embun.

Menukar sisa kantuk

dengan selembar kartu tanda pengenal.

 

Angka merayap turun.

Tak ada percakapan.

Layar di genggaman menyala terang,

sementara bahu saling bersentuhan

tanpa benar-benar saling tiba.

 

Denting berbunyi.

Kotak kedap ini menelan kami,

mengangkat tulang dan tenggat waktu

ke lantai yang menggantung.

 

Kami berlatih menahan napas.

Menjadi sekrup yang merawat sepi,

membiarkan kota di bawah

mengunyah hari kami hingga tandas.

 

Sudut Jogja, 2026

 

 

 

Kota Insomnia

 

Lampu jalan adalah mata yang menolak tidur.

Mengawasi aspal yang terus digilas roda,

menolak menyerah pada malam.

 

Gedung-gedung berdiri tegak.

Menelan kopi dari kedai yang tak pernah tutup.

Mereka takut, jika lampu dimatikan,

kota ini tak punya alasan untuk ada.

 

Di balik jendela,

kami berbaring menatap langit-langit.

Menghitung sisa jam sebelum alarm menjerit.

Tidur perlahan hanyalah mitos

yang diceritakan di hari Minggu.

 

Kita terus terjaga.

Memacu detak jantung

melampaui jarum jam.

Menjadi mesin yang lupa,

bahwa untuk berlari esok hari,

mata harus lebih dulu terpejam.

 

Sudut Jogja, 2026

Author

  • Maria Utami

    Ibu rumah tangga dan penulis puisi asal Kota Yogyakarta. Baginya, tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya. Sebagian naskah puisinya dapat ditemui di sejumlah media literasi daring. Buku kumpulan puisi perdananya yang berjudul "Manuskrip Jeda" terbit pada Desember 2025 lalu. Ia dapat disapa melalui akun Instagram @maria.oetami

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | hiltonbet | hiltonbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | casino api | betnano | ultrabet | ultrabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş |