Lanjutan dari:
Bag 1. Yang Belum Dibahas dari Bunuh Diri
Bag 2. Pikiran Bunuh Diri dan Kesadaran Filosofis

Hyowon Healing Center, bekerja sama dengan sebuah perusahaan pemakaman, sejak 2012 mengadakan program gratis bagi mereka yang ingin “mengalami kematian”. Di sebuah ruangan dengan aroma krisan yang kuat, di dalam peti matinya masing-masing yang tertutup, tanpa sedikit pun cahaya masuk, orang-orang dibiarkan berbaring selama sepuluh menit lamanya. Sebelumnya mereka telah melalui serangkaian tahap yang intinya adalah upaya-upaya untuk mengingatkan mereka bahwa hidup itu berharga, bahwa hidup itu perlu dinikmati dan disyukuri, dan karena itu diperjuangkan. Setelah tahap-tahap tersebut, ada juga tahap di mana mereka diminta menulis semacam surat perpisahan bagi orang-orang yang akan ditinggalkannya seandainya mereka mati, dan mereka secara bergantian membacakannya keras-keras. Setelah penutup peti mati yang memerangkap mereka itu dibuka, setelah mereka kembali dihadapkan pada cahaya, diharapkan perspektif mereka akan hidup pun berubah—menjadi cerah dan positif.

Program menarik ini bisa dialami di Seoul, Korea Selatan, dan kabarnya telah ada ribuan orang yang mengikutinya, menjadi semacam tren tersendiri di Negeri Ginseng tersebut. Di antara mereka adalah orang-orang yang memiliki pikiran bunuh diri (suicidal thought) atau kerap membayangkan melakukan bunuh diri (suicidal ideation). Korea Selatan, memang salah satu negara dengan angka kematian bunuh diri yang tinggi.

Sekilas, program gratis yang diadakan Hyowon Healing Center ini sangat positif; ia akan bisa menekan angka kematian bunuh diri di sana. Namun, mencermatinya baik-baik, program ini sesungguhnya memiliki sebuah kelemahan, dan kelemahannya ini cukup fatal. Yang dimaksud adalah kecenderungannya menimpakan beban perbaikan sepenuhnya kepada orang-orang yang memiliki pikiran bunuh diri itu.

Mengenyahkan Pikiran Bunuh Diri Tak Sesederhana Mengubah Perspektif atas Hidup dan Mati

Memang, merasakan sendiri betapa kematian itu menakutkan sangat mungkin membuat seseorang yang semula ingin mati berubah pikiran; ia bahkan bisa saja jadi memosisikan kematian sebagai sesuatu yang lebih ingin dihindarinya ketimbang kehidupan itu sendiri. Tetapi, ini jelas tidak mengubah kenyataan bahwa kehidupan itu masih tidak menyenangkan, masih menyakitkan, bahkan mungkin memuakkan, setidaknya bagi seseorang tersebut. Ini sama saja dengan menganjurkan seseorang itu terbiasa berhadapan dengan segala hal yang membuatnya menderita itu, seberapa buruk pun hal tersebut.

Sekarang katakanlah salah satu hal yang membuat seseorang menderita adalah pelecehan seksual. Seorang perempuan bekerja di sebuah perusahaan dan ia kerap mengalami pelecehan seksual dari atasannya atau rekan-rekan kerjanya. Lambat-laun, situasi ini akan menjadi situasi neraka baginya, namun karena sesuatu hal yang sifatnya sistemik ia tak bisa mengeluarkan dirinya dari situasi tersebut; ia tak punya cukup kuasa untuk melakukannya. Wajar saja jika kemudian ia menjadi seseorang dengan pikiran bunuh diri (suicidal person). Dan ketika ia mencoba “mengalami kematian” di program gratis tadi itu, dalam upaya mengenyahkan pikiran bunuh dirinya ini, yang ia hadapi malah anjuran-anjuran soal betapa hidup itu berharga dan betapa kematian itu menakutkan, sehingga satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membiasakan diri, membuat dirinya terbiasa mengalami pecelahan seksual dari atasannya maupun rekan-rekan kerjanya. Tak masuk akal, tentu. Dan di saat yang sama: sangat lucu.

Dengan kata lain, program “mengalami kematian” yang diadakan Hyowon Healing Center itu memang menarik dan dampak positifnya ada, terlebih lagi ia gratis, tetapi ia hanya bergerak di permukaan saja dan tak menyentuh akar-akar masalah bunuh diri di Korea Selatan yang sebenarnya. Bahkan, dan ini sangat disayangkan, program tersebut cenderung mengabaikan kenyataan bahwa bunuh diri senantiasa terhubung dengan hal-hal lain selain perspektif atas hidup dan mati.

Artikel jurnal yang ditulis Soo Beom Choi et al berjudul “Risk Factors of Suicide Attempt Among People with Suicidal Ideation in South Korea: A Cross-Sectional Study”[1] (2017) memaparkan hal-hal tersebut. Dalam artikel ini, mereka membahas faktor-faktor apa saja yang bisa meningkatkan potensi percobaan bunuh diri pada orang-orang yang memang memiliki pikiran bunuh diri. Faktor-faktor tersebut di antaranya adalah depresi, tingkat pendidikan, kanker (pada laki-laki), status sosial-ekonomi (pada perempuan), dan keterkekangan.

Hasil temuan Choi et al menunjukkan bahwa mereka yang tingkat pendidikannya rendah dan memiliki pikiran bunuh diri, ternyata, lebih berpotensi melakukan percobaan bunuh diri; begitu juga perempuan-perempuan yang status sosial-ekonominya rendah dan memiliki pikiran bunuh diri; begitu juga mereka yang merasa terkekang di kehidupan sehari-harinya dan memiliki pikiran bunuh diri. Bisa dilihat, faktor-faktor tersebut bukanlah hal-hal yang bisa diatasi dengan cara sederhana seperti mengubah perspektif atas hidup dan mati. Program menarik yang ditawarkan Hyowon Healing Center tadi, dengan demikian, sangatlah jauh dari ideal.

Pikiran Bunuh Diri Sebagai Produk Sosial

Pada dasarnya pikiran bunuh diri adalah produk sosial; ia muncul karena adanya interaksi antara individu satu dan individu lain, antara si individu dan sistem di mana ia berada. Sebagai konsekuensinya, ia harus diposisikan sebagai masalah sosial, sesuatu yang sifatnya sistemik. Dan ketika kita bicara tentang sesuatu yang sifatnya sistemik, kita tentu bicara tentang sesuatu yang sifatnya kompleks.

Sampai kadar tertentu, program “mengalami kematian” tadi sebenarnya sudah memosisikan pikiran bunuh diri sebagai masalah sosial; ini terlihat dari dimintanya orang-orang itu menulis surat perpisahan dan membacakannya keras-keras sehingga setiap orang di ruangan itu sedikit-banyak mengetahui apa-apa yang menjadi kegelisahannya. Hanya saja, penekanannya keliru: satu-satunya pihak yang dituntut untuk berubah adalah orang-orang itu. Tak ada negosiasi antara individu dan sistem di sini. Sistem bahkan tidak disertakan sama sekali, seolah-olah ia sesuatu yang muncul dengan sendirinya dan tak bisa diubah dan individu-individu itu tak berdaya, benar-benar tak berdaya. Kesalahan ini, kiranya, adalah buah dari simplifikasi pikiran bunuh diri; sebuah anggapan bahwa pikiran bunuh diri bisa diatasi dengan cara yang sederhana seperti mengubah perspektif atas hidup dan mati.

Semestinya program tersebut melangkah lebih jauh dengan menyediakan ruang-ruang dialog yang mempertemukan orang-orang tersebut dengan sistem. Sistem itu sendiri bisa keluarga, teman-teman sepermainan, para petinggi di perusahaan tempat orang-orang itu bekerja, dan yang semacamnya. Bahkan akan baik juga jika orang-orang yang mengikuti program itu diarahkan untuk saling berinteraksi satu sama lain, berbagi kegelisahan dan kesedihan, sehingga lambat-laun mereka dengan sendirinya membentuk sebuah sistem baru yang lebih cocok untuk mereka, yang ketika mereka berada di sana mereka tidak lagi menderita dan menginginkan kematian. Intinya adalah, jangan biarkan orang-orang yang tengah digerogoti pikiran bunuh diri itu merasa terasingkan dan sendirian.

Dengan kata lain, mereka perlu diberi perhatian. Dan sebab pikiran bunuh diri adalah masalah sosial, yang harus memberi mereka perhatian itu adalah sistem, seperti masyarakat, teman-teman sepermainan, keluarga. Orang-orang yang berada pada posisi sistem perlu memiliki sensitivitas yang memadai. Mereka harus memahami betul titik-titik kritis yang bisa membawa seseorang semakin dekat ke melakukan percobaan bunuh diri.

Terkait hal ini, untuk kasus Korea Selatan, sebuah temuan menarik dikemukakan Sung Man Bae et al lewat artikel jurnalnya yang berjudul “Prediction by Data Mining, of Suicide Attempt in Korean Adolescents: A National Study”[2] (2015). Bae et al mencoba menelusuri faktor-faktor dominan apa saja yang bisa digunakan sebagai indikator seseorang lebih berpeluang melakukan percobaan bunuh diri, dengan fokus remaja-remaja di Korea Selatan. Temuannya sendiri seperti ini: untuk remaja-remaja yang sedang depresi, indikator itu adalah kenakalan (delinquency); untuk remaja-remaja yang berpotensi depresi, indikator itu adalah rendahnya tingkat intimasi dengan keluarga; dan untuk remaja-remaja yang tidak depresi, indikator itu adalah stress.

Lagi-lagi terlihat bahwa pikiran bunuh diri adalah masalah sosial. Remaja-remaja itu tentu tidak menjadi nakal dengan sendirinya; pasti ada pengaruh dari lingkungan di mana ia berada. Remaja-remaja itu pun tentu tidak stress dengan sendirinya; sangat mungkin ada pengaruh dari aktivitas dan keseharian di sekolah, di rumah, maupun di ruang-ruang lain. Rendahnya tingkat intimasi dengan keluarga, sementara itu, jelas sekali menunjukkan bahwa masalah itu juga ada pada sistem—keluarga.

Jadi, tak bisa dipungkiri lagi, pikiran bunuh diri adalah produk sosial, dan karenanya ia harus diposisikan sebagai masalah sosial, dan karenanya penanganan atasnya haruslah juga melibatkan sistem, dalam arti perbaikan juga dilakukan terhadap sistem. Program “mengalami kematian” yang diadakan Hyowon Healing Center tadi, sementara itu, belum terlihat bergerak masuk ke sana; dan penekanannya pun keliru sebab ia melihat si individu sebagai satu-satunya pihak yang harus melakukan perbaikan. Masyarakat Korea Selatan, jika benar-benar ingin menekan angka kematian bunuh diri di sana, kiranya butuh program-program inovatif yang jauh lebih baik lagi. Mari kita berharap saja kelak program-program tersebut bermunculan.(*)

—Cianjur, 26 Januari 2019


[1] Terbit di BMC Public Health (2017) 17:579. Ditulis oleh Soo Beom Choi, Wanhyung Lee, Jin-Ha Yoon, Jong-Uk Won, dan Deok Won Kim; Yonsei University, Seoul, South Korea. DOI: 10.1186/s12889-017-4491-5. Bisa diunduh di https://link.springer.com/content/pdf/10.1186%2Fs12889-017-4491-5.pdf.

[2] Terbit di Dove Press Journal: Neuropsychiatric Disease and Treatment (16 September 2016). Ditulis oleh Sung Man Bae*, Seung A Lee**, dan Seung-Hwan Lee***; Department of counseling Psychology,The cyber University of Korea, seoul, south Korea*; clinical emotion and cognition research laboratory, goyang, south Korea**; Department of Psychiatry, ilsan Paik hospital, inje University college of Medicine, goyang, south Korea***. DOI: 10.2147/NDT.S91111. Bisa diunduh di https://www.dovepress.com/getfile.php?fileID=27075.

Lanjutan dari topik “Bunuh Diri”:
Bag 1.Yang Belum Dibahas dari Bunuh Diri
Bag 2.Pikiran Bunuh Diri dan Kesadaran Filosofis
Bag 3. Simplifikasi Pikiran Bunuh Diri

====================================

Catatan Editor:

  • Tulisan ini dimaksudkan sebagai tulisan bersambung.
  • Jika Anda mengalami dorongan atau tendensi untuk melakukan “bunuh diri” kami sangat menyarankan Anda untuk datang berdiskusi pada ahlinya, seperti psikolog,psikiater, atau klinik kesehatan jiwa.