

di sudut jalan aspal berlumut embun pagi
pedagang tua meramu kuali sarat kenyang
tangan lincah beradu paling tanggap
mengelap meja kayu jati,
mengenyam mangkok dan sendok beradu pandang
uap mengepul, mengantar pandan bersenandung wangi
jahe geprek menggelitik hidung, menawar sunyi
legit gula jawa ia siram ke kuali merah
melambai tiap roda dua berjejer meriah
jarum dinding mengasuh lima, tiga puluh, dan tujuh menit prasangka
kacang hijau mekar, tegas seiring lunak bersahaja
kunci tapioka selembut beludru sutra
tarikan bibir terbit terpahat para bejana
roti tawar dibelah persegi siap berpentas seni
memagut ketan hitam kenyal bergoyang ria
butiran sagu mutiara merah ikut bersolek diri
“dua mangkuk cah bagus lan ayu” ramah pada asmara sejoli
santan putih berempati masim memangkas atma
ia sajikan kedamaian demi senyum sang perantau rupiah
memetik harmoni gurih mancak cakra
dari jemari yang legam,
terbit semangkok bubur pemecah nestapa.
tiap sore bapak telah melipat kantuk
di jejak kaki yang penuh lumpur
bapak pamit pada ibu Sri
menyeret montor merah berbunyi sirin
menuju sepetak gubuk kecil yang menanti
di sudut kelambu yang rapat
kotak persegi National mendengkur sahdu
gagang jinjingnya mencatat dahi penat,
sisa tulang rusuk yang saban sore memijati
memadamkan resah yang hampir menguliti
tubuh mulusmu kini berzirah debu
namun patuh memagari mimpi
mengusir wangi lempung basah
saat bapak pasrah mengurai raga payah
menampar telapak kaki yang kini terbelah
jemari tebal mulai memutar
kanan kiri mengetuk kenop volume
membangunkan bisik lambat yang menderu
di antara pening yang telah menyangga mentari
asap di kepala padam
berganti sebongkah es di pucuk kepala
di antara pendar hijau lumut pemandu pita
angka kHz dan MHz bersaf menunjuk kisah
kenop tuning dibalik penuh perasa
menembus gelombang plastik di badai sunyi
memanah gelombang raib, menanti si juru kabar
aksen perak di lingkup speaker besar
menyulur sepi yang kian menggelegar
kidung sinden dan dalang bersahutan mistis
meraup tilik bilik, mereda tangis
menjadi ritus hutan dibawah pohon rindang
antena tarik melintang berpegang di bawah raga
uluran kabel hitam menyuplai energi
memanjat ritme musik tetap bersenandung diri
membilas deras peluh yang mengerat di tubuh hitam
setelah mata rapat datang mengunci jiwa lelap
kini bersenandunglah terus penenun mimpi
tuntun sukma bapak mengetuk jalinan nirwana
biarkan ruhnya luruh dalam telagamu
sebelum esok fajar buta kembali memangkul ibu Sri
merawat sari tanah dalam mengenyam lambung persisi.
di balik komboran itu
sorot mata mendelik tajam
kumis dan jenggot melintang tebal
mengikat udeng dikendali akal
nubuwat warok menjahit robekan waktu
berikrar dalam tirakat dan pengasihan jiwa
hentakan kaki menyisir sesak amarah
menggantung jantung waktu di tanah Bantarangin
tepo seliro terkoyak seiring isak tanah
meneguk jampi melipur pilar siksa
lengkingan mendayu tiupan serunai
menghablurkan padang mahsyar di singgasana sangga langit
teka teki bersemayam tak bersua
di antara tarian sayap dadak merak menuju wibawa
akulah resi yang agung
“sang mandraguna” lebur oleh lena rona asmara
tali putih bersilang mengadu pada jamuan jiwa
akulah zirah itu
tunduk menyepi bersama bulan purnama
berkunjung tenang bersama megahmu
kujaga waktu bersama netra pelarianmu
rasakan bilah bilah tajam merobek mulut kemayu
merajai tatanan pingitan rona malam
mengutuk amarah untuk berlutut sujud
menjadi tonggak perisai bumi wengker
abdi yang tak mengunyah sisa tulang sang tuan.
Ponorogo, 13 Juni 2026
Lahir di Ponorogo, 28 September 2001. Alumnus Pendidikan Agama Islam dari UIN Ki Ageng Muhammad Besari, Ponorogo. Tim redaksi Majalan Pondok. Instagram @sheptiaann
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!