Siasat Menikmati Hidup Sebelum Kiamat

33

Saya tumbuh besar dengan buku-buku Isa Dawud, dari “Dialog dengan Jin Muslim”, Manusia Sebelum Adam, sampai “Dajjal Muncul dari Segitiga Bermuda”. Dalam watak bocah lima tahun saya, tak pernah ada yang lebih meneror daripada api yang muncul dari timur, orang baduwi yang membangun tower-tower tinggi, dan pemuda yang picek salah satu matanya dengan kaf-fa’-ro’ di dahinya.Tumbuh sebagai pembaca buku semacam itu membukakan saya pada bacaan-bacaan baru yang mencocokkan fenomena-fenomena “sesuai” dengan nubuwat itu, plus dengan konten-konten video internet. Kian terbayanglah teror kiamat itu di dalam kepala.

Apa yang paling mencemaskan dari masa pandemi ini? Banyak hal, tapi yang paling utama bagi saya adalah pikiran-pikiran khas apokaliptik, atau kiamat. Begitu pula setelah bicara dengan kawan-kawan via whatsapp pun nyatanya banyak yang punya pikiran serupa. Namun apa saja bisa jadi kiamat. Bagi yang hidup di abad pertengahan saat wabah hitam atau flu spanyol bisa jadi masa hidup saat itu adalah masa kiamat bagi mereka.

Kiamat agaknya bergantung pada apa persepsi kita pada “situasi terburuk” yang terjadi dalam hidup kita secara personal dan secara komunal. Khususnya secara komunal. Jadi jika hubungan anda sedang di ujung tanduk dan anda merasa sesak napas, rasanya berlebihan kalau iu kiamat, bahkan kiamat sughro sekalipun.

Yuval Noah Bacot Harari dalam buku-bukunya punya kans bagus untuk dijadikan bantal menulis soal ini dg baik, katanya, sejak lama sekali ras manusia telah bertahan hidup dan berusaha mengatasi setidaknya tiga hal: kelaparan, wabah, dan perang. Sebelum abad-21, ucapnya, semua terjadi sebagai bencana alam yang khas kiamat, betul-betul setara dengan gunung krakatau meletus; yang menggeser dan memecah daratan-daratan di sekitarnya. Jangan tanya berapa nyawa yang melayang.

Setelah abad 21, ia memberi banyak contoh peristiwa kelaparan, perang, dan bahkan wabah yang menurutnya terjadi lebih sering sebagai dampak politik ekonomi ketimbang bencana alam. Artinya terjadi dengan sengaja dan dalam kadar terntentu bisa diatasi sehiingga efeknya relatif kecil dibanding kejadian yang semisaal pada masa-masa sebelumnya.

Tentu saja Homo Deus (yang saya kutip barusan) ditulis sebelum ia tahu ada jenis virus yang bisa jadi lebih mengancam dari Wabah Hitam–ingat kalau Covid-19 ini bukan cuma jauh dari kondisi “dapat dikontrol” sebagaimana HIV/AIDS, dan obatnya masih belum bisa dipastikan, tapi juga virus ini bermutasi. Ini bakal menuntut pelipatgandakan kewaspadaan dan daya kerja yang selama ini diemban para pejuang di garis depan, alias para ilmuwan dan pejuang kesehatan. Bukan dukun semacam Ningsih Tinampi, apalagi stafsus-stafsus lilin.

Fakta-fakta itu sungguh menakutkan. Jika mau diitambahdengan asumsi-asumsi lain yang khas masayarakat miskin kota kayak kita, berkali lipatlah rasa terornya.

Entah karena pandemi ini memang bencana alam atau “dimainkan”, yang bisa dipastikan ia akan menelan banyak korban sebagaimana di negara lain. Dan kita yang punya jaring pengamanan sosial-ekonomi-politik paling rentan pastilah bakal seperti binatang-binatang yang luput dari bahtera nabi Nuh. Kita bakal terseret bah dan tenggelam.

Tapi syukurnya—jenis syukur yang agak egois sih—detik ini juga di mana kamu masih sempat-sempatnya menamatkan Money Heist sebanyak empat season, banjir itu belum menyentuh kaki kita sendiri. Setidak-tidaknya angka korban (tanpa bermaksud menyepelekan) belum mendaftar nama ibu dan bapak dari mayoritas kita yang tinggal agak jauh dari centrum-centrum covid-19 di Indonesia.

Tapi keadaan syukur-able yang aneh itupun bahkan terasa gak cukup. Kita tahu betapa mencemaskannya melihat gang-gang depan rumah kita di-blok dan pintu utama dijaga Karang Taruna yang macak pocong. Dalam hal-hal yang beginilah saya temukan kegiatan kecil yaang tak disangka sedikit membuat saya merasa… oke kiamat bakal merapat, ayo vcs dengan pacar yang tinggal di Bekasi (re: salah satu centrum Covid-19).

Awalnya memang agak aneh. Tapi akhirnya saya dan pacar merasa lebih terbakar daya hidupnya. Sungguh berbeda dari jenis penghiburan masa pandemi yang lain. Sungguh tak sepadan dengan menonton serial netflix sepuluh episode dalam sekali rebahan. Efeknya luar biasa, saya langsung bisa menulis agak panjang sejak sebulan terakhir ini.

Saya heran juga awalnya, apakah semangat ini datang karena kami merasa baru saja melewati tantangan, atau jangan-jangan kita merasa mendapet oase-penghiburan di tengah masa pandemi yang frustatif ini? Gimna gak frustatif, kita gak tahu kapan ini bakal berakhir. Ketakutan dan kecemasan yang terus-terusan menggelinding dari covid-19 itu sendiri, kemudian tindakan pemerintah yang membuat kita tiap harinya kian tak tenang, ancaman krisis okonomi dalam bentuk terburuknya, dan entah apa lagi…

Kembali pada bacaan Isa Dawud “Dialog dengan Jin Muslim” dan “Dajjal Muncul dari Segitiga Bermuda” yang adalah bacaan-bacaan awal saya ini, nyatanya menanamkan ketakutan yang besar pada jin dan kiamat. Jadi demi melawan takut itulah agaknya secara tak sadar saya sering menjadikan kedua topik itu sebagai bahan becandaan dan olok-olok antar teman dekat.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More