Ketika saya delapan atau sembilan tahun, ibu pernah membelikan saya buku kumpulan peribahasa dan pepatah Indonesia. Salah satu yang terkenal  dan masih saya ingat pepatah begini, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.”

Sepuluh tahun berselang, saya membaca novel yang laku keras di seluruh dunia, The Alchemist-nya Paulo Coelho, dan menemukan kalimat ini berulang-ulang: “Jika kamu menginginkan sesuatu, maka seluruh semesta akan membantumu untuk meraihnya.”

Cukup dua kalimat ‘bijak’ itu saja yang bisa saya bagikan pada Anda. Saya tidak akan menebar kalimat-kalimat semacam itu yang lainnya seperti seorang motivator atau Pak Tua dari Timur yang baru saja pulang bertapa di puncak Himalaya. Sebab dua kalimat itu ada benarnya, dalam konteks yang sebentar lagi saya ceritakan.

Saya tidak ingat pastinya kapan mulai menggandrungi buku dan tak tahan hidup barang setengah hari tanpa membaca. Yang jelas, kini saya suka membaca, walaupun tetap saja waktu yang saya gunakan untuk tidur dan hal-hal lain selain membaca masih jauh lebih banyak. Kadang kita memang begitu. Mengaku ‘pembaca sejati’ sambil melupakan bahwa sebenarnya kita hanya ‘penggemar tidur sejati’ atau ‘penggemar main sejati’ yang kebetulan saja membaca buku pada sisa waktu yang ada.

Saya menggandrungi buku dan sadar betul bahwa lingkungan saya tak cukup mendukung kegandrungan itu. Di rumah saya tak ada perpustakaan pribadi. Daerah saya tinggal jauh dari perpustakaan dan toko buku. Di sekolah koleksi bukunya memprihatinkan, plus saya tak ditakdirkan lahir di keluarga yang bisa membuat saya rutin jalan-jalan ke toko buku dan membeli sekantong buku tiap awal bulan. Jadi, memang susah menjadi penggandrung buku dalam kondisi seperti ini. Tapi, tentu saja, itu cuma keluhan kekanak-kanakan sampai saya menemukan sejumlah siasat.

Karena tak mampu beli buku yang ingin saya baca, saya banyak melakukan hal-hal yang saya sendiri tak pernah pikirkan sebelumnya. Salah satunya dengan menyalin karya-karya bagus yang saya temui di internet maupun buku-buku milik orang.

Bagi orang-orang zaman dulu barangkali ini biasa saja. Entah jika bagi orang-orang di era milenium begini.  Saya menyalin dengan menulis menggunakan jemari tangan kanan. Saya merasa senang menyalin karena ketika penyalinan selesai saya jadi merasa memiliki buku atau tulisan itu sendiri.

Saya juga jadi bisa membacanya kembali saat saya menginginkan atau memerlukannya. Kegiatan menyalin itu masih saya lakoni sampai sekarang karena saya pikir itu aktivitas positif yang cukup banyak manfaatnya.

Setidaknya, dengan menyalin saya jadi bisa lebih memahami cara Joko Pinurbo merangkai bait-bait sajaknya atau cara-cara Dea Anugrah memainkan tipografi dan menggunakan metafora dalam puisi-puisinya.

Dalam satu lemari di rumah, ada puluhan buku tulis hasil salinan saya menumpuk. Kau boleh membacanya jika mau.

Siasat lainnya adalah dengan meminjam buku kepada teman.

Teman-teman saya sedikit, dan yang suka baca buku lebih sedikit lagi jumlahnya. Maka teman-teman saya yang suka baca buku, plus suka beli buku, plus suka beli buku yang saya sukai, jaaauh lebih sedikit lagi.

Jadi, siasat yang satu ini tak cukup efektif dan punya banyak keterbatasan. Namun, lewat siasat ini saya jadi bisa membaca novel-novelnya Eka Kurniawan, Jalan Lain ke Tulehu-nya Zen Rs, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer-nya Pramoedya Ananta Toer, dan masih banyak lagi. Siasat berikut ini akan berlangsung sangat menyenangkan andai teman-teman dekat saya adalah Muhidin M. Dahlan, Bandung Mawardi, Aldo Zirsov, Sabda Armandio, dan orang-orang sejenis mereka.

Siasat ketiga dan yang paling jarang saya terapkan adalah dengan mengunjungi toko buku lalu membaca buku yang diinginkan sampai tamat tanpa harus membelinya.

Biasanya saya melakukan siasat ini untuk membaca buku-buku yang baru terbit dan yang ketebalannya tak seberapa.

Melalui siasat ini saya berhasil menamatkan di antaranya The Little Prince-nya Antoine de Saint-Exupery, The Old Man and The Sea-nya Ernest Hemingway, Bukan Pasar Malam-nya Pramoedya Ananta Toer, Dawuk-nya Mahfud Ikhwan, dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas-nya Eka Kurniawan.

Untuk buku terakhir, saya membacanya berdiri—sesekali  duduk—selama tujuh jam nonstop sambil menunggu kedatangan seorang teman yang ngaret minta ampun. Bikin mata perih dan pinggang pegal, tapi mengasyikkan.

Siasat terakhir adalah dengan membaca buku-buku elektronik yang banyak beredar bebas di internet. Untuk siasat ini—bagi yang mau meneladani—kalau bisa, sih, yang legal.

Hal-hal di atas itulah yang bisa saya bagikan agar anda bisa memenuhi ambisi kaya bacaan walau bergelimang kemiskinan. Hehe.

Kan, yang terpenting bukan uang, tapi kemauan. Sebagaimana  kata pepatah dalam buku yang ibu saya belikan dulu dan kata Coelho dalam novelnya: Di mana ada kemauan, di situ ada jalan, dan jika kamu menginginkan sesuatu, maka seluruh semesta akan membantumu untuk meraihnya.

Iya , nggak, sih?

Profil Penulis

Erwin Setia
Erwin Setia
Lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Litera.co.id, dan Cendana News.