

Film Charlie Chaplin rilisan tahun 1928 berjudul The Circus menjadi pintu awal perjalanan saya mengenal karya-karya legendaris sang seniman. Dalam format hitam putih sekaligus bisu, The Circus membawa saya pada refleksi yang lebih jauh daripada sekedar menontonnya sebagai film komedi saja.
Dalam The Circus kita akan diperkenalkan pada karakter utamanya, The Tramp (Charlie Chaplin), seorang pengangguran bertubuh kurus, berkumis, lengkap dengan celana kedodoran. Akibat suatu kesalahpahaman, The Tramp dituduh mencopet di sebuah pasaraya dekat pertunjukan sirkus. Sembari dikejar-kejar polisi, ia justru tidak sengaja masuk ke panggung utama sirkus, dan lucunya justru disukai para penonton.
Dengan gaya ikoniknya, Charlie Chaplin berhasil menghidupkan karakter The Tramp yang naif, polos, dan jenaka. Bentuk komedi yang kental didapatkan dalam The Circus berupa komedi slapstick, komedi yang mengandalkan humor fisik. Namun, jika direfleksikan lebih dalam lagi, The Circus bisa jadi adalah komedi gelap yang memuat banyak isu.
Prosedur Hukum yang Cacat
Pada awal film, kita akan disuguhi betapa tragisnya nasib The Tramp. Di tengah rasa lapar yang melanda, The Tramp yang asyik makan kudapan dari seorang anak kecil, dijebak sedemikian rupa oleh oknum pencopet. Alih-alih pencopet asli yang ditangkap, polisi justru mengejar The Tramp.
Komedi situasi salah kejar yang nyaris mengakibatkan salah tangkap ini berkali-kali sukses membuat saya sebagai penonton terpingkal-pingkal. Namun, siapakah sebenarnya yang sedang kita tertawakan? Apakah The Tramp sebagai korban dari prosedur hukum yang cacat? Ataukah kita sedang menertawai realita tragedi yang pernah kita dengar di suatu negeri antah berantah?
Meski tidak sampai masuk bui, The Tramp cukup banyak menderita saat diburu polisi. Di tengah kemiskinan dan kelaparan, lelaki kurus ini mesti mengerahkan tenaga sekuat mungkin buat menyelamatkan diri. Ia berlari ke sana kemari. Meski tidak sepenuhnya mengerti alasan ia diburu, ia tetap berlari.
Pelariannya berujung di panggung sirkus yang sedang bersiap menunjukkan pertunjukan sulap. Penonton yang tadinya merasa bosan mendadak sangat antusias setelah melihat tingkah The Tramp yang dikejar-kejar polisi di atas panggung. Trik-trik sulap yang seharusnya disembunyikan dari penonton justru dibuka secara acak oleh The Tramp. Penonton sirkus gembira bukan main sambil terkekeh-kekeh.
Lalu sebenarnya siapa yang sedang kita tertawakan?
Siapa yang sedang penonton sirkus itu tertawakan?
Dikemas dengan cukup cakap, film ini menyiratkan sebuah tanya: mengapa tragedi bisa membuat kita terhibur?
Mengapa nasib rakyat seperti The Tramp seolah tidak berdaya di hadapan otoritas hukum?
Eksploitasi Pekerja
Usaha bertahan hidup The Tramp dalam film ini, sesuai judulnya, melibatkan sebuah pertunjukan sirkus. Sirkus ini dipimpin oleh seorang lelaki paruh baya (Al Ernest Gracia). Ketika pemilik sirkus mengetahui bahwa keberadaan The Tramp menjadi magnet bagi penonton, ia pun menawarkan casting. Meski sudah menjalani seluruh proses casting, sang pemilik sirkus menolaknya.
Usai terkatung-katung dalam nasib yang tidak jelas, sang pemilik sirkus mendadak menyuruhnya bekerja setelah salah seorang kru produksi mengundurkan diri akibat tidak kunjung dibayar. Dengan setengah memaksa, pemilik sirkus mempekerjakan The Tramp sebagai penjaga peralatan hingga tak lama kemudian beralih peran menjadi aktor sirkus.
Selain relasi hirarkisnya dengan pemilik sirkus, The Tramp juga punya relasi yang cukup dekat dengan perempuan muda (Merna Kennedy), anak tiri pemilik sirkus sekaligus pemain sirkus yang kerap diperlakukan kasar oleh ayahnya. Dinamika hubungan The Tramp dan Merna berkembang hingga suatu ketika Merna menyadarkan The Tramp bahwa ayah Merna cenderung melakukan eksploitasi pekerja, termasuk pada The Tramp. The Tramp yang jadi bintang sirkus justru dibayar murah. The Tramp juga kerap dilibatkan dalam pertunjukan yang sangat beresiko tanpa jaminan keselamatan.
Sepanjang saya menonton The Tramp dalam permainan sirkusnya, saya seperti menonton realita pahit yang terasa dekat. Meski diperlakukan tidak adil, penonton paham betul bahwa The Tramp dan pekerja-pekerja lain di luar sana seringkali tidak punya banyak pilihan.
Ketimpangan Ekonomi
Relasi kedekatan The Tramp dengan anak pemilik sirkus tidak menjamin keduanya bersatu bak karakter penting dalam romansa klasik serupa. Meski sama-sama pekerja, Merna punya status sosioekonomi yang lebih tinggi sebagai putri pemilik sirkus. Ketulusan The Tramp membuatnya bekerja lebih keras lagi supaya dapat mengambil hati Merna, maupun ayahnya.
Meskipun seluruh usaha sudah dilakukan, Merna justru jatuh hati pada pemain sirkus pendatang bernama Rex (Harry Crocker). Dilihat dari penampilan dan perlengkapan yang dibawa, Rex bisa dibilang lebih berpunya.
Usai menyelamatkan Merna dari praktik kekerasan fisik yang dilakukan ayahnya, The Tramp kemudian dipecat dari pekerjaannya sebagai pemain sirkus. Merna yang turut melarikan diri dengan The Tramp justru membuat The Tramp jatuh pada dilema. The Tramp memandang tidak ada masa depan bagi mereka berdua. Pada penghujung film, The Tramp menemui Rex, memberikan cincin yang ia simpan untuk Merna, lalu menyuruh Rex menikahi Merna.
The Circus memang berhasil membuat saya beberapa kali tertawa lepas. Namun, film ini juga membawa saya pada momen-momen berpikir secara berulang-ulang. Bisa disimpulkan, isu-isu penting yang dibawa Charlie Chaplin pada tahun 1920-an nyatanya masih beresonansi kuat hingga nyaris seabad setelahnya.
Film yang membuahkan penghargaan Academy Awards bagi Charlie Chaplin sebagai sutradara terbaik, aktor terbaik, dan penulis skenario terbaik ini bak kristalisasi dari kutipan terkenal sang legenda.
“Life is a tragedy when seen in close-up, but a comedy in long-shot.”
Part-time writer, full time-doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan Wook, dan iced-Americano. Instagram @mariamonataliani
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!