Si Penyunting

Semerbak bau kopi memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma lembap kertas yang semakin menguning. Suara kipas angin pun kian sekarat, hanya memindahkan panas dari satu tempat ke tempat lain. Azam memandangi langit-langit yang lapuk dan sering bocor ketika hujan. Ia membaca sebuah naskah sambil mencorat-coretnya.

“Ini ceritanya mau ke mana sih?”

Begitulah selama sepuluh tahun hidupnya sebagai seorang penyunting. Ia bekerja di sebuah penerbitan bernama Aksara Jaya yang berkantor di sebuah ruko sempit bertingkat. Lantai dasar dijadikan ruang produksi dan gudang, sedangkan lantai atasnya dijadikan kantor. Di sanalah Azam bekerja.

Pak Burhan, pemilik penerbitan, selalu mengandalkan Azam untuk setiap naskah yang masuk. Ada naskah dari pensiunan aparat yang merasa hidupnya cukup bagus untuk dijadikan motivasi, ada seorang mahasiswa yang ingin terlihat intelek, ada juga seorang musisi yang mencoba peruntungannya dalam menulis.

Hari itu, Azam sedang menyunting naskah buku berjudul Delan 04.20. Buku ini ditulis oleh seorang musisi yang lagu-lagunya tidak laku, begitulah rumor yang beredar. Sebenarnya Azam bertanya-tanya mengenai angka yang terdapat pada judul, tetapi mungkin berkaitan dengan waktu, pikirnya.

Naskah ini menceritakan Delan, seorang ketua geng motor yang tengah mendekati seorang perempuan. Dalam beberapa hal, sosoknya mengingatkan pada Rangga dalam film Ada Apa dengan Cinta?. Bedanya, kata-kata romantis yang pada Rangga terdengar puitis dan memikat, pada Delan justru kerap terasa berlebihan dan menggelikan. Ia pun gemar meromantisasi kenakalannya—membangun citra bad boy yang terasa lebih dibuat-buat daripada memikat.

Azam membolak-balik naskahnya. Jemarinya membabat habis sepuluh halaman yang berisi gombalan cringe yang diucapkan berulang-ulang. Ia juga memangkas habis kegemaran tokoh dalam ramal-meramal. Azam tidak suka ramalan. Ia hanya percaya pada zodiak. Adegan yang meromantisasi kenakalan juga ia kurangi, apalagi dialog dengan nada yang menyeret. Aneh, pikir Azam.

Setelah tiga hari tiga malam dan menghabiskan serenteng kopi jagung, akhirnya naskah selesai dan bukunya segera terbit.

Delan 04.20_Final Draft

Lima bulan berlalu. Di tengah pengapnya kantor Aksara Jaya, terdengar teriakan Pak Burhan.

Yesssssss, akhirnya!” teriak Pak Burhan.

Dengan mata berbinar dan ketiak yang basah, Pak Burhan mendekati meja kerja Azam sambil melempar sebuah koran.

“Baca nih, Zam, baca! Buku terbitan kita akan dibawa ke layar lebar!”

“Wah! Yang tentang mahasiswa mesum kena kutukan di desa, Pak?”

“Bukan, itu mah bukan buku kita.”

“Oh, pasti yang tentang lima orang sahabat naik gunung, kan?”

“Bukannnnnnn, ini baca dulu!”

Azam mengambil koran tersebut. Ia membaca sebuah kolom berisi ulasan seorang kritikus terhadap buku berjudul “Delan 04.20.” Tulisan itu berisi pujian terhadap penokohan, alur cerita, serta majas yang digunakan dalam buku tersebut. Dalam ulasan tersebut juga disebutkan rencana bahwa novelnya bakal diangkat ke layar lebar. Ada pula transkrip wawancara kritikus dengan penulis novel tentang rahasia di balik kesuksesan buku tersebut. Penulis menjawab panjang lebar dan sibuk memamerkan bakat menulisnya.

Azam membacanya hingga selesai. Otot senyumnya terangkat sebelah. Ia meletakkan koran ke laci, lalu menyalakan rokok sambil menghela napas.

“Ada-ada aja.”

Empat bulan dua puluh hari berselang. Naskah kembali masuk. Kali ini dari seorang mahasiswa semester akhir yang sedang mengalami krisis identitas. Hampir setiap hari semua hal ia jadikan renungan: embun, perjalanan pulang, senja, hujan—khususnya pada bulan Juni—langit, daun, gunung, hingga laut yang sedang bercerita.

Ia menuangkan seluruh istilah di kepalanya—yang menurutnya keren—ke dalam naskah berjudul Manifesto Kognitif yang saat ini digenggam oleh Azam.

Azam membaca halaman pertama.

Ilmu merupakan perjalanan jauh ke dalam batin manusia yang pada dasarnya menjebak manusia dalam lorong ketiadaan.

Wuihhhh, sakti nih,” gumam Azam.

Ia membalik halaman.

Maka dari itukhh, trasendensikhhh epistemikkhhh berkaitankhh dengankhh metodekhh koherensikhh kognitifkhh dialektikkhh.

Azam mengerutkan dahi.

“Waduh, kalau ini kejauhan nih.”

Ia membaca kalimat itu sekali lagi.

“Yang gini-gini, sih, biasanya berakhir menjilat rezim.”

Azam kembali membalik halaman. Isinya tidak jauh berbeda. Hampir setiap halaman dipenuhi kata-kata yang membuatnya harus berhenti beberapa detik hanya untuk memastikan dirinya tidak sedang membaca skripsi.

Manusia dan semesta berada dalam suatu metanarasi dialektis—Coret.

Eksistensi merupakan konsekuensi imanen ontologis dari—Coret.

Kesadaran kognitif manusia terhadap eksistensi sosial adalah bentuk hegemoni…

Azam berhenti.

“Ini mau nulis buku apa mau nyantumin semua isi kamus, sih?”

Azam tidak mempermasalahkan penggunaan diksi-diksi tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika diksi-diksi tadi digunakan secara berlebihan. Terlebih, sebenarnya Azam juga tidak terlalu mengerti maknanya. Lagi pula, Pak Burhan menginginkan buku yang laku. Artinya, buku itu harus dapat dibaca oleh semua kalangan.

Jemari Azam kembali menari, ia menulis ulang delapan halaman menjadi empat halaman baru, memperbaiki setiap diksi yang tidak efektif menurutnya serta memangkas alur yang melompat-lompat.

Kalimat-kalimat yang sebelumnya harus dibaca dua kali diubah menjadi satu kali baca. Istilah-istilah yang sebenarnya hanya memperpanjang kalimat dihilangkan. Tetapi, renungan tentang embun tetap dibiarkan. Begitu pula bagian tentang hujan pada bulan Juni, senja yang hanya sepotong, dan laut yang sedang bercerita.

Setelah beberapa hari, naskah itu selesai. Azam menyerahkannya kepada Pak Burhan.

“Sudah, Pak.”

Pak Burhan membolak-balik beberapa halaman.

“Bagus nggak, Zam?”

“Lumayan.”

“Menurut lu bakal laku?”

Azam mengangkat bahu.

“Kalau sampulnya bagus, sih, mungkin aja, Pak.”

Pak Burhan mengangguk, lalu membawa naskah itu ke ruang produksi.

Beberapa bulan kemudian, ketika Azam hampir melupakan naskah tersebut, Pak Burhan kembali datang membawa koran.

“Zam!”

“Ada apa, Pak?”

Pak Burhan meletakkan koran di meja Azam.

“Lihat nih.”

Azam membacanya. Di salah satu halaman terdapat berita bahwa penulis Manifesto Kognitif baru saja memenangkan sebuah penghargaan sastra. Buku itu dipuji karena dianggap menawarkan gagasan filosofis yang berani dan menggugah kesadaran generasi muda dengan metafora estetis di dalamnya.

Azam membaca judulnya sekali lagi.

Manifesto Kognitif Raih Penghargaan Sastra Nasional.”

Ia terdiam sejenak.

“Lah, ini buku yang kemarin saya sunting setengahnya, kan?”

Pak Burhan tertawa.

“Berarti tangan lu manjur.”

Azam mengembuskan asap rokok.

“Padahal yang saya buang lebih banyak.”

“Yang penting dapet penghargaan, Zam.”

Azam melirik koran itu sekali lagi.

“Wah, selamat deh kalau begitu.”

Azam mengucapkannya dengan perasaan yang ia tidak mengerti. Ia mengembalikan koran kepada Pak Burhan, lalu kembali bekerja.

 

Sekian purnama berlalu, naskah kembali masuk. Kali ini datang dari seorang politisi yang sedang mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Judul naskahnya: Dari Rakyat, untuk Rakyat.

Azam membuka halaman pertama.

Saya lahir dari rahim rakyat. Maka dari itu, saya akan memperjuangkan hak-hak rakyat.

“Hmm, basi,” gumamnya.

Saya tumbuh dari keringat rakyat dan bekerja untuk rakyat.

“Hadeh, lagu lama kaset kusut.”

Saya berjalan bersama denyut nadi rakyat.

Azam berhenti membaca.

“Ini rakyatnya banyak banget, dah.”

Ia kembali membaca. Hampir setiap halaman ada kata-kata bualan pada rakyat, petani, buruh, ibu-ibu, dan anak muda. Di dalamnya juga terdapat cerita masa kecil sang politisi yang katanya hidup sederhana, satu telur dibagi lima, hingga menjadi anak singkong. Tidak lupa juga cerita mengenai perjuangannya semasa menjadi mahasiswa, hingga akhirnya memutuskan terjun ke dunia politik.

Azam menghela napas dan membuka halaman selanjutnya yang masih berisi janji-janji mengenai program yang ditulis panjang dan penuh kata-kata besar: 19 juta lapangan pekerjaan, makan siang gratis untuk anak sekolah, hingga koperasi berwarna merah putih yang digadang-gadang akan memperbaiki kesejahteraan rakyat.

Semuanya terdengar giung bagi Azam. Sepuluh tahun menjadi penyunting, sudah macam-macam naskah ia tangani, termasuk buku-buku politisi yang membuatnya hafal betul bunyi janji semacam itu.

Jemarinya kembali menyusuri papan ketik. Kalimat-kalimat yang terlalu panjang dipangkas, janji-janji yang terdengar berlebihan dikurangi, hingga beberapa paragraf yang hanya berisi pujian terhadap politisi tersebut dihapus seluruhnya.

Azam juga menemukan beberapa foto sang politisi yang tentunya sedang berjabat tangan dengan warga, ada juga yang sedang memanggul beras ataupun membawa sembako untuk warga.

Setelah beberapa minggu, naskah tersebut selesai. Bukunya terbit beberapa bulan sebelum pemilihan. 

Waktu berlalu, di ruangan yang pengap berbau cuka itu, Pak Burhan berteriak dari meja kerjanya.

“Zam!”

Azam menoleh

“Menang!” Pak Burhan mengangkat kedua tangannya yang terkepal, memperlihatkan ketiaknya yang basah sambil mendekati Azam.

“Emyu, Pak?” tanya Azam.

“Bukan, mana pernah Emyu menang, Zam.”

“Itu Pak Sahroni. Beliau menang pemilu! Nih, baca!” Pak Burhan melanjutkan sambil menyodorkan koran.

Azam mengambil koran tersebut. Di halaman depannya terpampang foto politisi itu sedang mengangkat kedua tangannya. Di bawahnya tertulis berita mengenai kemenangannya dalam pemilihan. Selain itu, terdapat wawancara mengenai perjuangannya, ucapan terima kasih kepada masyarakat, serta cerita tentang bagaimana buku tersebut menjadi bagian penting dari kampanyenya.

Azam membaca berita tersebut sampai selesai dan menutup koran.

“Hebat juga,” kata Azam.

Pak Burhan tersenyum.

“Kan lu yang nyunting, Zam.”

“Yaelah, Pak.”

Pak Burhan melengos entah ke mana.

Azam kembali bekerja dan membuka laci mejanya. Di dalamnya tersimpan tiga naskah. Delan 04.20, Manifesto Kognitif, dan Dari Rakyat, Untuk Rakyat. Ketiga naskah itu pernah memenuhi mejanya dengan coretan tinta merah. Ketiga penulisnya pun mendapatkan sesuatu: ada yang mendapatkan film, ada yang mendapatkan penghargaan, ada juga yang mendapatkan kursi. Azam menutup laci kembali.

Hari menjelang sore. Kantor Aksara Jaya semakin sepi. Pak Burhan sudah pulang, sementara suara mesin cetak dari lantai bawah mulai berhenti satu per satu. Azam masih duduk di depan komputernya. Entah mengapa ia tiba-tiba membuka aplikasi Microsoft Word dan membuat dokumen baru. Halaman putih muncul, kursornya berkedip, dan suara kipas sekarat mengganggu isi pikirannya. Azam menatap layar cukup lama.

Ia merenung. Selama sepuluh tahun ia habiskan waktunya membaca tulisan orang lain. Ia tahu cara memperbaiki kalimat, membuang kata yang tidak perlu, memperbaiki alur, hingga membuat tulisan berantakan menjadi enak untuk dibaca. Namun, sekarang, ketika harus menulis sesuatu sendiri, ia justru merasa bingung.

Ia mengetik satu kalimat, kemudian menghapusnya. Mengetik lagi, dihapus lagi.

Azam menghela napas.

“Gimana sih orang-orang bisa nulis?” ujarnya dengan frustrasi. 

Ia menatap halaman kosong itu.

Ia bangkit dari kursinya, menyeduh kopi, lalu duduk dengan secangkir kopi di meja kerjanya. 

Kemudian ia mulai mengetik.

Perlahan tapi pasti, satu demi satu kalimat memenuhi halaman. Kali ini ia tidak terlalu memikirkan apakah tulisannya bagus atau tidak. Ia hanya ingin menulis apa yang ada di kepalanya.

Ia menulis cukup lama sampai suara mesin cetak di lantai bawah benar-benar berhenti. Setelah selesai, Azam membaca kembali tulisannya dari awal. Beberapa bagian membuatnya berhenti. Ia membaca satu paragraf sekali lagi, lalu mengernyit.

“Ini ceritanya mau ke mana, sih?”

Tangannya meraih pena merah yang sejak tadi tergeletak di samping papan ketik. Ia mencoret beberapa kalimat. Menulis ulang bagian lain. Beberapa ia hapus, beberapa ia biarkan. Setelah itu, ia kembali membaca dari awal.

Sebelum mematikan komputernya, ia menyimpan terlebih dahulu naskah yang ia tulis. Ia menatap dokumen itu sebentar. Azam kemudian mengarahkan kursor ke bagian atas dokumen. Ia memastikan kembali judul yang telah ditulisnya, lalu menekan tombol simpan.

 

Penyunting_Final Draft

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!