

Lihatlah bagaimana dirimu dipuja, Lottie.
Betapa serakahnya kau akan pujian dari manusia-manusia itu. Hanya karena kulitmu putih bersih, lahir dari tangan yang pandai mengubah bongkahan porselen menjadi boneka yang manis, dan rambut pirangmu seperti cahaya mentari. Manusia itu sungguh mudah dikelabui.
Apa mereka tidak tahu bahwa Lottie picik seperti ular?
Tentu,mereka hanya tahu kita adalah objek koleksi museum. Bedanya, ia dipuja-puja sementara aku dicaci-maki. Dalam sehari ini, kata “jelek”, “jadul”, “seram” telah dilemparkan kepadaku berpuluh-puluh kali.
Sinar lampu museum yang seharusnya menyinari seluruh ruang koleksi boneka dari penjuru dunia, justru hanya tertuju pada Lottie. Sorotan cahaya itu seperti berpihak pada sang primadona yang sesungguhnya. Tempat tinggalnya saja berupa kotak luas dengan meja dan kursi ala gazebo, pemandangannya pun dibuat seakan ia berada di taman.
Perlakuan itu tidak berlaku padaku. Aku hanya salah satu dari koleksi boneka yang dipajang karena sejarahnya, bukan kecantikannya. Tekstur kulitku terlalu kasar sebab terbuat dari kayu, garis ukiran wajahku terlalu absurd untuk disebut sebagai wajah, dan pakaianku hanya berupa kain kemben batik sekenanya. Bisa-bisanya dulu penciptaku berpikiran melahirkan boneka seperti ini.
“Sudahlah, Ayudira. Kita ini hanya boneka lokal,” tukas tetanggaku yang kebetulan dipajang di satu kotak yang sama.
Cih. Aku tidak butuh hiburanmu. Mentang-mentang kita sama-sama jelek. Hanya saja kau terbuat dari kumpulan daun kering hingga sering disangka boneka voodoo. Bahkan kau sendiri tidak bernama. Bisa-bisanya masih berhati luas seperti itu.
Apa kau tidak tahu arti dari senyum manis Lottie? Senyum manis itu menyimpan kepicikan dan keangkuhan. Jika tidak ada manusia di sini, warna asli senyum itu akan menunjukkan taringnya. Tinggal tunggu waktu saja, jam tutup museum tinggal beberapa menit lagi. Kau akan melihat lengkung bibirnya naik semakin lebar.
Malam hari menjadi waktu neraka untukku. Di balik kegelapan, di situlah semua jenis warna tampak, terutama Lottie.
“Sudah berapa pujian kamu dapatkan, Nona Ayudira?” belum aku menjawab pertanyaannya, Lottie terlebih dahulu menjawab pertanyaannya sendiri.
“Oh, tidak ada, ya? Apa kau sejelek itu? Aduh, menyedihkan sekali!” lalu suara tawa cemprengnya menggema ke seluruh sudut ruangan.
Aku bisa merasakan betapa menusuknya tatapan mata biru Lottie ke arahku.
Tidak ada satu pun yang berani berkomentar atau membelaku. Para pecundang ini terlalu takut pada Lottie. Jika ada suara lain berucap saja, ia akan segera menggertak, “Siapa suruhmu bersuara?! Kalau kau bersuara sekali lagi, risiko akan menantimu!”
Gertakan Lottie memang terdengar main-main, tetapi sesungguhnya tidak. Ia pernah sengaja menempatkan dirinya di posisi yang rawan. Misalnya, sengaja menjatuhkan diri dari kursinya dengan kepala berada di ujung kotak pajangannya. Jika tersenggol sedikit, kepalanya bisa retak atau lebih parahnya lepas. Syukurnya, ada salah seorang pengurus kami segera membetulkan posisi itu. Jadi, rencananya segera pupus. Seharian itu, suasana hatinya sangat kacau balau.
Di balik wajah manis, Lottie adalah boneka paling sinting yang pernah kujumpai. Aksen bicaranya seperti kumur-kumur itu menambah kesintingannya. Jika bukan karena kecantikannya, aku yakin ia akan dibenci oleh para pengunjung.
“Hei, Nona Ayudira!” Lottie memanggilku layaknya budak. Ia lupa bahwa negara asalnya sudah tidak menjajah negara ini.
“Jangan bisa-bisanya kau santai. Ingat, kau bisa masuk gudang kapan pun dan dimakan rayap di sana. Oh, kenapa aku begitu yakin? Atasan kita sudah muak melihat boneka jelek sepertimu!”
Sialan. Mulut boneka satu ini memang perlu diajari tata krama. Namun, ia tidak salah. Ancaman masuk gudang adalah sumber ketakutan untuk semua boneka, terutama aku. Rupaku yang jelek ini bisa menjadi syarat untuk masuk ke sana. Bagi kami, gudang adalah tempat paling mengerikan. Di situ, kita akan perlahan dimakan oleh rayap atau lapuk. Jika beruntung, paling hanya debu menyelimuti kita bertahun-tahun dan terlupakan di pojokan.
Memang gelapnya ruangan ini membutakan pandanganku. Namun, instingku tidak buta. Jelas aku tahu bahwa Lottie sedang tersenyum. Senyum yang bisa membunuh hati orang dalam sekali serangan.
Ketukan itu menyadarkanku dari lamunan di siang bolong. Sebuah jari keriput mengetuk kaca tepat di hadapanku. Pelakunya adalah seorang pria tua. Sepertinya, dia bukan orang lokal. Rambut berubannya terlalu putih, matanya yang sepuh berwarna hijau seperti batu zamrud—mata yang jarang dimiliki oleh orang lokal—serta garis wajahnya menunjukkan bahwa dia adalah pria tampan di masa mudanya. Garis keriput di bagian atas bibirnya pun melengkung ke atas, seperti sedang tersenyum.
Jangan salah, aku memang boneka. Namun, puluhan tahun hidup dan melihat manusia, aku belajar membedakan mana yang cantik dan jelek. Dari pelajaran ini, aku sadar bahwa si cantik mendapatkan karunia dan si jelek mendapatkan kutukan.
Pria tua itu menegakkan tubuhnya dan berbicara dengan seorang pria muda. Mereka sama-sama berpakaian rapi. Bedanya, pria tua itu mengenakan… apa itu namanya? Jas? Mengapa ada enam kancing pada jasnya? Ah, terkadang aku tidak mengerti gaya berpakaian manusia.
“Sepertinya dia kolektor … ” bisik salah satu koleksi di sebelahku. Bukan, bukan si boneka-mirip-voodoo. Boneka ini bentuknya seperti bola alias hanya ada kepalanya.
“Kolektor?” alisku sedikit menaik dengan bingung.
Boneka bola itu memantul naik-turun, seperti mengangguk. “Iya, biasanya manusia kaya yang suka koleksi hal-hal tidak berguna. Ini yang kudengar dari yang lain, sih … ”
Oh, begitu. Pantas bentuk jas pria tua itu aneh.
Pria tua itu sekarang bercakap-cakap dengan si pemilik museum ini—aku tahu karena dia pemuja nomor satu Lottie—dalam bahasa asing yang tidak kukenal. Bibir pria itu masih saja mengulas senyum. Aneh, senyumnya sejuk sekali. Sudah lama aku tidak menemukan manusia memiliki senyum seperti itu.
Di tengah percakapan itu, mata si pemilik museum terbelalak sampai bola matanya bisa keluar kapan saja. Bola mata yang nyaris keluar itu melirik ke arahku seperti tidak percaya sebelum kembali seperti semula.
Sial. Mengapa aku tidak bisa berbahasa asing sama sekali? Hanya bahasa Indonesia dan Jawa yang kupahami.
Kadang mataku melirik ke Lottie, berpikir jika ia berpotensi terpilih menjadi koleksi si pria tua. Aku rasa ia pasti paham bahasa itu, karena penciptanya adalah orang asing. Tunggu sebentar …
Mengapa ia menatapku dengan sinis?
Ada apa ini?
Sekarang, aku disimpan dalam sebuah kotak kayu yang berdinding tebal. Dalam kegelapan ini, rasa takut menjalar ke seluruh tubuhku. Pikiranku mulai melayang-layang liar tanpa tujuan, seperti kumpulan gelembung yang beterbangan. Dari semua gelembung itu, ada gelembung besar. Gelembung itulah yang berisi ketakutan terbesarku, yaitu aku dibuang ke suatu tempat.
Kata-kata terakhir Lottie terngiang-ngiang dalam pikiranku. “Memang kau sejelek itu, ya? Pantas kau di dalam kotak itu selamanya.”
Sungguh, Lottie. Andai aku tidak bisa menahan diri dan terprovokasi oleh ucapanmu, pasti aku akan membuat tubuh porselenmu hancur lebur. Wajah manismu akan retak atau, jika perlu, sampai tidak berbentuk. Semua pemujamu akan bersedih, terutama si pemilik museum. Aku ingin melihat mereka meraung layaknya orang gila yang tenggelam dalam kesedihan.
Sudah tidak terhitung berapa lama di dalam kotak ini. Selama di dalam kotak, tubuhku berguncang sana-sini. Jika bukan boneka, pasti seluruh isi perutku akan kumuntahkan. Karena tidak tahu akan ke mana aku dibawa, rasa mual itu berubah menjadi gelisah.
Aku gelisah jika perlahan melapuk di dalam kotak ini. Para rayap datang dan melihatku layaknya santapan lezat untuk mereka. Bau tubuhku akan menjadi tengik.
Kekalutan pikiran itu sirna saat sebuah cahaya menyelinap masuk ke dalam celah kotak. Cahaya itu perlahan membesar saat penutup kotak dibuka. Saat mencoba membiasakan pandanganku dengan cahaya yang masuk setelah lama terbiasa dengan gelap, aku melihat bayangan samar-samar dari sebuah wajah di atasku. Perlahan bentuk wajah itu tertampang jelas.
“Halo, Putri Ayudira.”
Suara serak dan sepuh itu. Si pria tua berjas aneh itu, kah?
Iya, itu dia. Aku mengenal senyum sejuknya. Senyum yang membuat jantung boneka ini berdegup layaknya gadis perawan yang baru mengenal cinta.
“Akhirnya, aku menemukanmu.” Tubuhku perlahan diangkat dari kotak itu. Sentuhan pria itu sangat hati-hati terhadapku, seolah-olah aku rapuh. Padahal, dulu para pengurus museum menyentuhku dengan kasar saat melakukan rekonstruksi seadanya. Namun, sentuhan ini seperti dekapan seorang kekasih yang sangat lama memendam rindu.
Pria tua itu—namanya Tuan Jansen saat seseorang memanggilnya untuk suatu urusan—menaruhku di sebuah kotak kaca. Memang tidak luas, tetapi setidaknya, dudukannya terbuat dari bantal. Rasanya sungguh nyaman, padahal aku hanyalah boneka. Aku ditempatkan bukan di ruang koleksi, tetapi di ruang asing yang tidak kukenal. Sepertinya ini kamar pribadi…? Karena ada tempat duduk yang sangat luaasss. Apa itu namanya, ya? Kasur?
Entahlah, aku harus mempelajari susunan ruangan ini. Bagaimana pun, ini tempat tinggalku mulai sekarang.
Kehidupanku bersama Tuan Jansen sangatlah baik. Dia memperlakukanku layaknya kekasih.
Tuan Jansen melakukan rekonstruksi kepadaku. Kali ini tidak seadanya atau asal-asalan. Dia sungguh-sungguh meminta seseorang untuk merekonstruksi seperti bentuk yang seharusnya. Kain kembenku diganti menjadi kain dengan corak lebih cantik. Kepalaku dihias dengan centhung dan kembang goyang berwarna emas.
Satu hal paling penting, bentuk wajahku tidak absurd seperti dulu. Bibir yang penuh, hidung kecil, dan garis dagu tegas. Itu sudah menunjukkan bahwa aku memiliki bentuk wajah yang jelas, meskipun tidak secantik Lottie.
“Lihat, kamu makin cantik, Ayudira.” pujian Tuan Jansen membuatku tersipu. Jika pipiku bisa merona seperti Lottie, pasti aku akan lebih cantik.
Layaknya seorang kekasih yang batinnya sudah terikat satu sama lain, senyum Tuan Jansen menjadi lebih sendu.
“Kamu tidak perlu khawatir dengan boneka-boneka itu, Ayudira. Selama kamu berada di dekatku, kamulah satu-satunya boneka paling kusayangi. Walaupun boneka Eropa itu terlihat lebih cantik, aku akan tetap memilihmu.”
Oh, Tuan Jansen. Mengapa kau tahu bahwa aku selalu membandingkan diri dengan Lottie?
Apa wajahku terbaca dengan jelas?
Bagaimana aku bisa membalas kebaikan hatimu?
Kalau kau mencintaiku seperti ini, aku, sebagai boneka, akan belajar mencintai diri sendiri dan mencintaimu. Aku juga akan berjanji untuk berada di sisimu sampai napasmu yang terakhir. Jika bisa, aku ingin ikut bersamamu ke alam kubur. Memang aku hanya boneka yang tidak seharusnya berarwah, tetapi aku ingin kita bisa istirahat bersama di sana.
Selamanya.
Lahir dan tinggal di Jakarta. Suka menulis sejak kecil, karena terlalu banyak berimajinasi sejak dulu. Sudah menulis beberapa puisi dan cerpen, tetapi baru memberanikan diri untuk publikasi cerpen ke media daring. Instagram dan X: @liliraven06
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!
BAGUUUUUSSSSS BANGEEEEEEETTTTTT ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️