Setelah Semua Jalan Habis

Setelah semua jalan habis

Lalu kita tahu soal apa semua ini

Seketika semuanya bukan apa-apa

Selain “oh” panjang dan entah apa lagi

Satu-satunya yang pasti, katamu

Adalah tidak ada yang pasti

Betapa oximoronik

keraguanku menjadi satu-satu pegangan

menyaksikan nabi-nabi

lahir seperti benih nyamuk di awal

musim-musim kering

namun jalan belum habis
“oh” betapa panjang

Persoalan Menulis Puisi

Setelah mengucup sari jeruk gula
dari mulut kekasihnya ia bilang:
aku tak bisa menulis lagi, sayang.

udara yang lepas
dari mulutku telah kehilangan rasanya.
Sisa debu saja. Sisa penat saja.

Tuhan menciptakan hal-hal besar
dan menyisakan hal-hal kecilnya
untuk para penyair.

Dan hal-hal itu,
kekasihku,
sudah habis.
Tak ada lagi yang mungkin kutulis.

Hidup jadi jalan panjang yang aneh,
penuh teror, dan ketidaktahuan.
Dan aku tetap tidak bisa menulis apapun tentangnya.

Di Suatu Meja dengan Ilay

-Kepada Nurdiana

Ilay memesan sepi. Aku memesan waktu.
Ilay bermain rahasia, kusimpan kegugupanku dalam saku.

mata kita bertemu 
masih mata yang sama,
tapi tanpa kamu di dalamnya.

“Ilay, Ilay, lima sabaqtani?”

Ajal

yang tersisa di hari-hari terakhirmu

angin menggoyang pucuk-pucuk padi
menyeret kerumunan kangkung yang serba tanggung
cuit panjang burung-burung
menyeberang sawah, meski di bawah kubah langit
menggema segala macam suara

Semua cerita pasti selesai
Seperti tiap pertemuan bakal lerai

Maut menjalar dari bawah batangmu
naik ke perut kosongmu perlahan
kau rasakan apinya menjilatjilat di dinding

jantungmu

kau haqqul yakin,
betapa keabadian begitu mengerikan
dan terlampau berlebihan untukmu.

Kefanaan juga mimpi yang tidak kalah mengerikannya.
Kau teringat Pascal, tapi kau benci pertaruhannya.

Kausimpan semuanya hari itu

Sebelum api sampai ke sumsum balungmu.
dan ingatanmu hanya abu sebelum diterbangkan waktu

Angin menggoyang pucuk-pucuk padi,
menyeret gerombolan kangkung ke dalam kehendaknya.

gema cuit burung-burung atau kemurungan
yang terus mengekalkan dirinya dalam larik-larik ini:

Kepergian adalah kepergian.
Kekekalan tidak menjanjikan apa-apa.
Sementara kefanaan masih belum bisa
kita terima sepenuhnya.

Aku Tidak Bisa Merasakan

aku tidak melihat apapun.

gambaran-gambaran besar,

jejaring yang terhubung,

dan istilah-istilah singkat yang memudahkan.

Aku hanya ingin melihat hal-hal kecil lagi subtil

sebiji sendok terasing dalam kelompok garpu, warna biru yang melepuh di pangkal termos itu. atau sebotol kecap gelap yang memantulkan warna lampu dan membuatnya berkilau sendiri di antara semua benda itu.

Aku tidak mendengar apapun.
Suara-suara berjejalan ke dalam kamar kecil telingaku,
mereka bingar dan membuatku begitu kesepian dan bosan.

Aku tidak mencecap apapun.

Semua yang asin-asin  
yang manis-manis adalah
persoalan yang sesepele kenyataannya.

Di belakang gerobak itu, beberapa sentimeter,
daerah bayang-bayang ditinggal cahaya lampu jalan
yang kuyu.

Seperti tuhan meninggalkan
orang-orang gampang bosan.

Hal-hal terjadi, tapi tidak memberikanku
cukup waktu untuk menakik hakikatnya.

di kamar tidurmu

jika lampu kamarmu menutup mata
dalam batinku mereka nyala
mesin ingatan mulai bekerja
malam mendadak kerdil di kepala

Dunia tak pernah reda
dari peperangan manusia

Sedang aku tidak tahu dari mana
hujan melankolia ini bermula

Benarkah kenangan bekerja
lebih baik pada yang terluka

Ingin kujahit semua ingatan kita
yang koyak-moyak

Kutulis sajak,
kubayangkan tanganmu
di tanganku

mematikan lampu

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.