“Lebih sakit mana, dicium kereta api atau di-PHK sepihak tanpa kejelasan?” cetusnya sekali waktu. Kepulan asap tebal dari rokok kretek yang dia hisap menyelimuti wajahnya. Ia pun batuk berkali-kali, tapi keduanya tak jadi penghalang dirinya untuk terus ngoceh.

Ia terus saja bicara. Seperti kemarin-kemarin, ia mengeluh dan aku setia mendengarkannya. Untuk beberapa alasan, aku rela seperti itu. Aku tak berharap imbalan apapun, entah uang atau gantian dengar keluhan.

Faktanya, aku senang menyimak ocehannya. Jujur saja, ia pendongeng yang baik. Sementara aku pendengar militan yang boleh jadi bakal sakaw kalau tidak mendengar ceritanya barang sehari. Sungguh, aku tidak berlebihan. Se-ekstrem itu? Iya!

Ocehannya rupa-rupa. Ragam corak. Itu yang aku suka. Sekali waktu, ia ngeluh soal upahnya yang jauh dari kata layak. Gaji, menurutnya, tak lebih dari secarik kertas bulanan yang harus ditanda tangan, sedangkan uangnya raib duluan jauh-jauh hari.

“Habis oleh kasbon, bayar kontrakan, bayar listrik, bayar angsuran, ongkos, dan makan sehari-hari, belum lagi kebutuhan istri. Ah!” ungkapnya tempo hari. Lalu, ia mulai mengumpat, Anjing! Umpatan yang lalu mengantarnya pada suasana hati yang baru. Ia kontan seperti bahagia. Ada semangat baru yang tiba-tiba terbit. Semangat yang membuatnya ingin pergi saat itu juga, meninggalkanku seketika dan membuatku bertanya, “Mau ke mana?”

“Cari utangan lagilah. Gajiku sudah habis pula bulan ini. Bahaya kalau istri ngomel. Lebih gawat dari perang lawan Vietnam, kawan,” katanya ceria. Ia bergegas. Kulihat tampak belakangnya, balutan kemeja pabrik dan celana jeans kumal. Tak lama, hilang sudah ia dari pandangan.

Namun hari ini, ia lebih muram dari biasanya. Lebih kusam juga. Seperti tak mandi-mandi beberapa hari. Kopi hitam yang diminumnya hampir tandas. Puntung rokok berserakan di asbak yang tergolek di depannya.

Sudah beberapa hari ini tak kulihat dia mondar-mandir di lingkungan pabrik macam biasa. Baru kulihat dia sekarang. Itu pun di warung kopi depan pabrik tempat kami biasa ngobrol.

Kusapa dia. Cukup lama hanya hening, hingga akhirnya keluar juga ocehan yang rupanya jauh lebih deras dari biasanya.

“Aku di-PHK! Manajemen bilang, tak mau memperpanjang kontrakku, entah karena alasan apa,” katanya. Tangannya gemetaran. Badannya berguncang. Ia mulai menangis.

Berikutnya, ia menuturkan siksaan yang ia dapat selepas putus kerja. Berlipat-lipat macam rente para lintah darat. Kontrakan tak terbayar, motor diambil paksa, lilitan hutang, istri minta cerai.

Si Kusam ini sadar kalau ia jatuh sejadi-jadinya. Tapi, ia emoh pulang kampung. Tak sudi dibilang pecundang. Buatnya, menggelandang jauh lebih baik.

Tapi sebagai gelandangan, menurutku ia idealis juga. Setidaknya, ia tak mengatakan di mana ia ‘tinggal’ sekarang. Gelandangan setidaknya punya tempat bermukim, toh? Pikirku begitu. Ia tak bicara apapun soal itu. Idealis sekali. Orang miskin itu berprinsip.

Setelah puas ngoceh, ia mengumpat, ANJING!

Kupikir ia akan segera senang seperti biasanya. Tapi tidak, kali ini dia tetap saja murung. Dia pun tak beranjak ke mana-mana. Beku seperti mayat.

Aku harus pamit, walau sebetulnya masih betah. Shift kerjaku sebentar lagi tiba. Kutepak bahunya sembari izin undur diri, “Aku kerja dulu, kawan!”

“Ya!” Ia menjawab singkat. Kemudian diam lagi.

Kutitipkan uang sekadarnya untuk menyambung rokok dan makan untuk dua hari kemudian. Ia menolak.

“Aku miskin. Bukan pengemis.” cetusnya. Matanya menyala. Cermin batin bergejolak.

Aku paham. Saat tiba di titik nadir dan kehilangan segalanya, apa yang kita punya? Harga diri. Hal terakhir yang bagi orang-orang tertentu akan dipertahankan bahkan apapun taruhannya.

Kutarik kembali uangku segera. Biar kopi dan rokoknya saja di warung ini yang kubayar. Traktiran tak akan mencederai harga diri, kan?

Derap langkahku diantuk jeda saat ia bertanya, “Apa yang paling kau mau sekarang ini?” Pertanyaan yang kuyakini harus ditimpa jawaban.

“Aku ingin segera diangkat jadi karyawan tetap,” kataku jujur. “Kau?”

“Aku ingin mati,” katanya. Jawaban yang kurespon dengan senyum heran. Spontan.

“Kenapa?”

“Sejak Tuhan tak menjawab do’a-do’a, ah, biar kutanya sendiri langsung kepada-Nya,” ujarnya.

Ia seperti sumringah. Bahkan, bisa-bisanya pergi duluan dan meninggalkanku belakangan setelah mewasiatkan kesimpulan yang menurutnya adalah hasil olah pikiran terbaik sepanjang hidupnya. “Dicium kereta api lebih baik daripada di-PHK tanpa kejelasan,” katanya sesaat sebelum pergi. Dia berlari. Entah ke mana.

Barangkali, bertemu Tuhan seperti yang dia bilang. Siapa tahu? Kalau iya, aku akan kangen sekali. Sekangen menunggu gaji yang beberapa minggu depan baru akan turun.

Profil Penulis

Widdy Apriandi
Widdy Apriandi
Penulis adalah suami siaga, barista dan kerja apa saja yang penting asoy