

Setelah Batang Kuranji meluap
Memuntahkan genangan dosa
Ia menjilat selaput bukit-bukit
Sisa longsoran sisa kenyataan
Kemudian langit pagi lebih garang
Tak ada yang sembuh dalam satu malam
Matahari enggan menyinari tubuh kota.
Cukup sekali bercinta, dan
Ia lebih dalam mengecup udara
Menumpahkan tanah air.
2026
“Ah, nikmatnya!” kata suara dalam
Perut keroncong bapak
Menatap antrean tamiya-tamiya
Gagal tanding.
“Ah, nikmatnya!” kata suara dalam
Pikir kosong bapak
Melajukan becak gagal mesin
Sebab ombak air banjir ibu kota.
“Ah, nikmatnya! kata suara dalam
Kepul asap rokok bapak
Sudahlah tak berpenumpang, mesti
Pula menarik beban kepala keluarga
“Ah, mauku tak hidup saja. Nikmatnya!”
Kata siapa, Pak?
2026
Kami yang kini terbaring antara jagung dan sawit
Tidak bisa teriak “kopi” dan angkat rokok lagi
Tapi, siapakah yang masih mendengar bencana kami,
Terbayang kami hancur dan berpatah hati?
Kami bicara padanya dalam deras hujan langit hitam
Jika nurani tak berasa dan waktu terus menghantam
Kami mati sia-sia. Yang tinggal cerita diliputi media.
Baca, bacalah kami.
Kami sudah tanam apa yang kami punya
Tapi tak ada yang selesai, tak ada apa-apanya
Kami sudah kasih kami punya nyawa
Belum ada yang tumbuh, belum mampu mempertaruhkan arta
2025 kayu meronta.
Kami cuma nama-nama berhamburan
Tapi adalah alasannya
Merekalah lagi yang tentukan sikap judul-judul berantakan
Ataukah nyawa kami hilang untuk kepedihan
Kengiluan dan ratapan
Atau untuk kekuasaan?
Kami tidak bisa tahu, tidak lagi tahu apa-apa.
Siapalah sekarang yang membaca
Siapalah yang sekarang membaca
Siapalah yang membaca sekarang.
Kami hadir padanya dalam berisik di angin badai
Jika nurani tak berasa dan waktu terus menghantam
Kami mati sia-sia. Yang tinggal cerita diliputi media.
Baca, bacalah kami.
Daras, daraskanlah jejak kami.
Menjaga batang air
Menjaga lereng akar
Menjaga bumi liar.
Kami sekarang gugur
Berilah kami doa
Berjagalah terus di keras jalan raya.
Baca, bacalah kami
Yang tinggal sisa-sisa nama ditimbun lalu
Beribu kami terbaring antara jagung dan sawit.
2026
Banda Kali
Aku kembali ke Banda Kali. Di bawah batang pohon seri, meminum kelapa muda dan sepiring lengkitang. Orang-orang bilang: Jangan duduk sendirian, atau kali bisa berang. Mengapa demikian? Bukankah kali yang paling bisa mengerti. Untuk tenggelam dengan batu-batu di saku kanan-kiri.
Namun, Banda Kali tak juga mengirim arti. Tak pernah sampai sampan suratnya dari Bukit Limau Manis. Barangkali suratnya tersesat di kali-kali yang lain. Barangkali orang-orang benar, kali bisa berang kala sendirian.
Saat suapan terakhir, ponselku bergetar. Kubaca pesannya: Tinggalkan batu-batu kecilmu, keganasan bah akan tiba, surat itu sudah basah melebur. Banda Kali mengenang waktu yang tercabik. Semestinya, sampan surat itu berisi ramalan cuaca. Tidak adakah sampan yang selamat?
Aku menjauh dari Banda Kali. Dengan sigap, air menggenang kota, menjalar keluar bendungan. Banjir mengejar ruang-ruang hampa. Kali ini bukan main berangnya, melampaui sampan surat 1688.
2026
Lahir dan tumbuh di Sumatra Barat. Instagram @sekarapidali.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!