Sepuluh Menit Menjelang Kematianmu

Aku tidak setuju dengan tuduhan semua lelaki itu buaya. Buktinya, aku adalah lelaki setia yang menanggung lara karena pengkhianatan seorang istri. Kenapa istriku berpaling pada lelaki lain yang secara fisik dan materi jauh di bawahku?

Aargh!”

Kuacak rambut ini dengan kasar. Andai saja perasaan perempuan bisa di-setting menggunakan algoritma, mungkin semua menjadi lebih mudah. Lelaki sepertiku hanya perlu memenuhi tiga indikator seperti tampan, kaya, dan setia dan aku sudah punya ketiganya!

Sayangnya, sejak bumi ini dilahirkan hingga nyaris berakhir, tidak ada satu ilmuwan pun yang berhasil menciptakan rumus pasti tentang perasaan seorang perempuan.

Teman-temanku bilang aku bodoh. Mereka menyarankan untuk meninggalkan istriku Daisy dan mencari perempuan lain yang lebih cantik. Toh, wajah blasteran Arab-Indonesia milikku mampu membius kaum hawa. Ditunjang dengan penampilan kasual sebagai CEO sebuah mature company yang bergerak di bidang data analis dan hobiku bermain bass. Romantic Man. Perfect.

Mencari pengganti Daisy memang gampang, yang rumit itu adalah perasaanku. Hati ini hanya satu dan telah menjadi milik Daisy. Tidak pernah muncul rasa tertarik sedikit pun pada perempuan selain Daisy.

Aku mencintai semua hal yang ada pada diri Daisy. Wajahnya yang imut, perhatiannya, dan sikap periangnya. Daisy itu lucu natural yang membuat keheningan duniaku terpecahkan. Aku merasa menjadi lebih hidup ketika berada di dekatnya.

“Jangan kerja malam terus-terusan, Allen. Tidur malam tidak bisa diganti saat siang. Sayangilah tubuhmu sendiri,” sarannya dengan bibir mengerucut. Tampak sangat lucu dengan bando kelinci dan babydoll motif pokemon berwarna mencolok.

“Aku tidur dulu, Len. Segeralah menyusul,” pintanya setiap malam.

“Aku tidak akan menyusul. Besuk ada meeting dengan marketplace oranye. Wajib presentasi analisis algoritma.”

Daisy mencebik lagi, lalu mendaratkan sebuah kecupan di keningku. Kuhirup dalam-dalam aroma bergamot yang menyegarkan. Dia kemudian pergi tanpa marah-marah. Itulah keunikan Daisy yang tidak dimiliki perempuan lain, manja tapi pengertian. Untuk membuatnya senang, aku membawakan tas branded keesokan harinya.

Satu-satunya hal yang kubenci dari Daisy adalah terlalu ramah pada semua orang, termasuk kaum adam. Nyaris tiap malam dia diantar pulang oleh seorang lelaki. Aku juga pernah memergoki mereka makan siang berdua. Lelaki itu mengacak lembut rambut Daisy dan dibalas dengan pukulan manja di lengannya. Aku yakin hubungan mereka lebih dari sekadar teman.

Sejak kejadian itu, aku benar-benar merasa muak pada istriku.

Apa yang tidak kuberikan kepadanya selama ini?

Sejak menikah lima tahun yang lalu, aku memberi Daisy sebuah hunian yang nyaman dan asri. Jatah tiap bulan yang lebih dari cukup untuk keperluannya, tapi dia nekat bekerja. Sudah kusuruh resign, tapi katanya untuk mengusir rasa sepi dan eksistensi diri.

Satu lagi hal berharga yang kuberikan kepadanya, yaitu kesetiaan. Jarang ada lelaki tampan dan mapan yang hanya mencintai satu wanita. Lelaki kaya biasanya suka bersenang-senang dengan beberapa perempuan cantik. Aku tidak bisa. Aku tidak menyukai tempat-tempat hiburan yang ramai bersama perempuan yang entah sudah dipakai oleh siapa saja.

Lebih menyenangkan berada di rumah bersama perempuan yang hanya memberikan kesucian diri dan hatinya untukku. Tapi harapan sederhana itu kini dipatahkan oleh seorang Daisy. Dia memberikan cinta dan kehangatan yang seharusnya hanya untukku kepada lelaki lain.

Aku menghukumnya dengan bersikap dingin. Berharap dia mengerti betapa terlukanya batinku tanpa harus teriak, marah-marah, atau menangis di hadapannya. Aku tidak bisa melakukan hal itu. Pertama karena aku sangat menyayangi Daisy. Kedua, aku lelaki tenang yang tidak mengumbar kemarahan. Ketiga, aku lelaki tegar yang tidak meneteskan airmata.

“Malam minggu nanti, kita nge-date di mana, Len?”

Nge-date setiap malam minggu adalah kebiasaan kami sejak menikah. Lebih tepatnya Daisy yang memintanya dan aku mengalah untuk menurutinya. Sebenarnya menurutku aktivitas itu tidak penting. Toh, kami bisa menghabiskan waktu berdua hanya di rumah saja. Sama-sama berdua, kan? Kenapa harus mencari tempat-tempat romantis?

“Aku tahu tempat romantis yang instagrammable. Kita bisa membuat foto berdua yang bagus. Biar seluruh dunia tahu kalau aku punya suami tampan.”

Daisy tertawa cekikikan. Aku sebenarnya senang dengan tawa riangnya itu, tapi berusaha kutahan demi memberinya hukuman.

“Tidak ada nge-date lagi. Sekarang dan seterusnya.”

Kutekankan tiga kata terakhir hingga membuat Daisy bungkam. Kulihat bola matanya yang sipit membelalak. Aku tidak tahan dengan tatapan seperti itu. Bisa-bisa aku luluh untuk mengiyakan semua pintanya.

Cepat-cepat kuayunkan langkah sebelum rasa kasihku pada Daisy menjebol kewibawaan. Aku ingin dia paham kalau diriku sedang marah. Lalu, dia akan mengoreksi diri dan meminta maaf kepadaku.

Ah, lagi-lagi semua itu hanya harapan sepihakku. Nyatanya, Daisy justru pulang larut malam dalam kondisi acak-acakan. Tentu saja diantar oleh lelaki selingkuhannya itu. Ngilu sekali menatap kebersamaan mereka.

Keesokan harinya kutambah hukuman untuk Daisy yang semakin menggila.

“Mulai sekarang, aku tidak akan berangkat bersamamu.”

Sengaja aku bersiap ke kantor lebih pagi supaya Daisy tidak punya kesempatan untuk memburuku. Aku bahkan menulikan telinga saat dia berteriak meminta penjelasan.

Sebenarnya hatiku remuk karena kehilangan momen kebersamaan kami setiap pagi yang selalu kunikmati. Sarapan bersama dan semobil selama tiga puluh menit adalah waktu berdua yang sangat berharga.

Aku selalu meyukai senyum riangnya ketika sarapan, juga denting sendok beradu piring makan. Awalnya aku merasa risih dengan kegaduhan yang ia ciptakan, tapi lambat laun kegaduhan itu menjelma menjadi alunan irama seindah lagu berjudul ‘A Thousand Years’. Aku memang memimpikan hubungan kami kekal hingga seribu tahun lamanya.

Perjalanan menuju kantor pagi ini menjadi sangat menyebalkan karena tidak ada aroma segar bargemot milik Daisy. Sejak awal menikah hingga sekarang, Daisy tidak pernah berganti aroma parfum. Aku bilang kepadanya kalau aku menyukai wangi itu dan sepertinya dia mengerti cara menyenangkanku.

Kadang-kadang Daisy itu pintar, tapi entah kenapa belakangan kepintarannya dalam melayaniku menguap.

Apakah karena lelaki itu?

Apa sebenarnya keunggulan dia dibanding aku?

Aku memarkir mobil beberapa meter di depan kantor Daisy untuk memastikan istriku itu sampai di tempat kerjanya. Seperempat jam menunggu, aku melihat Vixion hitam berhenti di depan gerbang masuk kantor Daisy. Aku kenal postur dua orang yang bertengger di atasnya. Daisy dan lelaki selingkuhannya.

Daisy melepas helm dan memberikannya kepada lelaki itu. Ia lalu mencium punggung tangan lelaki tersebut. Mereka saling melambaikan tangan sebelum berpisah. Rupanya, mereka tidak satu kantor.

Argh!”

Kekecewaanku padanya sedalam Palung Mariana!

Aku bisa memaafkan ketika mereka bercanda bersama, tapi tidak untuk ritual cium tangan. Bagiku, mencium tangan lelaki adalah hal sakral yang hanya boleh dilakukan seorang istri kepada suaminya. Kelakuannya tidak bisa kuampuni lagi.

*

Aku dan Daisy duduk berhadapan, dipisahkan oleh sebuah meja makan kotak bertaplak beludru hitam. Di tengah-tengah meja itu terdapat tiga batang lilin yang menjadi satu-satunya penerangan malam itu. Suasana hening yang syahdu.

“Habiskan makananmu, Sayang.”

Kulihat Daisy tersenyum mengangguk. Denting sendok yang beradu dengan piring mulai memecahkan keheningan. Sebuah irama yang termemori di kepalaku sampai kapan pun.

Makanan di piring Daisy nyaris habis ketika ia tersedak dan mengambil gelas air putih di sampingnya.

“Ada apa?” tanyaku dengan ekspresi khawatir.

“Leherku terasa panas, Allen. Mungkin terlalu banyak cabai di makanan ini.”

“Minumlah lebih banyak!” suruhku.

Daisy menurut. Lalu, saat kulihat dia mulai memegangi dada, aku menghampirinya. Kutangkap tubuh Daisy yang ambruk. Tepat di telinganya, kubisikkan pertanyaan menyakitkan.

“Kenapa kau selingkuh setelah kuberikan harta, cinta, dan kesetiaan?”

Mata Daisy membelalak. Wajahnya tegang sebentar. Kemudian terbit seulas senyum cantik yang menjadi candu bagiku sejak pertama kami bertemu.

“Jadi, kau melakukan ini karena cemburu?”

Tanpa menghiraukan batuknya, aku menjawab dengan sorot mata penuh amarah.

“Aku senang karena itu artinya … ” Daisy menarik napas berat. “Kau benar-benar mencintaiku.”

Daisy batuk-batuk lagi, lalu menyemburkan busa putih di kemejaku. Tidak ada sedikit pun rasa jijik melihat itu. Kuletakkan kepala Daisy di pangkuanku.

“Maafkan aku, Sayang.”

Tangan Daisy meraih rahangku dan tersenyum. Diantara napasnya yang sesak, Daisy mengungkapkan pengakuan jujur.

“Aku hanya ingin tahu apa kau mencintaiku di balik sikap dinginmu selama ini?  Tapi sekarang sudah terjawab. Aku bisa pergi dengan tenang. Jangan pernah menyesali apapun karena aku ikhlas dengan semua yang Kkau lakukan kepadaku.”

Tubuh Daisy Mengejang. Aku memeluknya semakin erat. Tepat di telingaku, Daisy mengungkapkan rahasia yang membuatku menyesal sepanjang usia.

“Dia kakak sepersusuanku. Raga dan hatiku utuh untukmu, Allen.”

 

Tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Telah menulis buku solo nonfiksi berjudul A Gift Anak Hiperaktif, Membentuk Anak Jenius Sejak dari Janin, dan sebuah novel berjudul Gadis Kecil Berselimut Duka. Tulisan lain bisa dibaca di flowernice89.blogspot.com dan facebook Flower Nice. instragram @flowernice89

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!