

Seorang Raja duduk di balkon seorang diri.
Angin datang menyapa,
“Tuan, bolehkah aku menemani?
Kubawakan secangkir rindu untukmu.”
“Wah, itu favoritku, Angin.
Sila duduk di kursi yang terbuat dari bulu angsa ini.”
Mereka duduk sambil menyeruput secangkir rindu.
“Ah, rindu ini sungguh nikmat. Rasanya manis,
tetapi ada sedikit pahitnya.”
“Aneh, mengapa punyaku terasa pahit saja?”
“Kau salah, Angin. Untuk menikmati secangkir rindu,
kau harus meminumnya perlahan dan sabar.
Barulah kau temukan kenikmatan rindu.”
“Wah, kau benar, Tuan.
Baru kali ini rindu terasa begitu nikmat.”
“Benar, kau hanya perlu bersabar,
tak usah buru-buru.
Itulah kunci menikmati rindu.”
Mereka terus berbincang hingga tak terasa
suara ayam jantan pun berkokok.
“Wah, tak kusadari ayam jantan sudah berkokok.
Berbincang ditemani secangkir rindu
benar-benar menghanyutkan waktu.”
Angin berpamitan karena harus bekerja.
“Tuan tidak berangkat kerja?”
“Biarlah, aku ingin menikmati rindu ini lebih lama.”
“Baiklah.”
Sang Raja itu kembali menikmati secangkir rindu
di kursi berbulu angsa seorang diri.
Ya …
Sendirian
Pukul empat sore di Stasiun Lempuyangan.
Kenangan lalu-lalang tanpa jeda.
Seorang ibu mengantarkan anaknya merantau.
Seorang kekasih hanya mampu menatap rindu dari balik jendela.
Satu per satu mereka pergi ketika kereta waktu tiba.
Akhirnya giliranku datang.
Kuucapkan selamat tinggal pada kenangan:
“Sayonara, semoga kita berjumpa di stasiun berikutnya.”
Uap kereta mengepul, perlahan menjauh
meninggalkan kenangan yang kian kabur,
hingga akhirnya hilang dari pandanganku.
Seorang raja tidur berselimut kabut.
Kabut mendekap hangat tubuh sang raja,
bagai seorang ibu menimang bayinya.
Namun perlahan, kabut menua,
dan dekapannya tak lagi sama.
Ketika tiba saatnya kabut pergi,
gulita malam datang menyelimuti tidur sang raja – dingin, sesak, dan sunyi.
Di tengah gulita, Bulan hadir,
memberikan dekapan hangat layaknya kabut dahulu:
Dekapannya lembut dan menenangkan,
hingga sang raja terlelap dengan senyum di wajahnya.
Setelah raja tertidur pulas,
selesailah tugas Bulan.
Sebelum berpamitan,
Bulan menitipkan benih bunga
pada telapak tangan sang raja,
serta secarik pesan kecil:
“Tuan, tak usah risau. Pergiku tak akan membawa pilu.
Kutitipkan benih bunga surgawi padamu.
Bila engkau menanamnya,
niscaya gulita tak akan menyelimutimu lagi,
dan engkau akan diberkati Wijaya dalam hidupmu.”
Jalan Tak Ada Ujung
Gang sempit
Sebatang kretek
Aku berharap
Gelap malam
Dinginnya harapan
Aku takut
Lolongan anjing
Berselimut ketakutan
Aku tak ada pilihan
Sepotong Roti
Sepotong roti kulahap dengan penuh harapan
Adonannya terbuat dari keringat dan air mata
Toppingnya terbuat dari kerja keras
Seorang pria tua penjual roti memanggangnya dengan penuh cinta
Sebelum aku melahapnya ia berpesan: “Nak santaplah roti ini dengan syukur, niscaya kau akan mendapat berkat.”