Sepiring Ikan dan Hal-Hal yang Membuat Saya Sedih

“The great man angles with himself. He needs no other bait” oleh C. P. Cranch sekitar 1837-9, Public Domain Image Archives

Sebuah pembacaan terhadap esai Diminishing Returns (1995) oleh Michael Parfit, Seaspiracy (2021), dan The Cove (2009)

 

Semenjak dianjurkan untuk berhenti mengonsumsi chicken (ayam tepung, apa pun judulnya) pada 2023, saya begitu tersiksa mencari panganan bersumber nabati, dan setiap kali saya melihat panganan di piring, saya merenung memikirkan proses makanan itu sampai di piring saya. Mungkin, yang ada di hadapan saya adalah seekor ayam di kandang yang kotor dan hanya hidup menunggu mati tanpa pernah melihat lahan hijau dan rumput liar yang menggemaskan.  

Saya menilik ulang masa kecil yang kerap kali menangis menjerit melihat seekor rusa dimangsa harimau pada tayangan Wildlife di Lativi dulu. 

Saya tidak memahami rantai makanan saat itu. Yang saya tahu hanya ada makhluk yang dimangsa, dan saya merasa sedih melihatnya. Di rumah, Ayah memelihara ikan gurame dan kura-kura air tawar di kolam batu. Seiring waktu, kolam itu diperbesar hingga hampir menyerupai kolam renang. Saya masih ingat kura-kura kesayangannya akhirnya menghilang ketika hujan deras membuat air meluap. Di sisi lain, nenek saya memilih menjadi vegan setelah menyaksikan seekor sapi terperosok ke dalam lubang.

Lebih jauh lagi, saya luput melihat nenek saya yang seorang vegan karena pernah melihat sapi terperosok ke dalam lubang. Gurame itu konon tak boleh dimakan atau dibakar. 

 

Bila disebut cinta, saya juga merasa tak begitu cinta pada hewan. Hanya kasihan saja. Sebab ketika ada kucing berjamur dan jamurnya menjadikan saya alergi, saya lalu membenci kucing itu, tidak memukulnya atau melakukan hal-hal lain memang, ya hanya menghindarinya saja. Sekarang, sebagai seorang yang cengeng dan selalu bertingkah kekanakan, saya selalu tak tega melihat teman saya melahap pecel lele dan menggigit-gigit tempurung lele itu sampai hancur dalam mulutnya. 

Meskipun belum bisa sepenuhnya berhenti mengonsumsi protein hewani seperti nenek saya yang panjang umur itu, setidaknya saya belajar berpikir barang sedikit. Belakangan, saya berfokus pada bacaan laut Pantura, kehidupan nelayan, dan lain sebagainya. Kajian saya kemudian menjadi beragam ketika Mamang Aji (sebut saja begitu), membeli majalah-majalah lama, dan Natgeo termasuk di dalamnya. 

Majalah Natgeo yang dibeli bersama sebundel stensilan menjadi berlian untuk saya yang sedang mengaji ulang ekosistem laut. Sebuah esai yang ditulis Michael Parfit menjadi tajuk utama majalah edisi 1995 itu. Diminishing Returns, membahas laut melalui pendekatan yang luas: eko-sosio-kultural. 

Setiap kali berbicara laut, saya sempat berpikir mungkin Putri Duyung (seperti sinetron Ayu Azhari) bukan sepenuhnya mitos. Apalagi, dengan gosip-gosip konspirasi bahwa NASA yang pada awalnya meneliti laut akhirnya mengubah haluan menjadi lembaga peneliti luar angkasa karena “sesuatu yang mengerikan terlihat”.

Melihat perilaku manusia ini hari, saya rasa memang hampir tidak mungkin semua makhluk bisa hidup dengan damai. Tingkah dan konsumsi kita di daratan pun memiliki dampak yang besar terhadap hewan-hewan di kutub utara nun jauh di sana, dan bisa jadi gosip alasan NASA sebetulnya bukan karena menemukan “monster” laut yang kita kira hewan atau makhluk mitologi, tapi industri perusak 🙂  

 

Diminishing Returns dan Ramalannya yang Terjadi Sekarang

Diminishing Returns menggambarkan paradoks di balik teknologi modern yang berhasil meningkatkan hasil tangkapan ikan dunia hingga berkali-kali lipat. 

People using traditional techniques will not survive. The water are being emptied by industrial fishing.” sebut seorang nelayan Maroko dalam esai Parfit.

Di Maroko, nelayan tradisional harus bersaing dengan industri ikan raksasa yang mampu mengeruk hasil laut dalam jumlah jauh lebih besar. Kalimat yang paling membekas bagi saya adalah bahwa dalam sepuluh tahun mendatang akan terjadi masa yang menyakitkan bagi semua orang yang kehidupannya bergantung pada laut.

The Next ten years are going to be very painful, -full of heaval for everyone connected to the sea.” Parfit, 1995.

Dalam satu bagian, seorang nelayan di Cochin, India, hanya membawa pulang sedikit hasil tangkapan setelah berjam-jam bekerja. Pengalaman yang persis dengan yang dialami nelayan Pantura semenjak muncul PSN.

The trouble is simple, there are too many fishermen and not enough fish. 

Tentu saja di Indonesia, the troubles are not simple, we have PLTGU for sure! Kita, masyarakat pun memiliki reklamasi, pagar laut, PLTU, PLTGU, proyek strategis nasional, pencemaran limbah, hingga konflik ruang hidup yang jauh lebih kompleks daripada sekadar jumlah nelayan dan ikan.

Ya, ikan yang sebelumnya dianggap sebagai the poor man’s protein -begitu tulis Parfit- kini mulai dilihat sebagai komoditas menjanjikan dan diperebutkan berbagai negara. Tidak meleset ternyata, sebab segala sesuatu adalah komoditas dan wilayah perang hari ini.

Today’s sea seems a battlefield in which glimpses of individual lives in conflict alternate with bulletins from a hundred fronts. (Parfit dalam Diminishing Returns, 1995)

Laut hari ini memang medan perang -semua tempat juga, sih. Parfit mengungkap bahwa perang yang dimaksud adalah perang kepentingan yang menghasilkan zona ekonomi eksklusif seperti yang kita pelajari di sekolah dasar. 

Pada satu sisi yang dekat dengan kita, nelayan tradisional berusaha mempertahankan sumber penghidupan. Di sisi yang berbeda, industri penangkapan ikan berskala besar, perusahaan energi, proyek infrastruktur pesisir, hingga negara-negara yang saling berebut sumber daya laut juga masif sekali penghancurannya.

Konflik itu sering kali tidak terlihat oleh masyarakat perkotaan yang hanya menjumpai ikan dalam bentuk fillet bersih di etalase Grand Lucky, Aeon, atau kencan sushi. Padahal sebelum sampai ke meja, ikan tersebut harus masuk ke dalam arus pertarungan ekonomi dan politik yang berlangsung jauh dari kehidupannya.

Parfit juga menulis kalimat Lazara yang tak kalah penting, “There will always be shoemakers and fishermen.

Kalimat tersebut sangat mematahkan hati saya, karena industri sepatu di Indonesia begitu marak dengan segala konflik dan permasalahan di dalamnya. Pelecehan, keadilan buruh, membuang limbah sembarangan, dan mudah sekali kita lihat watak dasar kerakusan manusia modern.

Pada konteks fishermen, teknologi yang semestinya membantu manusia hidup lebih baik justru sering digunakan untuk mempercepat eksplotasi sumber daya. Toh, sistem dan distribusi yang lebih cepat tidak lantas menghasilkan hubungan yang lebih sehat dengan alam. 

Fishing is a 70 billion-dollar-a-year industry with deep roots in national pride and culture and an age-old tradition of freedom, but as governments struggle to solve the problems at sea, they inevitably create laws that challenge that freedom.

Pernyataan Parfit ini memperlihatkan paradoks yang masih berlangsung hingga hari ini. Penangkapan ikan tak bisa kita lihat sebagai isu tunggal ekonomi, melainkan kebudayaan, sosial, dan daya tahan masyarakat.

Banyak komunitas pesisir membangun identitas dan hidup bersama dengan laut. Menjadi nelayan bukan cuma menangkap ikan, tapi juga mewariskan pengetahuan kepada anak-anak bahwa ikan yang ditangkap hari ini harus bisa juga ditangkap esok hari, dan untuk melakukannya, kita semua harus menjaga habitatnya dan tidak mengambil berlebihan. Masyarakat pesisir masih menggantungkan hidupnya pada laut sebagaimana leluhur mereka berabad-abad lalu. 

Maka spekulasi shoemakers and fishermen adalah sebuah kalimat yang meruntuhkan optimisme saya terhadap kehidupan 2026 ini. Buruh pabrik sepatu dan nelayan akan selalu ada, tetapi tidak ada jaminan mereka bakal hidup sejahtera. Sebab dalam ekonomi modern, yang sering bertahan hanya yang memiliki modal terbesar untuk menguasainya.

 

Seaspiracy (2021)

Kabupaten Pasaman merupakan daerah yang kaya akan sumber daya perikanan. Pasaman dikenal sebagai penghasil ikan air tawar terbesar di Sumatra Barat. Sementara itu, ikan air laut banyak ditemukan di Pasaman Barat, kabupaten yang merupakan hasil pemekaran dari Pasaman. Dengan kondisi tersebut, tidak sulit membayangkan hasil perikanan yang melimpah di Pasaman.

Teman saya berasal dari Pasaman dan ikan adalah favoritnya. Setiap kali kami makan bersama, ia selalu lahap menyantap ikan, terlebih jika menu yang tersedia adalah gulai kapalo kakap. Bahkan, saya pertama kali mengenal sirip ikan hiu sebagai makanan ketika bersamanya.

Ketika mendengar kata “hiu”, saya teringat pada film Jaws yang menyeramkan buat anak kecil itu. Namun, pandangan saya tentang hiu berubah ketika menonton Seaspiracy (2021).

Dokumenter tersebut memperlihatkan praktik pemotongan sirip hiu, sementara tubuh hiu yang masih hidup dibuang kembali ke laut dalam kondisi sekarat. Setelah melihat itu, saya merasa bahwa konsumsi sirip hiu bukanlah sesuatu yang baik.

Tentu saja, pandangan tersebut tak ada kaitannya dengan Pasaman sebagai sebuah daerah. Menilai suatu kabupaten berdasarkan kegemaran satu orang terhadap sirip hiu jelas tidak tepat. Pasaman tetaplah daerah yang memiliki kekayaan perikanan yang besar, sementara pendapat saya tentang konsumsi sirip hiu merupakan persoalan yang berbeda.

Meskipun banyak blunder dan terkesan menunjukkan sisi “narsistik” si pembuat film, saya cukup banyak diperlihatkan gambaran penangkapan ikan yang dilakukan manusia dengan skala besar khas industrial. 

 

The Cove (2009) 

Pengalaman menonton Seaspiracy tidak terlalu baik untuk saya, dan saya beralih pada The Cove yang berfokus pada lumba-lumba. Sudah lama saya menolak narasi dan konsep-konsep atraksi hewan dan kebun binatang seperti pada tulisan jelek saya: https://nyimpang.com/atraksi-hewan-tuh-bagian-dari-konservasi-atau-kongsi/ 

Film dokumenter tersebut berfokus ke Taiji, sebuah kota pesisir di Jepang yang dikenal sebagai pusat perdagangan lumba-lumba terbesar di dunia. Film itu memperkenalkan penonton pada Ric O’Barry, mantan pelatih lumba-lumba yang pernah bekerja untuk serial televisi Flipper

Flipper, sebuah serial hits yang melibatkan lumba-lumba di dalamnya. Menurut O’Barry, keberhasilan Flipper menciptakan fantasi yang kuat dalam benak manusia. Orang-orang ingin berenang bersama lumba-lumba, menyentuhnya, bahkan menciumnya. Keinginan itu kemudian melahirkan pasar. Berarti, pasar membutuhkan pasokan. Akibatnya, semakin banyak lumba-lumba ditangkap dari habitat aslinya untuk memenuhi kebutuhan taman hiburan dan atraksi wisata, persis seperti yang terjadi di Ancol, Jakarta Utara. Seketika pula saya mengingat foto Prilly yang viral di media sosial setelah berfoto dengan hiu macan, dan secara personal saya bisa melihat foto itu memiliki dampak yang sama dengan Flipper. 

Sebagai pelatih lumba-lumba, Ric yang dahulu terlibat mempopulerkan lumba-lumba sebagai hiburan manusia justru berubah menjadi yang paling vokal dalam aktivis pembebasan lumba-lumba. Pertaubatan Ric dimulai ketika Cathy, seekor lumba-lumba aktor Flipper yang pernah dilatihnya bunuh diri di depan matanya sendiri. 

Betul. Kau tak salah membacanya. Seekor lumba-lumba, membunuh dirinya sendiri dengan tidak mengambil udara dan menenggelamkan diri. 

Sejak saat itu, Ric menyadari bahwa makhluk yang selama ini dianggap sebagai objek hiburan ternyata memiliki intelegensi, insting, dan feelings yang jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan manusia. 

Seekor binatang memang bisa saja depresi, tapi bunuh diri adalah hal yang hampir mustahil dilakukan hewan, dan faktanya itu terjadi. 

Saya tidak dapat menahan kemarahan ketika menonton filmnya, dan teringat juga sebuah rumah produksi yang menggunakan singa sebagai maskotnya. 

Di balik kemegahan industri sinema global, sejarah sering kali menyembunyikan catatan kaki yang kelam mengenai perlakuan terhadap satwa. Narasi mengenai singa-singa MGM menyisakan dugaan mendalam bagi saya sampai hari ini. 

Ketika saya mencari di Google, AI justru menolak dan memberikan keterangan bahwa itu adalah foto palsu. Oke, bisa jadi foto itu memang palsu, tapi lihatlah artikel Tribun yang dirujuk AI dan Google pada saya:

Jackie dan Leo (singa-singa MGM) dituliskan sebagai hewan yang “selamat” dari lima insiden mematikan seperti tabrakan kereta, ledakan studio hingga kecelakaan pesawat, dan foto-foto yang beredar adalah hasil editan. Foto aslinya adalah seekor singa sedang melakukan CT scan di rumah sakit Israel pada tahun 2005. 

Narasi ini justru membuat saya semakin curiga. 

  1. Kenapa singa bisa berada dalam situasi ekstrem seperti pinggir rel atau studio? Sejak kapan singa tinggal di perumahan? Tentu saja keberuntungan Jackie bukanlah sebuah peristiwa “yang patut dijadikan prestasi untuk penolongnya”. 
  2. Tidak ada negara Israel. End of story. 

Ric O’Barry dan lumba-lumba bernama Cathy dalam serial Flipper adalah buktinya. Atraksi hewan di Dufan/Ancol, dan foto-foto liburan fancy berfoto dengan binatang laut memang tampak bagus, tapi itu adalah satu-satunya alasan komersialisasi dan penangkapan hewan secara masif. Berhenti meromantisasi dan mengganggu kehidupan satwa! 

Saya jadi semakin yakin NASA mengubah fokus dari lautan ke luar angkasa karena eksploitasi, perburuan liar, dan pembantaian massal yang tak ingin dipertanggungjawabkan oleh peradaban modern yang didukung kita-kita yang haus foto-foto fancy!

23.000 lumba-lumba diburu setiap harinya dan masih banyak hewan lain yang ditangkap!

 

Manusia adalah Hewan yang Paling Merusak 

Selain berbicara hal besar yang mungkin tak kita lakukan karena tak punya duit buat ke pulau-pulau cantik dan berfoto dengan ciamik, saya akan membahas yang lebih dekat dengan kehidupan saya, memancing. 

Oh, ayo lah. Makhluk mana yang menjadikan pembunuhan dan penyiksaan sebagai olahraga?

Sebuah penyiksaan terhadap satwa tanpa tujuan selain untuk kesenangan manusia, yang juga dipertontonkan.

Sebuah artikel Fish Canada menyebut,

Many claim that sport fishing benefits fish species through conservation efforts. True, but this is an entirely different subject having nothing to do with morality. And if torturing an animal for entertainment is our only way to conserve it, what does that say about us?

In Thomas Mcguane’s book, The Longest Silence, he tells a story of hooking and losing a black-tipped shark. After losing the shark, he asks himself what he had done to deserve this — as if somehow he’s the victim. What about the shark who is now swimming around with a hook permanently lodged inside its mouth? What did the shark do to deserve this? 

Pembantaian dan kerakusan manusia membuat saya yakin, bahwa manusia adalah hewan yang paling berbahaya di dunia. 

Kenapa bahkan manusia menjadikan pembunuhan sebagai bahan untuk menghibur diri? 

Juga penangkapan-penangkapan kepada hewan lain terus dijadikan aktivitas yang legal dan “layak” bahkan dijadikan semacam “pride” begitu. 

Tak urung saya menilai bahwa sampai saat ini manusia bahkan masih tidak mampu mengakui batas-batas moral dalam hubungannya dengan alam! Hewan, lingkungan, dan makhluk lain hanya akan menjadi korban dari ambisi kita-kita yang tidak pernah belajar mengeja kata cukup. Jahanam. 

 

Kesimpulan

Terakhir, begitu banyak yang bisa digali dari sepiring ikan di atas meja kita. Mulai dari lumba-lumba di Taiji, sirip-sirip hiu yang dipotong demi gengsi, hingga ruang hidup nelayan tradisional Pantura dan Cochin yang hancur digilas syahwat industrialisasi dan Proyek Strategis Nasional. Anjay! Syahwat! Menyedihkan memang.

Manusia modern telah berhasil mengubah penderitaan makhluk lain menjadi komoditas ekonomi, hiburan, dan panggung atraksi saja, dan tiketnya kita beli pula!

Manusia memancing untuk kesenangan, memenjarakan hewan untuk tontonan, berfoto fancy dengan satwa liar demi validasi media sosial sambil menulis caption “sayangi hewan” “konservasi” atau apa lah.

Saya mungkin belum mampu berhenti mengonsumsi protein hewani, namun belajar mengeja kata cukup dan berhenti meromantisasi eksploitasi adalah batas moral minimal yang harus diambil, setidaknya untuk saya. Kepada semua ikan, sapi, ayam, dan semua yang sudah dimakan dan menjadi energi saya sampai hari ini, saya berjanji akan melakukan hidup yang lebih bermakna dan lebih baik. 

 

Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!