Menulis tidak lebih spesial dari bikin meja. —Puthut EA

Barangkali tidak ada kegiatan yang lebih mengairahkan selain menulis. Ya, memang pacaran, makan gratis, dan nulis “hallah bacot lo” di twitter-nya @fadlizon juga mengasyikkan, tapi bukan itu yang sedang ingin kubicarakan. Semua hal yang ada dalam hidupku, pengalaman-pengalaman, bacaan-bacaan, pertemuan demi pertemuan semuanya adalah kekayaan satu-satunya yang saya punya untuk diolah menjadi tulisan.

Jika bisa memilih, aku mau saja bikin film,  lagu, atau lukisan. Tapi aku terlalu miskin, malas, dan minim skill. Perlu kekayaan untuk memproduksi sebuah film, tangan yang cekatan untuk menyusuri grip gitar, dan kesabaran untuk menggoreskan kuas di atas kanvas. Menulis tidak memerlukan semua itu.

Sekilas, seolah aku cuma tahu menulis atau seolah-olah aku ahli saja, tapi kenyataannya tidak. Untuk itulah pertanyaan selanjutnya diperlukan, apa kegiatan yang paling aku benci? Jawabannya sama: menulis.

(Sebentar,  menurutku status whatsapp atau instagram story tidak bisa dihituung sebagai kerja menulis. Seperti kamu gak bisa samakan Bumi Manusia dengan Jejak Juang, atau SMS dengan DM dan WhatsApp)

Aku menulis pertama kali di blogspot, juga belum lama. Sekitar 2010 lalu. Cuma menulis hal-hal personal saja. Ya tipikal tulisan yang biasa ada di blog saat itu, gaya-gaya Raditya Dika gitulah. Jadi aku menulis saat itu seolah-olah Raditya Dika bisa ditiru dan Enda Nasution bisa dikalahkan prestasinya. Sampai kemudian aku sadar kalau aku gak lucu-lucu amat dan juga tidak punya pengalaman, kesadaran, dan wawasan yang sama seperti Enda Nasution.

Jadi aku hapus blogku. Tanpa jejak apapun dari blog sebelumnya, aku membuat blog baru yang bisa dikerjakan beramai-ramai seperti nyimpang ini.

***

Pada akhir Agustus 2017 aku ke Yogyakarta, hadir di Jambore Pembaca Mojok. Itu benar-benar pengalaman yang luar biasa. Orang-orang datang dari tempat-tempat yang jauh, para pembicara membawakan topik-topik menarik, saya bertemu Romana, orang Surabaya yang baik dan lucu.

Tapi semuanya hampir tidak punya kesan khusus. Maksudku semuanya baik-baik saja, acara itu luar biasa, hanya saja tidak ada yang membuat isi dada saya terbakar. Rasanya masih ada ganjalan di dada. Seperti sebongkah batu baru saja mengganjal mesin blender. Aku tidak mau pulang ke Purwakarta dengan beban begini.

Begitu acara bubar aku tidak langsung pulang, atau sekadar pelesir menikmati Jogja malam hari sebagaimana para peserta lain. Aku bertahan di Angkringan Mojok. Berbincang dengan beberapa peserta yang sedang menunggu grab atau gojek.

Satu demi satu para penunggu jemputan pergi. Sore terus  susut ke barat, dua gelas minuman hangat kandas,  dan aku sama sekali belum memutuskan mau melakukan apa. Harapanku satu-satunya hanya ingin biaya  ke Yogjakarta ini terbayar kembali, aku tidak mau pulang dengan ganjalan di dada. Barangkali bertemu dan berbincang dengan mas Puthut bisa mencabut ganjalan tersebut.

Sekitar jam enaman, mas Puthut masuk ke angkringan Mojok. Ia menyapa karyawan-karyawannya, kemudian entah apa lagi. Sampai kulihat ia dudukdi salah satu bangku. Di atas mejanya ada kopi hitam dan dua bungkus rokok. Tak lama kemudian dua orang yang tadinya ngobrol denganku pergi dan bergabung dengan Mas Puthut.

Aku sendiri gak tahu kenapa masih di tempat dudukku. Lagipula masih ada satu teman lagi di depan. Aku lupa siapa nama lengkapnya. Dia cuma suka dipanggi “Su” saja. “Kayak, su, asu… gitu mas?” tanyaku. Dia tergelak.

Kami masih tetap mengobrol sampai kemudian dia mengingatkan kalau, maksudku tidak segera memesan jemputan adalah karena ingin mengobrol dengan mas Puthut. Merasa diingatkan, segera beranjak dan minta izin duduk dan turut berbincang dengan mas Puthut dan dua orang yang lebih dulu duduk di sana bersamanya.

Perbincangan berjalan menarik. Perlahan ganjalan itu menguap. Jika harus dirangkum dalam satu paragraf, kira-kira inilah yang dapat  diselamatkan dari ingatanku yang kualitasnya lebih renta daripada usiaku sendiri:

Menulis itu sama seperti pekerjaan lain. Ia menuntut ketekunan dan kerja keras. Ia meminta porsi latihan sebagaimana profesi-profesi lain. Jika kau ingin menjadi penulis. Yang perlu kau lakukan hanyalah berlatih menulis. Dudukkan pantatmu, tentukan targetmu, dan menulislah sampai selesai. Tidak ada alasan lain. Jangan mentang-mentang menulis itu pekerjaan kreatif, lalu kau beralasan menunda-nunda pekerjaan hanya karena kamu merasa perlu mendapatkan ilham atau semacamnya. Itu omong kosong.

Pertemuan dengan mas Puthut tersebut sudah lewat lebih dari setahun. Nyimpang sudah hampir setahun dan membuat saya terus menulis, sebab ya mau bagaimana lagi… masa pemimpin redaksi media online (meski abal-abal) tidak menulis?

Namun kegiatan menulis ini benar-benar tidak pernah bertambah mudah setiap harinya. Dia seperti laut yang mustahil dijinakkan oleh pelaut mana pun.

Imajinasi memang tidak punya tepian. Kadang jika sedang beruntung, semakin terasa tepiannya, semakin kau tahu kalau itu bukan tepiannya. Sehingga kau bisa duduk, menulis, dan enggan berhenti. Tapi ada juga saatnya ketika tiba-tiba saja laut imajinasi itu menyusut, dan tepiannya mendadak terasa begitu saja.

Pada akhirnya menulis mungkin saja akan selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan, ucap mas Puthut juga. Tapi tak pernah menjadi hal yang mudah. Perkataannya itu mewakili semua orang yang merasa menulis adalah pekerjaan yang layak dicintai dan dibenci sekaligus. Tapi yang jelas, menulis hanyalah persoalan yang sesederhana kelihatannya. Duduk-menulis-publikasi. Seperti, naksir-pedekate-nembak.

Dalam perbincangan terakhir, di semacam talk show “Menulis adalah Kebahagiaan” teman saya Yayu Nur Hasanah bilang, baginya menulis adalah melawan. Sebab patriarki adalah sistem yang buruk dan kadang dianut lebih erat dari agama. Teman yang lain, Widdy Apriandy menyatakan bahwa ia menulis sebagai wujud kerjanya. Dan kerja, baginya adalah caranya mempertanggungjawabkan kehidupan.

Tak mau kalah hebat dari pembicara lainnya, saya ngebacot saja: menulis adalah utang yang musti dibayar pada masyarakat. Sebab kita hidup lebih beruntung dari kebanyakan. Berpendidikan baik, meski tidak puas. Mendapat pekerjaan, meski selalu menggerutu. Dikarunia pertemanan yang menyenangkan, meski tak satu pun yang mau dijadikan kekasih.

Singkatnya, menulis adalah melawan, bekerja, dan membalas budi.

Jadi, ya, biasa saja seperti pekerjaan yang lain. Kamu bisa menulis untuk dibayar, jika tahu caranya. Kamu juga bisa menulis tanpa perlu memikirkan bayaran, jika sudah tidak butuh apa-apa selain ridho Allah seperti saya. Hehe~

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.