Seperti Daun yang Jatuh

Malam bertambah singkat dari biasanya. Begitu juga dengan siang. Waktu yang biasanya berjalan lambat kini seperti dilipat, disimpan di sudut-sudut langit, lalu dikembalikan dalam keadaan lebih sempit. Manusia menyadarinya, tapi kebanyakan pura-pura tak sadar. Mereka menyebutnya gejala alam, perubahan iklim, pergeseran rotasi bumi atau istilah-istilah ilmiah yang terdengar meyakinkan sambil berharap suatu hari semuanya akan kembali seperti semula. Padahal, harapan semacam itu nihil.

Dunia telah menua. Keriputnya tak tampak di wajah bumi, tetapi justru jelas sekali di wajah manusia. Banyak kejadian yang telah diramalkan Baginda Nabi tentang fitnah akhir zaman, krisis moral, krisis keyakinan, tentang manusia yang saling memangsa dengan senyum di bibir, namun semua itu dianggap kebetulan belaka.

Tak seorang pun mampu menyingkap masa depan kecuali seorang nabi, sebab ia tidak meramal, melainkan menerima pesan dari Tuhan. Sementara manusia modern lebih percaya pada grafik dan statistik, meski hatinya sendiri sering tak mampu ia pahami. Di tengah dunia yang menua itu, seorang pemuda melangkah keluar dari perpustakaan kampus.

Ia mengenakan kemeja flanel merah hitam yang telah disetrika rapi, celana panjang gelap, dan sepatu kets putih yang masih bersih, seakan ia menjaga dirinya dari debu kehidupan yang mulai menempel di mana-mana. Rambutnya disisir ke samping, sederhana, tanpa gaya berlebihan. Di tangannya, dua buku tebal ia jepitkan ke dada, seolah buku-buku itu adalah perisai terakhir dari keganasan realitas.

Namanya Azzam.Langkahnya tergesa, seperti seseorang yang dikejar waktu, padahal yang mengejarnya adalah pikiran sendiri. Di sepanjang koridor kampus, beberapa mahasiswi menyapanya dengan senyum genit. Bibir mereka dilapisi lipstik tipis, mata mereka berbinar seperti lampu taman yang mencoba menarik serangga di malam hari.

“Hai, Zam,” sapa seorang dari mereka.

Azzam hanya mengangguk singkat. Senyumnya datar. Bukan karena ia membenci perempuan, melainkan karena pikirannya sedang tidak berada di tempat yang sama dengan tubuhnya.

Uang kos menunggak. Uang kuliah belum terbayar. Sementara honor tulisan yang telah ia kirim ke beberapa media belum juga cair. Ia telah menghitung dengan cermat layaknya akuntan miskin yang berusaha jujur pada dirinya sendiri: jika honor itu masuk, ia bisa bernapas lega setidaknya dua bulan ke depan. Namun kenyataan seperti daun kering yang jatuh tepat di atas kepalanya. Saat ia mengecek rekening kemarin, layar ponsel itu sepi, kosong, tak ada kabar baik.

Dunia kepenulisan dan perbukuan sedang sakit, pikirnya. Langkah Azzam berhenti di sebuah kafe kampus. Ia masuk bukan untuk bersantai dan memesan, melainkan untuk menghindari hujan pikiran yang semakin deras. Aroma kopi menyeruak pahit dan hangat, seperti nasihat lama yang jarang didengar orang muda.

Di sudut kafe itu, seseorang melambaikan tangan.

“Zam!”

Azzam menoleh. Alisnya sedikit terangkat. Ia mengenal orang itu dengan sangat baik. Lelaki itu adalah Brian.

Brian duduk santai dengan jaket mahal, jam tangan mengilap melingkar di pergelangan tangannya. Rambutnya ditata sempurna, senyumnya penuh percaya diri. Ya seperti senyum lelaki penuh privilege. Azzam mendekat dan duduk di hadapannya.

“Lama tak kelihatan,” kata Brian sambil menyeruput kopinya.

“Aku sering di perpustakaan,” jawab Azzam singkat.

Brian terkekeh. “Kau dan buku-bukumu itu. Kau tahu, Zam, dunia tak selalu bisa ditaklukkan dengan kata-kata.”

Azzam tak menanggapi. Ia tahu betul siapa Brian. Di kampus, nama itu beredar seperti bisik-bisik di lorong sunyi. Tampan, kaya, dan terkenal sebagai playboy. Brian mencondongkan tubuhnya. Suaranya diturunkan, seolah sedang membicarakan rahasia besar.

“Aku butuh bantuanmu.”

Azzam menatapnya. “Bantuan apa?”

Brian menghela napas, sesuatu yang jarang ia lakukan dengan sungguh-sungguh. “Aku diminta ibuku untuk menikah.”

“Selamat,” kata Azzam datar.

Brian mendecak. “Jangan bercanda. Calonnya mahasiswi UM. Namanya Arumi. Putri sahabat ibuku.”

“Lalu?” tanya Azzam.

“Aku ragu. Aku belum siap menikah dan … aku ingin tahu siapa dia sebenarnya.” Brian berhenti sejenak. “Aku ingin kau menyelidikinya.”

Kata menyelidiki melayang di udara seperti pisau tipis.

“Aku bukan detektif,” ujar Azzam.

“Tapi kau pengamat yang baik,” sahut Brian cepat. “Dan kau butuh uang, bukan?”

Kalimat itu menghantam Azzam tepat di dada. Seperti hujan yang jatuh di daun kering, suaranya nyaring, tak bisa diabaikan.

“Berapa?” tanya Azzam akhirnya.

Brian tersenyum puas. “Cukup untuk bayar kos dan kuliahmu.”

Brian lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto. Seorang gadis dengan wajah teduh, mata bening, dan senyum yang tidak berlebihan. Rambutnya tergerai rapi, ada kesederhanaan yang anggun dalam caranya memandang kamera.

Hati Azzam berdesir. Halus. Seperti angin senja yang menyentuh permukaan danau.

“Ini Arumi,” kata Brian.

Azzam menelan ludah. Ia segera menegur dirinya sendiri. Tujuanmu hanya menyelidiki, bukan jatuh hati.

Brian menjelaskan singkat. Arumi sering ke perpustakaan kota, kadang ke kafe kecil. Ia menyukai puisi.

Puisi.

Kata itu seperti mengetuk pintu batin Azzam yang paling dalam.

*

Hari-hari berikutnya, Azzam mulai menjalankan tugasnya. Ia melihat Arumi dari kejauhan di perpustakaan kota, duduk dengan buku tebal dan catatan kecil. Ia menyaksikannya di kafe, tertawa pelan bersama sahabatnya, Melodi—gadis ceria dengan rambut pendek dan mata tajam yang selalu mengamati sekitar. Suatu sore, ketika hujan turun rintik-rintik seperti doa yang malu-malu, Azzam melihat Arumi dan Melodi duduk di sebuah kafe kecil. Ada panggung kecil di sudut ruangan. Tanpa berpikir panjang, Azzam maju. Ia membaca puisi.

Arumi terpesona. Matanya berbinar, seperti menemukan rumah dalam bait-bait itu. Setelah itu, mereka berkenalan.

Hari-hari pun berubah. Diskusi tentang puisi menjadi jembatan. Azzam meminjamkan buku-buku puisinya. Arumi membaca dengan penuh perasaan. Mereka berbagi sunyi, berbagi tawa, berbagi harap yang tumbuh diam-diam.

Tanpa disadari, hati Azzam jatuh seperti daun yang tak bisa memilih waktu yang tepat lepas dari ranting. Arumi pun demikian. Namun, tak ada cinta yang tumbuh tanpa bayangan.

Melodi, dengan mata yang terlalu tajam, mulai curiga. Ia melihat kedekatan itu sebagai ancaman. Diam-diam, ia menghubungi Bram—teman dekat Brian—dan menceritakan semuanya.

Suatu sore, ketika Azzam dan Arumi sedang duduk di kafe, Bram datang dengan wajah keras.

“Jadi kau, ya?” katanya kasar pada Azzam.

“Ada apa?” tanya Arumi bingung.

Bram menunjuk Azzam. “Dia ini munafik. Dia sudah meniduri Karina.”

Kata-kata itu seperti petir di siang bolong.

Arumi memucat. Dunia yang ia bangun dari puisi runtuh seketika. Ia menatap Azzam dengan mata penuh luka.

“Benarkah?” suaranya gemetar.

Azzam terdiam. Lidahnya kelu. Tak ada kata yang cukup cepat untuk menyelamatkan keadaan.

Arumi pergi dengan air mata yang jatuh satu-satu, seperti hujan yang tak sempat ditahan awan.

Hari-hari setelah itu, Arumi menjauh. Brian datang dengan wajah penuh kepedulian palsu. Pertunangan pun terjadi. Namun kebenaran, seperti matahari, tak bisa selamanya ditutup awan.

Karina datang. Dengan suara bergetar namun tegas, ia membongkar semuanya. Tentang Brian. Tentang kelakuannya. Tentang kebohongan yang selama ini disembunyikan.

“Azzam tidak pernah menyentuhku,” kata Karina. “Dia lelaki baik. Kalian semua salah menilainya.”

Arumi menangis. Tangis penyesalan.

Ia menemui Azzam di tempat pertama mereka berbincang tentang puisi.

“Aku minta maaf,” katanya lirih.

Azzam tersenyum. Lelah, namun tulus. “Tak apa. Kita semua pernah salah.”

Di bawah senja yang jatuh perlahan, mereka berdiri berdampingan. Seperti dua daun yang akhirnya jatuh di tanah yang sama—setelah berputar, terluka, dan hampir terseret angin ke arah yang salah. Cinta, ternyata, bukan tentang yang datang lebih dulu, melainkan yang bertahan hingga kebenaran menemukan jalannya.

Pernah mengenyam pendidikan di UNY prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Bercita-cita menjadi seorang guru yang profesional dan tentu saja sejahtera. IG @hisyambillyaalwajdi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!