

Setiap hari, saya selalu menyempatkan setidaknya satu jam untuk menggulir sosial media. Instagram, X, TikTok, Threads, Facebook, atau pun cuma sekadar bolak-balik membuka WhatsApp dan menutupnya kembali karena tak kunjung ada yang mengirimkan chat. Huhu.
Namun sesempit-sempitnya waktu satu jam itu, saya selalu mendapati sekumpulan orang yang bergumul di postingan, kolom komentarnya, atau bahkan sampai terbawa ke DM dan saling tag di status masing-masing. Katanya, begini, lah. Begitu, lah. Saya tidak tahu apakah sudah ada yang sampai di tahap serlok tak parani atau cuma mentok sampai konflik di balik layar.
Keributan ini, yang setiap kali saya temukan, seringnya berawal dari persoalan sederhana yang sayangnya, seringkali jadi pemicu gampar-gamparan antara lelaki dan perempuan di masyarakat sejak zaman baheula.
Berawal dari postingan seseorang yang berisi curhatan kalau masakan istrinya kebanyakan garam, lalu merembet pada berbagai pertanyaan seperti,
“Apakah cowok juga harus bisa masak capcay?”
“Kalau cowok harus ikut masak, apakah cewek juga harus bisa ganti oli motor?”
atau bahkan sampai hal-hal lintas negara seperti permasalahan mengenai lelaki yang istrinya kerja di Arab Saudi sementara ia mengurus anak di rumah, sambil sesekali pergi memancing ikan. Ujungnya, terjadilah perdebatan tanpa henti. Padahal, persoalan ini bukanlah sesuatu yang harus memicu dua orang untuk saling melontarkan makian sampai-sampai panas kepala.
Saya rasa, soal pembagian peran di rumah tangga berdasarkan gender adalah hal bodoh yang seharusnya tidak perlu diributkan. Catatan besar: saya tidak akan membahas dari sudut pandang agama karena tak semua orang seagama dengan saya.
Sekarang, mari kita mundur sejenak untuk kembali kepada contoh-contoh pertanyaan atau pendapat yang sempat saya singgung di belakang.
“Kalo menurutku, cowok harus ikut masak, jangan cewek doang!”
“Kalo cowok harus bisa masak, berarti, cewek harus bisa betulin motor!”
Sungguh pendapat yang tidak penting. Pendapat-pendapat ini tidaklah salah, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Yang membuat saya mengatakannya sebagai pendapat yang tidak penting adalah karena, keduanya keluar dengan berlandaskan emosi semata. Seharusnya, pembagian peran di rumah tangga bukan didasarkan pada gender, tapi berdasarkan kapabilitas tiap individu.
Percuma saja memaksakan kehendak seperti, “Karena gue sebagai cowok udah kerja, maka lo sebagai cewek harus nyuci baju,”
Kalau memang perempuan kesayanganmu itu tak punya kemampuan untuk mencuci baju atau mengoperasikan mesin cuci dengan baik, memangnya kamu mau, celanamu yang satu-satunya itu luntur karena dia tidak bisa membedakan deterjen dan pemutih?
Atau, kalau kamu SJW jadi-jadian dari X yang ngebet banget untuk menegakkan keadilan dan kesetaraan, merasa bahwa laki-laki di rumahnya (baca: suami) harus ikut masak dengan alasan “Jangan cuma perempuan yang masak”, atau ketika seorang laki-laki beranggapan bahwa perempuan di rumahnya (baca: istri) harus bisa memperbaiki motor juga dengan alasan, “Kalau cowok harus bisa masak, berarti cewek juga harus bisa betulin motor, dong!”
Akhirnya, perlu memahami bahwa, yang seharusnya mengerjakan suatu peran itu adalah yang bisa dan mampu. Bukan karena ia adalah laki-laki atau perempuan. Atau cowok dan cewek. Sama saja, sih.
Kalau misalnya, kamu dan pasanganmu memang bisa dan mampu? Alhamdulillah. Puji Tuhan. Syukurlah. Setidaknya, tidak perlu menjadi bagian dari orang-orang seperti saya yang menyaksikan pergumulan di sosial media.
Namun, bagaimana jika kamu dan pasanganmu sungguh tak bisa melakukan apa-apa? Tidak mungkin. Saya rasa, mustahil ada dua insan yang menikah dalam keadaan sedungu itu. Tapi kalau memang ada, berarti sungguh dungu, dan itu bukan masalah gender, masalahnya,
“Mengapa kalian menikah?”
Perlu dicatat bahwa, di semua tempat, orang yang menikah haruslah orang yang sudah mapan. Sehingga, kalaupun ia dan pasangannya dungu, minimal punya duit lebih buat membayar pembantu untuk cuci piring, montir untuk mengganti oli, tukang untuk memperbaiki genteng, beli makan di warteg, dan mencuci di binatu. Dengan begitu, kamu dan pasanganmu tidak perlu repot-capek dan tinggal menikmati hidup sebagaimana para CEO yang menyamar di dracin. Syukurlah kalau ternyata kalian masih mendapatkan aliran duit dari Papa, atau kebagian sisa harta karun Bung Karno, atau kecipratan sebelas ribu triliun yang mengendap di Bank Swiss.
Namun, karena saya masih tidak percaya kalau ada insan-insan yang menikah dalam ‘keadaan sedungu itu’, maka hal paling penting yang bisa saya sarankan adalah: belajar. Ketika suatu hari kamu harus memiliki kemampuan untuk bisa masak capcay, ya karena manusia harus makan untuk bertahan hidup, sebab kalau jajan di luar terus-terusan, ya lama-kelamaan bakal boncos juga.
Begitu pula ketika kamu harus memiliki kemampuan untuk memahami seluk-beluk mesin motor. Bukan karena anda laki-laki atau perempuan, tapi semata-mata agar anda tidak kena getok harga onderdil oleh bengkel-bengkel nakal di pinggir jalan.
Baiklah. Mungkin, dari semua pendapat yang telah saya jabarkan, bisa ditarik sehelai benang merah yang mengandung suatu kesimpulan, sekali lagi: belajar, belajar, dan belajar.
Mengapa? Sebab semua peran dan kebutuhan di rumah tangga, sejatinya adalah life skills. Kemampuan yang harus dimiliki manusia untuk tetap hidup bila seandainya anda belum ditakdirkan berumah tangga atau memilih sendirian.
Jadi, saya memiliki sebuah prinsip hidup yang menurut saya akan terus relevan sampai kapan pun. Bunyi prinsipnya kurang lebih begini,
“Kalo nggak punya duit, minimal bisa. Kalo nggak bisa, minimal punya duit.”
Ini bagus untuk diterapkan oleh kalian semua yang membaca ini; baik yang sudah berumah tangga, yang belum, yang tidak akan, yang punya rumah tapi tidak punya tangga, yang punya tangga tapi tidak punya rumah, atau pun yang tidak punya keduanya.
Di samping itu, tentu saja, saya juga akan menghargai bagaimana pun keputusan yang anda ambil dalam rumah tangga kalian sendiri. Entah itu soal cara anda membagi peran domestik di rumah, siapa yang bekerja dan siapa yang mengurus rumah, atau apa-apa dan lain sebagainya. Wajar saja. Itu kan, rumah tanggamu. Bukan urusan saya. Peduli apa saya sebenarnya?