Catatan refleksi dari "Jambore Keberagaman: Camping Halaman".

Untuk menjadi orang baik, kau hanya perlu perhatian mendalam terhadap penderitaan.

Yuval Noah Harrari

Jumat lalu saya dan Syamsul mewakili @gusdurianpwk dalam “Jambore Keberagaman: Camping Kebersamaan” yang diselenggarakan Kepasturan Bandung selama 3 hari di Sumedang. Jangan tanya apa tema acara itu. Pokoknya kami mendengar kata “keberagaman” sebanyak 333 kali dan “kebersamaan” sebanyak 99 kali dalam sehari.

Acara itu bukan cuma menghadirkan beragam orang dan topik pembicaraan, tapi juga menghadiahi kami pengalaman yang beraneka rasa. Meski camping kemarin menyenangkan, tetap saja saya kesulitan memprosesnya–untuk dijadikan catatan seperti yang diminta Aroka Fadli, koordinator @gusdurianpwk yang rewel itu.

Saya tak akan lupa perbincangan lintas iman yang ganjil dan mendebarkan dengan Aldo di malam pertama, saya takjub dengan keramahannya selama bersama dengannya. Saya nyaris memanggilnya Santo Aldo, tapi karena dia ngaku sering malas ibadah, saya jadi urung. Juga deg-degan saat seorang peserta perempuan memberikan pulpen di tangannya untuk saya, kemudian dia pergi untuk mengambil pulpen lainnya. Baik sekali dia. Jelas dia enggak tahu kalau saya pernah menginjak seekor kecoak lalu menendangnya ke toilet dan kencing di atasnya seperti psikopat.

Atau emosi yang bercampur aduk saat malam terakhir Riskita ikut nimbrung dan melakukan oborolan khas terapis di depan api unggun. Bagaimana mungkin orang yang usianya bertahun-tahun lebih muda itu bisa begitu tenang dan bijak. Apa dia reinkarnasi Bunda Maria? Juga rasa takjub melihat langsung praktik ibadah penghayat kepercayaan. Canggung saat pertama kali bertemu muka dengan kawan Ahmadiyah. Kaget pas pertama kali mendengar kalimat “mengembangkan sikap welas asih kepada kelompok intoleran”. Perasaan luar biasa saat joget-joget di malam terakhir, dan banyak lagi.

Meski begitu banyak hal yang menarik, saya harus memilih satu hal saja untuk dibicarakan.

Put The Shoes namanya. Itu cuma game, katanya. Hanya salah satu segmen dari sebuah mata acara. Dalam ‘Put The Shoes” kami diminta memecah diri jadi dua kelompok, satu kelompok muslim+kristen dan sisanya jadi kelompok yang lain. Bergiliran.

Kelompok pertama berdiri di sekeliling kelompok kedua yang berjongkok. Lalu kelompok yang berdiri ini diminta berjalan melingkar sambil meneriaki si kelompok yang duduk di tengah. Terus seperti itu bergantian. Kadang saya masuk kelompok yang jongkok dan dikelilingi sambil diteriaki kelompok lain. Kadang berdiri lagi dengan untuk meneriaki. Semua tampak bersenang-senang. Toh ini cuma game.

Saya mengerti apa maksud game ini, yakni melatih simpati dengan merasakan derita mereka yang diteriaki. Lucunya saya tidak merasakan apa-apa saat berada dalam kelompok yang jongkok, tapi justru saat sedang berdiri dan meneriaki k empat kalinya barulah terasa seperti seseorang menendang saya tepat di dada. Saya memang sudah tidak berteriak-teriak sejak dua giliran yang lalu, tapi saya tetap berdiri dan berkeliling ikut dengan yang lain, karena begitulah cara mainnya.

Game ini tiba-tiba menimbulkan perasaan yang serius di dada saya.

Bukankah begitu dengan kehidupan asli kita? Kumpulan dari berbagai rangkaian game yang kita mainkan. Ada aturan dan peran. Beberapa peran kita dapatkan dengan usaha, beberapa peran lain tak terhindarkan. Beberapa aturan bisa dilanggar, dan lebih banyak lagi aturan yang jika dilanggar akan membikin hidup kita rusak fatal.

Kita semua mungkin familiar dengan istilah “put yourself in somebody’s shoes” atau cobalah sepatu orang lain, sebagai eksperimen mental untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi orang lain. Untuk memahami penderitaan dan mengerti situasi mereka yang sebenarnya.

Namun benarkah kita bisa mengerti perasaan orang lain. Sebutlah begini, apa kita akan mengerti rasanya menjadi muslimah berjilbab hanya dengan mencoba berjilbab sepanjang siang di lingkungan kota Karawang? Atau bagaimana rasanya menjadi Satpol PP, saat ia harus ikut atasan dan anggota lainnya menyegel gereja dan masjid Ahmadiyah?

Tak ada yang sanggup merasakan derita orang lain. Karena derita kita semua tak sama. Nasib adalah kesunyian masing-masing, ucap Chairil Anwar suatu ketika. Mungkin sekali saat kita katakan bahwa kita mengerti dan bersimpati pada derita orang lain, sebenarnya bukan berarti sungguh-sungguh tahu rasanya penderitaan orang lain, kita hanya tahu apa rasanya menderita. Itu saja.

Ini membuat saya berpikir, bagaimana jika sebelum menggunakan other shoes, atau sepatu orang lain kita gunakan dulu sepatu kita sendiri dengan perhatian penuh dan sadar. Sebelum kita mencoba tenggelam dalam derita orang lain, kita menyelam pada derita kita sendiri. Ternyata banyak yang kita lewatkan dari sepatu atau penderitaan kita, jenisnya, dan cara kita berurusan dengannya, dan seterusnya.

Gini ya rasanya jadi bagian dari kerumunan pembully? Bagian dari kelompok yang berteriak. Bukan perasaan superior dan bangga yang ada, tapi perasaan kerdil, malu, kesepian, takut, dan rasa tak berdaya yang gak habis-habis.

Sebagai muslim, laki-laki, heteroseksual, orang sunda, tinggal di Jawa Barat, punya kerja, bukan orang dengan disabilitas, saya menumpuk banyak hak-istimewa di saku dibanding mereka yang disingkirkan dan dibiarkan terpinggir karena keyakinannya, gendernya, ekspresi seksualnya, ekonominya, kesukuannya, disabilitasnya, dll.

Tapi apa yang saya lakukan dengan seluruh isi di saku saya? Tidak ada.

Saya mungkin gak ikut-ikutan membakar, mempersekusi, atau menghina, tapi saya lebih banyak memilih diam melihat itu semua terjadi, karena terlalu cepat marah dan mudah lelah. Saya marah karena orang-orang bicara bodoh dan bersikap gila. Dan saya lelah melihat, bahkan terseret-seret kegilaan yang sama nyaris setiap harinya.

Bayangkan, bagaimana rasanya jika nilai-nilai yang kau percaya dibilang omong kosong? Pilihan pribadimu dibilang penyakit? Agama yang kau peluk disebut kumpulan penyembah ban bocor? Tuhan yang kau sembah disangka gorengan basi? Sementara orang-orang yang kau teladani disebut sebagai penipu kelas teri?

Jawaban apa yang kita pilih, mungkin itulah yang menyaring si pemaaf dan penuh welas asih, dari si pemarah dan si mudah lelah.

Jujur saja saya masih si yang marah dan si mudah lelah. Saya tahu ini mungkin agak mengecewakan bagi orang yang mengirim saya atau panitia penyelenggara acara, tapi yang jelas saya tahu ada yang gak beres dengan diri saya. Kalaupun ada setitik harapan, itu hanyalah semoga di pertemuan selanjutnya nanti, saya adalah orang yang jauh lebih dewasa, pemaaf, tenang, dan tentu saja tampan menawan. Lagi pula marah-marah membuat wajah saya jelek, dan kelelahan membuat selera humor saya payah.

Romo Gatot dalam khutbah Misa kemarin mengutip kalimat yang membuat saya nyaris menangis, “siapa yang tak punya, tak bisa memberi.” Terangnya, jika kita tak punya rasa welas asih dan kedamaian pada diri sendiri, kita juga tak akan punya hal yang sama untuk dibagikan pada orang lain. Saya langsung teringat beberapa nama, dan itu betulan bikin sesak dada. Amarah dan kekecewaan adalah pantangan bagi mereka yang sungguh-sungguh menginginkan kedamaian.

Pada akhirnya, saya mesti menutup refleksi ini, sebelum betul-betul mengulang hal bodoh yang biasa saya lakukan saat terlalu emosional. Intinya untuk semua yang terjadi kemarin, saya berterima kasih sebesar-besarnya untuk siapa pun yang terlibat dalam acara kemarin. Penyelenggara yang sungguh niat, panitia yang terus-terusan menguras tenaga, dan peserta yang menyenangkan.

Saya senang bisa merayakan ulang tahun dengan doa kecil nan ringkas di antara dua orang yang baru saya kenal, di depan sisa api unggun yang baru saja mati disiram hujan. Agak menyedihkan memang, tapi agaknya itu lebih baik dari pada berbaring di atas sisa bakaran tersebut. Saya yakin camping kemarin tidak hanya penting bagi banyak orang, tapi juga sangat berarti bagi saya pribadi dan di satu titik saya merasa… ini seperti kado ulang tahun terbaik saya tahun ini.

Ya ampun, 30 tahun hidup cuma buat menyadari betapa lambannya saya belajar makna hidup sepenting ini, alias alegori sepatu itu. Entah bagaimana dengan aplikasi kesadaran semacam ini nantinya. Semoga nasib tidak membiarkan saya berjuang sendirian. Saya harap Gusdurian Purwakarta terus menjadi ruang bertumbuh saya di antara ruang-ruang lain yang memang sudah ada atau akan dibangun (kembali). Apa pun itu saya yakin kita semua akan menemukan jalan untuk bertumbuh, sebagai individu maupun kelompok, atau sebuah bangsa dan spesies sekalian.

Itu saja rasanya. Ya, saya yakin itu saja. 🙂

Sekian dan terima kasih yang super besar untuk semuanya.

4 thoughts on “Sepatu

  1. Gada keterlambatan, yang ada ketika mereka tersadar dan menyadari akan satu hal saja baik kebenaran atau kesalahan dan lalu mampu meresapinya itu sudah keren. Semangat selalu kang farid, dan kawan-kawan semuanya. semangat untuk selalu berbagi cinta kasih dan kedamaian di jagad raya ini iya. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *