

aku heran dan juga kita heran. dengan mereka—orang-orang berlimpah perkataan.
berlagak tabib pemberi saran kehidupan. pula mahir mencuci kata demi kata adalah pembenaran-membenarkan yang mereka upayakan atas nama belas kasih kepada
aku dan kita.
seolah mereka
peduli, lalu
menjamin:
kata-katanya
mengandung jalan
perubahan diri dan kebahagiaan.
sepertinya mereka tak tahu dan menutup telinga,
perubahan diri adalah mencintai warna sendiri.
lalu kebahagiaan adalah berbahagia.
sepertinya mereka tak tahu dan menutup mata.
lantaran mereka semua berwarna sama,
abu-abu. dan tidak dan jauh dari berbahagia.
seperti produk minuman ringan berlabel bebas gula,
masih mengandung pemanis serupa gula.
maksudku, perkataan mereka seperti bukan manusia.
lebih tepatnya,
kecerdasan buatan tak mengerti orisinalitas perasaan.
Jakarta, 2026
pada dasarnya,
segala ingin-angan
yang kita lakukan
adalah upaya menyiksa
diri sendiri.
tapi kebanyakan,
orang-orang yang,
“melaku-lakukannya”,
menyiksa diri sendiri
yang bukan untuk
dirinya sendiri.
Jakarta, 2026
jika kau sedang berbicara soal jatuh cinta berbunga-bunga, pasti kau
sedang membicarakannya di kedai kudapan yang harga air mineralnya
40 ribu per botol kecil, bukan?
sebab kebanyakan dari mereka tidak membicarakan jatuh cinta yang berbunga-bunga
di warkop pinggir jalan, starling pinggir trotoar, kost teman berukuran satu petak,
rumah teman yang dihinggapi banyak tai kucing, pos ronda beratap bocor: dan kita
tidak membicarakan itu di sana, melainkan patah hati yang berbunga-bunga.
aku bagian dari mereka. takdirku berada di sana: tinggal dan senasib sama dengan mereka. maka lain kali jangan bicara jatuh cinta berbunga-bunga kepadaku lagi.
siapapun, tolong aku, jangan lagi.
aku bilang begini lantaran pernah
jatuh cinta berbunga-bunga.
berulang kali.
berakhir kembali
di kost teman
berukuran satu petak, kemudian lanjut
di rumah teman
yang dihinggapi banyak tai kucing.
lagi dan lagi.
hingga terbesit dalam benakku. jatuh cinta berbunga-bunga.
tak jauh beda,
dengan ruangan sempit yang banyak dihinggapi tai kucing.
itu jika kau tak mampu membicarakannya di kedai kudapan
yang harga air mineralnya 40 ribu per botol kecil.
Jakarta, 2026
siapa itu.
yang juga sedang jatuh cinta kepadamu.
selain aku?
mengapa kau selalu berpura-pura. seolah,
“siapa itu”
seperti pasmina satu-satunya milikmu
yang kau selalu gunakan untuk menutupi
potongan rambut cepakmu dariku.
maukah kau memberitahuku,
siapa itu?
mengapa kau selalu saja tak mau jujur, tentang,
siapa itu?
apakah kau takut aku kecewa dengan potongan cepakmu.
kau pikir rambutmu takkan pernah tumbuh panjang lagi, begitu?
bagaimana dengan penantian panjangku dan tambah lagi
patah hatiku yang akan tumbuh panjang bersama rambutmu?
tetap saja. tetap saja. aku tak tahu.
apakah rambutmu sudah tumbuh panjang lagi
bersama penantian dan patah hatiku
yang juga terus tumbuh memanjang.
karena tertutup oleh pasminamu itu.
Jakarta, 2026
kulihat di hadapan banyak orang,
mereka kesetanan, menanyakan
segala hal: ruang dan rekomendasi.
mereka berkata, siap mengembara
untuk memperoleh sesuatu.
sembari mempertontonkan wajah
riang gembira dan antusias berlebih.
di hadapan banyak orang
lantas mereka berseru,
“hidup perlu menerpa angin!”
“hidup perlu menerpa angin!”
semua banyak orang hening.
sedang di luar sana menuju badai:
yang sebenarnya mereka itu takut.
dicari-carinya lagi alasan-pembenaran
untuk meyakinkan banyak orang.
di hadapan banyak orang,
kembali mereka berseru lagi,
“hidup harus menerjang badai!”
“hidup harus menerjang badai!”
sejujurnya itu tidak membuatmu
terlihat filosofis.
malah justru kau terlihat seperti
seorang autis.
Jakarta, 2026
Seorang pemuda acak biasa asal Jakarta yang menasbihkan waktunya untuk studi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan membaca karya sastra.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!