Senin Harga Naik (Film), Mengajarkan Kita tentang Rumah

Kamis lalu kami menonton film di bioskop kesayangan warga Jember, Bioskop KCM (Kota Cinema Mall Jember). Bioskop yang sudah berdiri kokoh sejak era orde baru tersebut menuai banyak kisah cinta di dalamnya. Sejak 2000-an awal ketika seseorang mengarahkan rute kencannya hingga tahun 2026 saat ini.

Kami agak telat karena jalanan ternyata padat. Masih dalam masa hari raya idul fitri, banyak orang sudah mulai balik ke tempat tinggalnya, kembali melanjutkan pekerjaannya.

Sebenarnya pemutaran film dimulai pukul 11.10 WIB, tapi kami memulainya pada jam 11.25 selepas pesan tiket di kasir. Entah di tempat lain sama atau tidak. Mugkin ini-lah kebihan KCM. Santuy boss~

Kami duduk di deretan H, antara H6 & H7. Untungnya, meskipun sudah agak telat kami masih nututi  awal film. Film berdurasi 116 menit ini, kami tonton sambil berbincang.

Mutia dan Dilema Kantor-Keluarga

Setiap mau pulang sehabis main, Mutia selalu kebingungan dan kesasar. Kadang ia sampai menangis karena bingung. Apa boleh bikin tempat tinggalnya adalah sebuah kampung kota yang berisi rumah-rumah kecil yang berhimpitan. Begitu dempetnya jarak antar rumah di sana, mau bernapas saja rasanya seperti sedang diserang asma.

Hingga akhirnya sang ibu yang tak tega melihat Mutia cilik selalu menangis saat mencari jalan pulang, menjadikan rumah sekaligus toko roti mereka sebuah mercusuar kecil.

Senin Harga Naik mengisahkan Mutia (Nadya Arina), seorang perempuan muda ambisius yang memilih meninggalkan rumah setelah pertengkaran hebat dengan sang ibu, Retno (Merriam Bellina). Dengan diliputi amarah dan keinginan membuktikan diri bisa sukses, Mutia bertekad meraih kesuksesan tanpa campur tangan keluarga.

Tiga tahun kemudian, ambisi tersebut membuahkan hasil. Mutia berhasil membangun karier gemilang di perusahaan properti besar.

Namun, keberhasilan itu justru menyeretnya pada dilema terbesar dalam hidupnya. Secara kebetulan ia mendapat proyek pengembangan kawasan komersial, dan “sialnya” area pembangunan itu mencakup toko roti Mercusuar, yang sekaligus rumah masa kecilnya.

Meski awalnya Mutia ragu, dengan misi baru dari kantornya ini, dengan iming-iming kenaikan jabatan dan gaji 5x lipat akhirnya ia bergeming.

Pertemuan sekaligus kepulangan yang aneh itu awalnya adalah upaya Mutia untuk memuluskan tujuan kantornya, negosiasikan harga tanah. Rupanya urusan itu berubah jadi upaya membuka luka lama, dan pulang pada kenangan tentang masa lalu, dan pengorbanan-pengorbanan yang akhir terkuak sedikit demi sedikit sepanjang film.

Di titik inilah Mutia dipaksa mempertanyakan kembali bagaimana arti kesuksesan, keluarga, serta makna sesungguhnya dari sebuah rumah. Di tengah ambisi dan rasa bersalahnya, Mutia harus memilih antara mempertahankan kariernya atau menjaga warisan keluarga.

Sebab bagaiamanapun toko Mercusuar tersebut bukan sekadar bangunan lama, melainkan sebuah saksi sejarah bagi keluarga dan masa kecil Mutia. Bagiamana mungkin ia tega “menggusur” mercusuar yang dulu selalu memandunya pulang.

Refleksi Soal Rumah

Film bisa menjadi refleksi bagi kita. Ia mencoba memberikan pemahaman fundamental tentang pentingnya menjaga ruang hidup, menjaga rumahtempat lahir kita dari apapun yang berusha mengusiknya.

Film ini mengingatkan kita bahwa bentrok perebutan lahan antara rakyat biasa melawan otoritas kapitalistik adalah realitas sehari-hari. Mulai dari cara merebut yang halus, dengan penawaran kegiuran duniawi demi kepentingan industri.

Pembebasan lahan, adalah sebuah eufimisme, yang sejatinya adalah penggusuran ruang hidup dari mereka yang tak berdaya.

Sebab begitu banyak kasus perebutan dan penggusuran lahan yang diaktori oleh korporat bahkan Negara selalu berakhir dengan pihak rakyat biasa yang kalah. Lihat peristiwa Sangihe, penggusuran paksa di Rempang (Eco City), Konawe Selatan, serta penggusuran lahan petani di Padang Halaban. Bahkan sampai memicu pelanggaran HAM.

Bagaimanapun tanahlah yang menjadi tempat kita untuk berpulang serta beristirahat. Merebahkan badan, tempat berkumpulnya keluarga, dan bertetangga dengan riang.

Film ini  bisa menjadi stimulus pikiran kita untuk bertanya-tanya tentang adakah yang lebih mewah daripada hangatnya suasana rumah sendiri, hasil jerih payah sendiri, dan memori-memori yang tersimpan rapi di dalamnya.

Author

  • Qoyyumil Ahsaniah S. K.

    Lahir di Jember, 1 Maret 2003. Tertarik pada isu-isu sosial, lingkungan, dan kehidupan kucing yang sering dituangkan dalam bentuk puisi dan cerita. Saat ini berdomisili di Jember, dapat dihubungi melalui Instagram @q.ahsaniah_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
casibom | parmabet | roketbet | jojobet | jojobet giriş | bets10 | bets10 |