Seniman Pinggir Kali Kalideres

Pernahkah teman-teman mengira seperti apa persisnya kehidupan teman-teman yang biasa menyanyi di warung-warung atau kendaraan-kendaraan umum, atau bisa kita sebut pengamen?

Rupanya mereka bukan cuma sekadar membawa alat musik dan berkeliling menjajakan suara dan permainan musiknya, mereka juga berkumpul dan mengorganisir diri. Saling menjaga dan saling melindungi layaknya setiap komunitas sosial yang ada di mana-mana.

Kali ini saya mau memperkenalkan salah satu komunitas pengamen di Kalideres, Jakarta Barat.

Nama komunitasnya adalah Seniman Pinggir Kali (SPK). Sebagaimana yang saya sebut sebelumnya, ini adalah komunitas pengamen di Terminal Kalideres yang berdiri sejak tahun 2023. Beranggotakan sekitar 30 orang, laki-laki dan perempuan. Ada yang suami istri, ada juga yang bersaudara. Mereka dipimpin oleh M. Abdillah, yang dipilih langsung oleh kawan-kawan karena dianggap paling bijak dan punya jiwa melindungi yang kuat.

Tempat kumpul mereka sederhana, cuma di warung kopi pinggir jalan, tepat di depan terminal. Tapi dari tempat itu, banyak cerita dan kehidupan yang tumbuh.

Latar belakang kawan-kawan pengamen ini juga tak kalah beragamnya. Ada yang asalnya dari Tangerang, Serang, Sukabumi, sampai Jakarta. Tapi mereka tetap bertahan, sebagian besar mengontrak di sekitar Kalideres, walaupun ada juga yang bolak-balik dari Tangerang – Jakarta Barat. Sehari-hari mereka mengamen. Uang receh lima ratusan sampai lima ribu rupiah itu sama berartinya buat mereka. Namun masalahnya kehidupan jalanan jelas tidak mudah.

Agar kehidupan jalanan menjadi sedikit lebih tertannggungkanbuat kawan-kawan pengamen ini, mereka berkumpul di SPK, sehingga semuanya jadi lebih tertata. Mereka punya aturan sendiri, supaya nggak saling sikut antar pengamen. Sekaligu menumbuhkan rasa saling jaga dan saling ngerti dalam mencari nafkah. Lebih kerennya lagi, mereka juga punya kas bersama, dengan patungan dua ribu rupiah per hari. Meski jumlahnya kecil, tapi maknanya besar untuk mereka.

Adanya upaya mengorganisir diri seperti ini, menimbulkan rasa persaudaraan dan solidaritas. Sehingga di tengah bisingnya kendaraan dan kerasnya jalanan, mereka punya support system untuk menjaga semangat berjuang buat keluarga.

SPK ini bukan sekadar komunitas pengamen. Banyak dari mereka adalah orang-orang yang sedang dalam proses pemulihan. Itu juga yang bikin mereka sering kena stigma dari masyarakat. Penampilan seperti tato dan tindikan sering bikin orang langsung menilai buruk. Patut disayangkan, padahal mengamen adalh pilihan yang lebih baik daripada korupsi dana haji, misalnya.

Menariknya, meski kawan-kawan ada di tengah keterbatasan–terutama karena distigmatisasi–kepedulian mereka justru besar banget. Mereka pernah santunan anak dengan HIV di peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2025, tampil musik jalanan di Hari Narkotika, berbagi takjil setiap Ramadan, sampai galang dana untuk anak yatim dan korban bencana di Sumatera. Bahkan, mereka sering diundang ke acara komunitas penyanyi jalanan di Banten dan wilayah lainnya.

Sejak didirikan SPK ingin membangun komunitas yang bisanya cuma meminta, melainkan juga memberi. Dalam satu dua kesempatan mereka rela mengurangi waktu cari uang, turun ke jalan buat galang dana ketika ada peristiwa-peristiwa bencana alam. Bahkan dari kas kecil yang mereka kumpulkan tiap hari, tetap disisihkan untuk orang lain. Mereka nggak pernah merasa terlalu kecil untuk berbagi, buat mereka, berbagi itu kewajiban, bukan soal mampu atau tidak.

Sekarang, SPK juga mulai memperluas jaringan. Mereka belajar merapikan administrasi, bikin dokumen sendiri tanpa calo, sampai mulai paham akses jaminan kesehatan. Lebih dari itu, mereka juga belajar mengadvokasi diri mereka sendiri. Supaya bisa berdiri setara, tanpa stigma dari masa lalu.

SPK mungkin lahir dari ruang yang gelap, tapi mereka sedang menyalakan cahayanya sendiri. Mereka terus berjuang, tetap berdiri, dan terus berkarya.

 

Author

  • Puspa Yunita

    Pegiat sosial yang sehari-hari membersamai masyarakat akar rumput. Aktif dalam kegiatan kemanusiaan, pemberdayaan, dan advokasi. Percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | bahiscasino | bahiscasino giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | norabahis | jojobet giriş | Report Phishing | Ultrabet |