Seni Mengelola Harapan sebagai WNI Sejati

“ … All of those dark moments and hard times are part of the river that have led to now. The future might, and probably will, bring those hard times again. But life and the river flow on”.

Dahulu kala ada seorang petani yang mendapati kudanya lepas dari kandang. Warga desa berkumpul dan mengatakan bahwa si petani sedang sial.

Si petani membalas, “mungkin saja.”

Namun keesokan harinya, kuda yang hilang itu kembali ke kandangnya dengan enam kuda liar bersama.  Seketika semua orang bilang bahwa pak tani untung besar.

Petani menjawab, “mungkin saja.”

Kali lain anak pak petani mencoba menjinakkan salah satu kuda liar yang ada, namun mengalami kecelakaan dan mengalami patah kaki.

Kemudian seperti yang bisa ditebak, semua warga desa mengatakan bahwa itu adalah kesialan. Lagi-lagi petani itu merespon, “mungkin saja.”

Di lain waktu serombongan prajurit yang memasuki desa untuk mencari pria muda dan kuat untuk ikut berperang.

Tetapi karena kaki anak pak tani patah, ia pun tidak direkrut. Otomatis ia terhindar dari perang yang sangat mengerikan. Sungguh nasib yang mujur, kata orang-orang desa, dan petani masih berkata

“Mungkin saja.”

 

Mengelola Harapan seperti WNI Sejati

Setiap kali kita ganti presiden, saya selalu teringat kisah ini. Terutama soal mengelola harapan.

Karena setiap kali presiden baru naik, tak ayal jika ada harapan baru di hati warga. Hal ini tentu tak bisa dielakkan, nampaknya secara naluriyah begitulah kondisi psikologis manusia, sejarah membuktikannya berulang kali.

Idealnya pemimpin yang efektif mampu menyentuh naluri kolektif manusia seperti kebanggaan, loyalitas, antusiasme, dan entah, lah. Setiap mereka yang unggul di politik selalu berhasil membangkitkan rasa kebersamaan dan pengabdian terhadap kepentingan bersama.

Dalam momen tertentu, hal ini bahkan dapat dirasakan seperti pengalaman menyatu dengan sesuatu yang lebih besar, yang kemudian melahirkan optimisme baru.

Secara historis, pergantian kepemimpinan sering dipandang sebagai titik balik dari kekacauan menuju ketertiban. Misalnya ketika Augustus berkuasa di Roma setelah periode panjang perang saudara, masyarakat Yunani merasakan kelegaan yang mendalam karena stabilitas akhirnya tercapai.

Tak heran jika rakyat pun cenderung melihat pemimpin baru sebagai sosok pembawa kedamaian dan keamanan.

Pada dasarnya, manusia memiliki naluri untuk mencari perlindungan dari bahaya. Naluri ini mendorong munculnya harapan baru, terutama ketika kehidupan terasa sulit. Persis seperti kita saat ini.

Pemimpin baru juga kerap dipandang sebagai simbol fajar yang cerah. Harapan ini lahir dari kebutuhan akan pelarian dari kegagalan masa lalu.

Namun di sisi lain, harapan yang muncul secara instan seperti yang sering kita lalui ini, terutama melalui pemilihan umum yang kita punya, juga dapat dipandang sebagai semacam “fetish” modern.

Sistem politik seolah menciptakan ilusi bahwa selembar kertas suara mampu menghadirkan emansipasi, kebahagiaan, dan kebebasan, padahal dalam praktiknya, masa pemilu sering kali justru menjadi mekanisme mempertahankan kekuasaan segelintir orang.

Jujur saja kita tak bisa lagi menumpukan harapan pada mandat konstitusi, yang menegaskan kewajiban negara untuk memajukan kesejahteraan umum, melindungi yang lemah, serta menyediakan layanan publik yang layak.

Buktinya kita lebih memilih punya “Pemimpin Baru” daripada sistem baru yang lebih baik. Kita seperti apa yang Einstein katakan: melakukan sesuatu yang sama berulang-ulang, dengan harapan akan menghasilkan hal yang berbeda. Sepoerti bermain dadu.

Kita mengerti bahwa faktor yang mendorong harapan ini adalah keinginan untuk melepaskan diri dari masa lalu. Siapa yang tak mau tampil percaya diri setelah pernah diumumkan sebagai negara korup dan rendah literasinya?

Namun, apakah harapan ini selalu efektif? Seperti halnya masyarakat Romawi yang berharap pada Augustus, masyarakat Indonesia juga kerap menaruh ekspektasi besar pada pemimpin baru.

Semua itu bisa dimaklumi terutama setelah masa krisis, baik kriris politik maupun ekonomi. Hal ini terlihat dalam berbagai fase sejarah, seperti peralihan dari Orde Baru ke Reformasi.

Dalam sistem demokrasi, idealnya memang rakyat memegang kedaulatan tertinggi. Proses pemilihan pemimpin menghidupkan kembali kesadaran bahwa nasib kolektif berada di tangan mereka sendiri. Kesadaran ini secara psikologis memicu optimisme akan perubahan.

Pada akhirnya, harapan baru di Indonesia bukan sekadar luapan emosi, melainkan refleksi dari sikap “mungkin saja” yang ditunjukkan oleh sang petani.

Sebuah sikap yang, mungkin cenderung acuh tak acuh. Tapi menurut saya hanya itulah respon yang waras dan paling WNI.

Tidak terjebak dalam euforia, tidak juga merasa putus asa. Hanya “mungkin saja”.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | jojobet | hiltonbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | deneme | jojobet giriş | Report Phishing | pusulabet | pusulabet | pusulabet | hiltonbet | grandpashabet giriş | grandpashabet güncel giriş | grandpashabet adres |