

Pernah bertanya-tanya kenapa banyak om-om genit rajin datang ke karaoke?
Itu karena mereka sudah tua dan mereka ingin bertemu lady. Lady companion. Tapi percayalah laki companion itu jarang terjadi sebab biasanya laki cut the onion di dapur tempat karaoke.
Apakah dunia sudah terbalik?
Padahal katanya urusan perempuan terbatas pada sumur, kasur, dan dapur.
Ternyata standar itu tidak berlaku bagi seluruh perempuan. Standar itu mungkin berlaku hanya pada sebagian saja ibu rumah tangga. Ibu-ibu yang memilih (atau dipilihkan?) untuk menetap di rumah.
Beda kasus dengan perempuan lain yang menyandang status sebagai ibu rumah tanggal. Menanggalkan rumah untuk mencari nafkah juga sebagai profesional. Kadang professionalisme orang tua tunggal, atau memang komitmen bentuk kerja sama dengan suami. Di tanggal-tanggal tertentu menantikan turunnya gajian untuk kebutuhan rumah. Bisa jadi rumahnya sendiri, terkadang juga membiayai rumah sakit untuk merawat satu diantara anggota keluarganya, dan setidaknya setahun sekali menyetor uang juga pada rumah zakat. Atau yang lainnya menyetor pada rumah ibadah.
Jadi salahkah para perempuan yang menempuh jalan sebagai ibu rumah tanggal?
Di kalangan sekelompok laki-laki itu menjadi masalah besar. Tak tahulah apakah itu menjadi sebuah salah atau benar. Mungkin memang kita punya standar ganda untuk melihat perempuan. Padahal ganda itu adalah dua, dan dua adalah genap. Tapi standar ganda ternyata adalah hal yang ganjil.
Ganjil adalah angka-angka yang bila dibagi dua tidak menghasilkan bilangan bulat. Lantas, kenapa kita mesti memisahkan mana bilangan yang bisa dibagi dua dan tidak? Kenapa mesti ada bilangan genap dan ganjil. Lagi, genap kesimpulan bahwa perkara ini juga ganjil.
Selanjutnya kenapa bila ginjal tersisa sebelah tidak kita sebut saja sebagai ganjil?
Kamu mungkin melewatkan pertanyaan-pertanyaan ini. Mungkin karena terlampau egois mengurus banyak hal di luar dirimu, tapi tidak apa. Kamu terlalu disibukkan dengan perihal pemenuhan kebutuhan dasar. Dasar kamu. Jangan terlalu stres, ya!
Harga bahan pokok yang terus melambung setiap tahunnya. Nominal harga itu membuat dinding lambung berdecit-decit. Perih yang banyak bersumber dari stres. Sedang nominal gaji serupa lambang. Lambang patut diupah atas curahan waktu, tenaga, dan pikiran. Patut dipertanyakan. Biaya pengeluaran kian naik. Pendapatan tetap. Pendapatnya berganti, dari yang sempat cukup beralih ke dicukup-cukupkan.
Saat lambung sibuk mencerna makanan, otak di lain waktu disibukkan mencerna informasi yang begitu beras. Maksudnya, deras. Masih saja pikiran terkunci pada kebutuhan dasar. Dasar aku.
Iya, informasi yang begitu deras. Saat kamu sedang berangkat kerja menggunakan jasa ojek daring, kamu mengonsumsi kabar dari media sosial. Kamu kesal karena ada saja berita buruk menghiasi harimu yang cerah dan tersiram terik matahari, hingga kulitmu terbakar dan butuh perlindungan produk sunscreen.
Saat kamu kesal karena berita tersebut, ban motor menabrak sebuah benda bernama polisi tidur di jalan. Kamu tergoncang dari dudukmu di jok. Kamu kembali naik pitam sebab terkejut sebab tidak siap. Lalu mengutuki kehadiran tonjolan tersebut. Terbesit sebuah pikiran, dalam posisi tidur saja ia sudah bikin orang tidak tenteram, apalagi kalau terbangun?
Amit-amit bila ia harus terbangun dan sibuk di dapur mengurus makanan.
Tidak cukupkah dengan biasa makan biaya dan sehari-hari makan korban?
Tapi mungkin memang sikap adil harus dimulai sejak dari pikiran. Aku pernah baca kalimat itu di satu tempat.
Bahwa mereka memang memiliki kapabilitas untuk juga mengurusi makanan. Yakinlah karena jam terbang mereka begitu tinggi. Bisa dilihat dari perut-perut buncit di balik seragam yang mereka kenakan. Mereka tahu jenis makanan yang baik dan buruk untuk mereka sajikan kepada khalayak. Hanya saja, ketika pekerjaan sendiri belum tuntas, lalu mengurus perkara lain. Apa layak?
Layaknya sebuah pepatah yang berkata “bagai mendapat durian runtah”. Seakan-akan ada yang namanya penerima manfaat. Padahal hanya mendapat sampahnya saja. Anak-anak bisa makan siang di sekolah. Bagi yang tak bersekolah, nanti dulu. Sudah tidak sekolah, tidak makan pula.
Beruntung kamu belum beranak. Tidak perlu repot mengkhawatirkan hari ini anakmu akan keracunan atau tidak. Bukan karena belum dikaruniai, melainkan belum siap dititipi. Anak katanya adalah rejeki, sekaligus merupakan titipan. Itu juga mungkin alasannya, banyak orang titip-menitip anak di tempat kerja, dan kamu tidak mau anakmu kamu titipi di tempat kerjamu sekarang.
Sekarang kamu sudah tiba di tempat kerja. Tempat kerja apa?
Pak Tempat adalah pengemudi ojek yang tadi kamu boncengi. Jelas Pak Tempat tidak kerja di tempat melainkan di jalan, dan jalan yang tersedia untukmu dalam mencari nafkah adalah menjadi pendamping lagu. Kamu melakukan pemanasan sebelum bekerja. Mengolah suara. Mengolah rasa. Mengolah raga.
Dalam olah suara, kamu mengencangkan otot perut. Mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulut, mengeja huruf vokal a, i, u, e, o. Melantunkannya dengan nada do, re, mi, fa, sol, la, si. Si vokal. Kamu teringat bahwa kamu dijuluki sebagai si vokal. Ketika kuliah sarjana dulu karena aktif menyuarakan berbagai hal. Kamu pun aktif tergabung sebagai penyanyi di satu band indie.
Suaramu didengarkan. Baik itu di depan penonton atau pun di muka barisan massa. Masa sih? Tentu tidak ada yang percaya berkat kehidupan yang kamu jalani sekarang. Masa lalu. Masalah, Lu?
Biarlah berlalu, tapi kenangan itu biar terus berlalu lalang.
Dalam olah rasa, kamu mengambil penggalan lirik lagu Kupu-Kupu Malam. Kamu hayati baris per barisnya. Sempat juga kamu melirik kupu-kupu saat malam dan kamu penggal. Di momen itu kamu pelajari salah satu keanekaragaman hayati, lalu mengaitkannya pada dirimu. Apakah kamu seekor kupu-kupu yang berasal dari ulat? Atau, kamu adalah malam yang hidupnya dicap gelap.
Di dalam ruang-ruang yang disewakan. Penuh dengan instrumen musik yang minta diisi nyanyian suara-suara sumbang. Kamu bekerja tidak mencari sumbangan. Terjadi sebuah adegan olah raga. Bakat lain tersalurkan bahwa dirimu juga adalah mantan atlet karate. Kamu menendang seorang om genit. Tangannya tidak bisa dia jaga, sebagaimana dia tidak bisa menjaga rasa aman masyarakat. Kaki kamu ayunkan menuju dadanya setelah sepasang jari menggamit pinggulmu. Bagimu, ini semua sudah melampaui batas.
Semua orang panik termasuk bos di tempat kerjamu. Beliau menekankan bahwa kamu salah orang untuk berurusan.
Kamu tidak peduli. Kamu ingat pengunjung itu berperut bulat secara ganjil. Betul saja, bahwa ketika dia bangun, terasa jauh lebih merisaukan.
Pribadi yang aman dari familia penyakit tukak lambung sebab isi kepalanya melompong. Tolong tidak hakimi saya. Hanya Achraf yang Hakimi.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!
keren 👍