

Jakarta menjadi kota yang masuk dalam kota terpadat nomor satu di Indonesia dengan kepadatan penduduk di 2026 berada di angka 152 jiwa per kilometer persegi (km²). Nilainya naik tipis dari 2025 yang sebesar 150 jiwa per km². Ini memengaruhi meningkatnya juga pengunaan kendaraan sebagai transportasi mobilitasi sehari-hari warga.
Akibatnya, pagi hari ketika para karyawan yang ingin berangkat ke kantor menggunakan kendaraan prbadi tumpah ruah di jalan sehingga menimbulkan kemacetan yang tidak terhindari. Sebenernya sih, sudah ada transportasi umum sebagai alternatif yang tersedia untuk mengurangi kepadatan, namun rasanya itu tidak mengurangi kemacetan.
Imbas dari kemacetan itu, menurut saya, berimpek pada emosi individu. Tidak heran, setiap pagi melihat orang saling mencaci di jalan karena tersenggol body kendaraanya atau bahkan sensi akibat disalip oleh pengendara lainnya dari belakang dengan kecepatan tinggi. Lebih parah lagi, adu tarik urat berujung salam olahraga yang tidak terbendung.
Alhasil? Timbullah kemacetan yang panjang, karena menonton adu jotos.
Sebelum Emosi Kenapa Tidak Mawas Diri?
Sebenarnya, salam olahraga dan tarik urat antar pengendara bisa saja dihindari dengan memikirkan bahwa setiap pengendara mempunyai kepentingan masing-masing ketika di jalan. Hal ini, menurut saya cocok sekali dengan teori ngaji diri atau self-instropection yang pernah dipelajari sewaktu saya masih tinggal di Cirebon. Pengalaman saya berteman di lingkungan kampus, dialog mengenai merekayasa perlakukan kita ke orang lain ke diri sendiri menjadi lumrah dan menarik untuk menghindari menyakiti orang lain tanpa kita sadari atau merasa paling benar atas perilaku kita.
Contoh kecil saja, sebelum kita mem-bully teman maka kita harus merasakan diposisi orang yang dibully. Namun rasanya, agak susah menahan emosi yang membeludak dan mendinginkan kepala dalam satu waktu. Saya pernah sering bahkan sampai hari artikel ini ditulis pun masih marah-marah di jalan.
Pasalnya, waktu tempuh saya dari rumah di Jakarta Selatan ke tempat kerja di Jakarta Timur memakan waktu sekitar 1 jam perjalanan. Belum lagi, ditambah dengan kemacetan. Paling kesal ketika diperjalanan ada motor yang menyalip dengan kecepatan tinggi menggunakan knalpot brong dan memotong jalan ala pembalap itu, serasa ingin meneriaki dengan kata-kata jorok. Pernah disuatu kesempatan saya meneriaki pengendara yang ugal-ugalan, kemudian terdengar. Dari situ saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk meluapkan kekesalan, tapi bukan malah melepaskan kemarahan malah berbuah tontonan dan kemacetan akibat saling ngotot di tengah jalan.
Setelah kejadian itu, ngotot di jalan bukanlah sebuah solusi untuk menyadarkan, tapi malah memperkeruh keadaan. Mungkin dengan kita tidak melakukan salip-menyalip setidaknya meminimalisir pengendara tak waras. Alasan masuk akal untuk tidak emosi dijalan adalah merasakan bahwa semua orang memiliki kepentingan yang tidak kita ketahui dan mengontrol diri tidak melakukan hal sembrono yang mengganggu kenyamanan pengendara lainnya.
Coba Mandiri Emosi Dipadatnya Jakarta
Selain kemampuan “ngaji diri” yang memang penting buat saya maupun orang Jakarta lainnya belajar mandiri secara emosional juga hal yang wajib dilatih. Apalagi hidup di Jakarta itu serba cepat dan cenderung keras, seolah gak kasih ruang buat santai. Kita dituntut sigap ke semua tempat, sampai kadang lupa kalau menjaga emosi diri sendiri itu justru kunci biar tetap waras.
Dari pengalaman saya berbaur dengan warga Kediri, ada hal menarik yang bisa dipelajari dari cara mereka guyon.
Pertama, mereka cenderung menghindari kata-kata yang bisa bikin suasana jadi nggak enak, jadi tetap adem. Kedua, kalau ada guyon-an yang mungkin nyakitin, mereka nggak langsung membalas, tapi lebih memilih senyum atau menjauh. Dari situ kelihatan kalau kesadaran mengelola emosi itu penting banget, apalagi kalau dibandingkan dengan ritme Jakarta yang super cepat dan kadang semrawut.
Minimal, dalam situasi seperti macet di jalan, kita bisa coba menghindari pengendara yang berpotensi bikin emosi naik, atau cukup nggak merespons hal-hal yang menyebalkan. Buat saya, sikap menghindar atau memilih diam itu bukan berarti pengecut, tapi justru tanda kalau kita punya kontrol emosi yang baik.
Semua di Jakarta itu Capek!
“Semua orang capek, udah gak capek kalo udah di surga,” begitu kata Aldi Taher ketika diwawancarai satu televisi nasional.
Memang pernyataannya seperti asal ceplos, tapi ketika saya pahami ternyata hidup di kota sepadat Jakarta memang gak bisa dilepaskan dari macet, kendaraan yang numpuk, dan tekanan emosi di jalan. Namun dari semua itu, sebenarnya yang paling penting bukan cuma soal gimana kita menghadapi kondisi luar, melainkan gimana kita ngatur diri sendiri. Emosi yang meledak-ledak di jalan justru bikin keadaan makin kacau, bukan menyelesaikan masalah.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!