KITA

Kita telah melupa pada waktu

yang dengan sengaja merenta

entah pada gelap ruang yang mana

kau–aku realita fana

tersedu dalam hitungan nasib

tak lagi memburu usia

Sampai suatu ketika

kita sering terpaku pada masa lalu

mengantar rekaman peristiwa

yang dekat tak harus di mata

yang indah tak mesti dirasa

yang hilang biarlah tiada

Kita berpuluh-puluh kali

menirukan suara dan gerak

tapi gemanya tetaplah detak jantung

kata-kata menjadi rahasia hati

yang lahir kadang basa-basi

Selalu kita berseteru

lewat sunyi

karena katamu

kita dua permintaan

yang sering menangisi perjumpaan

Catatan, 14022017

LEPASKAN AKU

Tuhan,

aku ingin menjadi bintang agar bisa menguasai malam, mengitari semesta dengan cahaya, menjadi tarian gemulai saat kerlap-kerlip jatuh ke segala arah.

Biarkan aku mendaulat sepi menjadi tamu, saat gundah mengaduk rasa dan kata-kata hening dari warta dunia. Aku, linang luka menggelapi pekat tanpa nama, rindu pun berkelana; tiada kisah.

Tuhan,

Aku selalu rebah dalam kuasa-Mu, mencari-cari ujung pasti, tapi, kilatan cemburu menggodaku. Seperti benalu melilit reranting, pohon-pohon lelap diamuk nyeri, terkulai menunggu mati.

Lepaskan aku dari perih, saat ketidaksanggupan hanya ilusi, merampas yang termiliki, suara-suara merupa bunyi, lebih nyaring dari tangisan bayi. Yang datang tak terpandang, yang jauh dipikirkan.

Tuhan,

Aku telah hilang warna, memintal sabda tanpa gelora, adakah wujud sempurna yang lebih sejati dari cinta, hingga karena luka tak ingin aku menyinta, sebab dalam kebesaranMu aku telah pulas sebagai pemuja-Mu.

Madura, meniti sunyi 20112017

SEMBILAN PULUH SEMBILAN

Aku belajar menjadi celah

dari angin yang tiba-tiba singgah

Anyir darah melukai beku

melayatkan mimpi pilu di wajah ibu

Masih kemarin aku menakwil kenang

Sebab arus hidup terus berputar

Sembilan puluh sembilan bintang

Kutafsir dalam bilangan

Ayat-ayat biru merapal nyanyian

ketika kerlip jatuh di pangkuan

“Bukannya takdir hukum alam tak

harus kau tundukkan dengan

tangisan”

Sembilan puluh sembilan kali

aku lelap di atas ayunan

Menangkap bayangmu jauh

ke dalam ingatan

Bulan telah kunikahi saat udara

melepas hujan

Setajam doamu; kau asah dengan rintihan

Sembilan puluh sembilan rahasia

menjadi tanda paling gema

Menyambangi ritual sepi yang

ingin kau bagi

Biarkan kepulangan mengabadi di ketukan jemari

Kala lambaian isyarat paling

misteri

Tak dapat dimengerti bagi langit atau pun bumi

Catatan, 11122017

DI SINI KITA MENULIS CERITA

Ada yang tergambar di sini

Pada cuaca ambang senja

Jemari yang bertaut pasrah

Gemuruh riang suara jiwa bersenda tawa bahagia

Ada yang tak bisa lepas dari memori

Ombak mengecup buih melintasi karang-karang

Seakan berbuku-buku cerita kita

Lindap di rimbun pohon bakau; menaungi pantai

Disini, kita merangkum nostalgia

Kerang-kerang yang tinggal cangkangnya

Menjadi irama ngilu saat kaki kita menyentuhnya

Tapi kita tak kenal luka sebab cinta menjadi penawarnya

Kini, kita masih di sini

Memandang laut lepas sembari berlari

Meski sunyi menabir gelap

Kita tak perduli karena hati telah termiliki

Madura, 08/11/17

YANG ADA DI SINI

Kesepian panjang

Pada cerita, terbahasa

antara kita

Meski jarak manahan langkah

Keberanian bungkam begitu saja

Yang tinggal di sini

Kenangan tak henti mengalir

Membawa segenap nestapa

Bahagia yang tersisa

Doa-doa malamku

Hijrah pada bening pagimu

Madura, 16022018

Profil Penulis

Meisya Zahida
Meisya Zahida