

Manusia suka dengan angka
Hitungan yang besar
Hingga letih menghitungnya
Padahal kita acap kali keliru
Gaji dan bonus memang besar secara angka
Tapi terkadang membuat terlena
Habis dalam sekejap
Terlupa menulis di pembukuan
Begitu pula dengan umur
Perayaan megah menyambut angka baru
Sampai terlupa
Bahwa umur di dunia sebagai hitung mundur
Di akhirat nanti
Lupa dan khilaf
Itulah manusia
Kita jarang menghitung dosa
Mengabaikan dosa kecil
Kemudian berubah menjadi dosa besar
Tapi tetap tak sadar
Tak mengingat keberadaan Tuhan
Yang harus dihitung justru terabaikan
Akhirat bukan arena bermain
Di sana adalah tempat perhitungan
Yang sesungguhnya
Bukan soal materi
Tapi amal baik dan buruk selama di dunia
Berbunyi dan berbunyi
Berulang kali
Semakin kencang
Hingga terjatuh
Tetapi aku tetap
Tak beranjak dari kasur
Aku tak suka
mendengar suara berisik
Di pagi hari
Setiap hari kejadian berulang
Berbunyi dan berbunyi
Lalu terjatuh dari nakas
Lagi-lagi aku tak peduli
Sampai suatu hari
Aku terbangun
Bukan karena suara berisik jam weker
Tetapi justru karena tak ada bunyi lagi
Katanya, tak bisa diperbaiki lagi
Aku takut
Aku menyesal
Aku yakin, pasti bisa hidup kembali
Aku berjanji akan bangun
Sebelum dibangunkan
Aku berjanji tak akan
mengabaikan panggilannya lagi
Aku masih menunggu keajaiban
Satu jam
Satu hari
Satu minggu
Jam weker kesayanganku
Kali ini benar-benar menyerah
Pergi meninggalkan aku yang lalai
Dia benar-benar sudah lelah
Maafkan aku, Ibu.
Setiap 3 hari sekali
Sudah waktunya
Meletakkan galon kosong di depan rumah
Dan segera
Memanggil abang isi ulang galon
Aku selalu tahu
Deru motor abang galon
Yang begitu ciri khas
Motor bebek itu
Mampu membawa sekitar 20 galon kosong
Kepiawaian mengatur keseimbangan
Tak perlu diragukan lagi
Tak perlu menunggu terlalu lama
Dia kembali
Kali ini dengan galon berisi air
Pelepas dahaga
Aku membayangkan
Betapa letihnya memikul puluhan galon
Setiap hari di pundak
Mesti otot menegang
Tapi tak mengeluh
Ada kehidupan
Ada harapan keluarga
Ada cita-cita
Dibalik galon-galon yang dia pikul
Air galon yang kosong
Kini sudah terisi penuh
Air yang adem
Berhasil menyelamatkan kekeringan
Di kerongkongan
Terima kasih, Abang Galon
Rumah mewah
Harta melimpah
Rutin liburan ke luar negeri
Garasi penuh dengan BMW
Daripada memilih beasiswa berprestasi
Mereka mengambil jalan pintas
Merebut beasiswa yang seharusnya
Dimiliki oleh orang yang
benar-benar membutuhkan
Rumah mewah diganti dengan gubuk
BMW diganti dengan angkot
Iphone belasan juta diganti
dengan android satu jutaan
Berusaha sangat keras
demi mencuri hak orang lain
Yang sesungguhnya
Tak pernah layak untuk mereka raih
Lalu di kampus
Di ruang terbuka
Sambil merekam video
Mereka berkoar-koar tentang korupsi
Berlagak anti dengan maling
Padahal saling bersahabat
Sungguh menjijikkan