Seluk-Beluk Kampung Inggris Pare

Selamat datang di Kediri. Kota yang terkenal dengan tahu takwanya ini, memiliki banyak tempat yang dikenal di seluruh Indonesia. Dari ikoniknya Gumul, sebagai bangunan yang mirip Arc De Triomphe di Paris, Gunung Kelud yang pernah meletus Februari 2014 dengan sebaran hujan abu vulkanik sampai ke Jawa Tengah, dan tak lupa Kampung Inggris Pare, tempat yang dikenal oleh banyak orang sebagai kawasan eduwisata Bahasa Inggris.

Sebelum membahas lebih jauh tentang kampung Inggris, mari kita kenali dulu eduwisata. Sebutan eduwisata atau wisata edukasi ini adalah penggabungan antara konsep wisata dan pendidikan. Maksudnya, kawasan yang memberikan pengalaman reakreasi sekaligus belajar dalam satu lokasi.

Sering sekali orang-orang dari luar pulau Jawa yang baru saja datang ke Kampung Inggris, mengira Pare adalah bagian dari Kota Kediri. Padahal kawasan ini, termasuk wilayah Kabupaten Kediri berkecamatan Pare di Jawa Timur. Banyak orang yang rela datang dari luar kota bahkan dari luar pulau Jawa, berniat untuk mahir berbahasa Inggris. Tempat yang bisa disebut kawasan eduwisata ini, memiliki lembaga kursus dengan berbagai variasi program. Seperti program reguler, program intensif, dan program spesial.

  1. Program reguler, dari program ini kita bisa mendapat pembelajaran secara menyeluruh. Artinya, belajar mulai dari tahap menghafal vocabulary sampai tahap speaking, berdurasi 2 minggu hingga 1 bulan.
  2. Pilihan program intensif, berisi pembelajaran yang menargetkan member agar bisa menguasai keterampilan membaca, menulis dan berbicara. Dengan durasi waktu 1 bulan sampai 6 bulan.
  3. Ada juga program spesial yang disediakan untuk kebutuhan persiapan ujian atau syarat bekerja, berdurasi 1-3 bulan.

Banyaknya variasi program yang ditawarkan oleh kampung Inggris membuat para calon member menjatuhkan pilihan untuk mengasah keterampilan berbahasanya di sini. Akhirnya, melebarlah kursus ke berbagai Bahasa Mandarin dan Arab, membuat Pare bisa berubah julukan menjadi kampung bahasa.

Selain ragamnya kursus kebahasaan, kepopuleran Pare ternyata membuat para warga lokal sadar akan pentingnya Cross Culture. Istilah ini bukan hanya bisa kita bayangkan dalam persilangan budaya antar negara, tetapi antar suku di Indonesia. Saling interaksi, memahami kebiasaan, dan mengayomi pelancong adalah sebuah perilaku yang menandakan kepeduliaan warga Pare.

 

Popularitas Pare

Kepopuleran Kampung wisata ini dimata para member bahkan calon member kursus, disebabkan adanya daya tarik interaksi yang sehat dalam setiap ruang publik. Mereka bisa saling mengenal tanpa adanya rasa takut akan dibeda-bedakan. Padahal, Pare adalah sebuah kabupaten yang biasa digambarkan dengan ketertinggalan dan sepi. Namun pandangan itu dapat ditepis, karena pengaruh arus informasi media sosial dan kabar getok tular (mulut ke mulut). Konten review atau rekomendasi, membuat calon member terpikat dengan tawaran program kursus yang disediakan, dan gambaran kondisi lingkungan di sekitar Kampung Inggris.

 

Perantau yang Memilih Mukim

Menurut saya, kedatangan calon member (atau sebutlah perantau) memiliki beragam tujuan, dari meningkatkan skill kebahasaan, menambah relasi, sampai berniat untuk tinggal di kampung Inggris dengan jangka waktu lama. Tahu ga sih kamu?

Ternyata banyak lho dari para pendatang yang akhirnya menjadi mentor Bahasa Inggris di lembaga kursus tempat mereka sebelumnya belajar, bahkan ada juga yang sampai membuka kursus sendiri.

Satu diantaranya Lutfi yang berasal dari Purbalingga, Jawa Tengah. Dirinya membuka lembaga kursus bahasa Inggris bernama Eterna English Learning dengan program speaking, grammar dan education. Usaha yang dirintisnya, ternyata berasal dari pengalaman mentor diberbagai lembaga kampung Inggris, selama kurang lebih lima tahun.

Kemudian Burhan asal Tangerang Selatan yang akrab disapa Beroy ini, tadinya hanya menjadi member kursus. Ternyata setelah memutuskan untuk tinggal di Pare, dirinya membuka kursusnya sendiri. Pengajaran online menjadi ciri khas dari kursusnya, dengan memaanfaatkan relasi yang didapat selama tinggal dua tahun di Pare.

Sudah terbayang dong nyaman dan ramahnya tempat ini. Dua orang yang diceritakan tadi, bisa menjadi refrensi alasan buat temen-temen yang ingin tinggal, belajar bahkan membuka kursusnya sendiri. Jadi tak usah lagi minta duit jajan, karena sudah bisa juga menjadi mentor yang pengalamannya dapat dicantumkan di portofolio.

 

Keramahan yang ditawarkan Pare

Saya melihat, saling tegur sapa dan menghargai perbedaan budaya membuat Kampung Inggris memberikan nuansa nyaman. Keramahan warga lokal membuat para perantau antarkota sampai antarpulau merasa diberikan tempat untuk membaur. Tak membedakan cara bergaul dan mengajarkan bahasa lokal adalah sikap mengayomi yang ditunjukan oleh warga lokal sekitar. Teryata sikap tersebut, malah memunculkan efek domino yang positif.

Perantau mencotoh sikap mengayomi tersebut, untuk menyambut para perantau yang baru saja datang. Saling bertukar informasi antar member dari lembaga yang berbeda, menunjukan tempat makan yang murah, sampai berwisata bersama-sama adalah sikap yang diadopsi dari warga lokal. Itulah hal-hal yang bikin betah berlama-lama kursus atau tinggal di daerah Pare. Kawasan yang sebagian besar masih dikelilingi kebun warga, menambah syahdunya ramah-tamah.

 

Dominasi Para Pelancong di Pare

Sebelum seterkenal sekarang menjadi Kampung Inggris, Pare dikenal dengan budaya ngopi yang identik dengan warung kopi sederhana dilengkapi ruang terbuka yang luas dan bersahaja, dan lebih berorientasi pada fungsi sosial ketimbang estetika. Tapi, seiring meningkatnya arus pendatang yang datang untuk belajar, owner usaha kopi melakukan adaptasi dengan menghadirkan konsep coffee shop yang lebih menarik pasar baru.

Lebih jauh, peran pendatang tidak berhenti pada konsumsi semata, tetapi juga berkembang ke ranah literasi dan kewirausahaan. Banyak di antara mereka yang awalnya datang sebagai pelajar, kemudian bertransformasi menjadi mentor, bahkan pelaku bisnis. Sebut saja Bang Apip, seorang pendatang asal Rembang yang telah menetap di Pare selama kurang lebih lima tahun. Selain aktif sebagai mentor di berbagai lembaga kursus dan kelas privat, ia juga merintis usaha coffee shop sebagai respon terhadap peluang pasar yang ia amati.

Menurut pengakuannya, ide membuka usaha tersebut berangkat dari fenomena sederhana dengan banyaknya pendatang yang kesulitan menemukan tempat nongkrong pada malam Minggu membuat minimnya ketersediaan kafe kosong. Dari situ, ia melihat celah untuk menghadirkan ruang alternatif yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat nongkrong, tetapi juga sebagai wadah interaksi sosial yang lebih luas.

Di kedainya, aktivitas komunitas literasi makin melengkapi public space yang dibutuhkan oleh pendatang. Diskusi buku yang dikorelasikan dengan isu-isu ketidakadilan sosial pengerjaan trotoar yang tak sesuai ekspetasi publik sampai perpustakaan jalanan berhasil membangun rasa kepedulian kolektif dari masyarakat lokal.

Bagi saya, coffee shop yang ia kelola tidak semata berorientasi pada keuntungan saja. Ia juga mengembangkan kedainya sebagai ruang publik yang inklusif bagi berbagai aktivitas komunitas. Branding kedai sebagai ruang yang aman dan nyaman untuk berekspresi pun semakin memperkuat karakternya sebagai ruang aman produksi gagasan.

Keren, ya!

Penulis pemula yang masih cari makna ciamik dari kata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!