Self-Worth

Simfoni Takdir

 

Jika bodoh dan pintar adalah garis tangan

Lantas mengapa si bodoh dipasung kehinaan?

Bukankah bintang takkan bisa bersinar,

Jika malam tak pernah ada?

 

Jika miskin dan kaya adalah jubah ketetapan

Lantas mengapa si miskin dibuang ke tepian?

Aksara mereka disumpal sunyi, haknya dipatahkan

Menjadi reruntuhan di balik menara zaman

 

Semua di cipta tuk saling melengkapi

Mengalun indah dalam satu simfoni

Hingga ketukan terakhir menyudahi cerita

Sebab tanah kelak memeluk kita sama rata

 

Biarkan si pintar menjadi pelita yang menuntun

Biarkan si kaya menjadi payung yang mengayun

Hidup berdampingan bukan tentang siapa yang meraja

Melainkan tentang cara kita saling memanusia.

 

 

 

Arti Usaha

 

Bila suatu telah ditakdirkan

Apakah usaha akan menjadi sebuah fana

 

Disisi-Nya banyak orang berdoa

Banyak juga yang berusaha

Namun banyak juga yang hanya ikuti arusnya

 

Ketika ia sendiri tak mampu yakin

Tuhan pun enggan untuk bersabda

 

 

 

Di Sudut Kota Bercahaya

 

Layar laptop kembali menyala di sudut malam yang sepi

Menampilkan tumpukan tugas yang tiada henti

Analisis, jurnal, laporan yang kian memburu

Menghimpit pundak ini dalam pilu

 

Di tengah arus tugas yang datang bertubi-tubi

Hanya satu keinginan yang terbesit dalam hati:

Aku ingin pulang …

Menuju sudut kota bercahaya

 

Sudut kota bercahaya …

Senyuman paling tulus terukir disana

Pelukan paling murni, yang tidak pernah dusta

Untaian doa yang selalu mengalir dengan setia

Tempat paling nyaman untuk berlabuh

Tempat dimana cinta tak sirna oleh zaman

 

Sudut kota bercahaya …

Aku akan pulang …

Tunggu anak ini menuntaskan perjuangan diatas kertas

Menukar dinginnya malam rantau dengan cintamu, Ibu …

 

 

 

Samar

 

Bagaimana jika duka datang tanpa akhir

Diujung nafas si kecil

Yang bertanya: inikah benang tak kasat mata?

Mencari lorong yang dirasa samar

Tiada ujung dirasanya

 

Hanya kepercayaannya ia abadikan

Kepada sosok yang memimpinnya

Walaupun kadang bertanya

Benarkah Tuhan ada padanya

 

 

 

Self-Worth

 

Manusia adalah sosok sempurna

Yang diciptakan oleh-Nya

Tapi pernahkah kita berpikir

Beberapa teguran sering menyapa

Dari sang tanah maupun sosok kekal

 

Apakah karena kita bodoh, atau ceroboh

Atau mungkin sukur kurang jelas terucap

Menilai diri hanya dari angka

 

Kembalilah ke tempatmu

Sedikit gores tak melukai angkamu

Peluk semua lukamu

Kau akan tau harga dari tubuhmu

 

 

 

Di Kala

 

Di kala orang lain terlelap dalam mimpi,

Ada raga yang sujud menjemput panggilan ilahi.

 

Di kala orang lain merancu dusta,

Ada raga yang bermunajat menggapai rida

 

Di kala orang lain berdalih iman,

Ada jiwa yang membeku akan ketakwaan

 

Di kala orang lain bersuka ria,

Ada jiwa yang berkhalwat pada kebijakan

 

Di kala orang lain kufur menutup tangan,

Ada pula langkah yang mengais berkah lewat amal

 

Dan, di kala orang lain berargumen cinta,

Ada jiwa yang meringis menahan rindu sang pencipta

 

Inikah cinta di kala Tuhan?

Ataukah ini kehakikian?

 

Sedang menempuh pendidikan di prodi Pendidikan Agama Islam, UIN SAIZU Purwokerto. Instagram @ta.nyta_ self worth

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!