

Jika bodoh dan pintar adalah garis tangan
Lantas mengapa si bodoh dipasung kehinaan?
Bukankah bintang takkan bisa bersinar,
Jika malam tak pernah ada?
Jika miskin dan kaya adalah jubah ketetapan
Lantas mengapa si miskin dibuang ke tepian?
Aksara mereka disumpal sunyi, haknya dipatahkan
Menjadi reruntuhan di balik menara zaman
Semua di cipta tuk saling melengkapi
Mengalun indah dalam satu simfoni
Hingga ketukan terakhir menyudahi cerita
Sebab tanah kelak memeluk kita sama rata
Biarkan si pintar menjadi pelita yang menuntun
Biarkan si kaya menjadi payung yang mengayun
Hidup berdampingan bukan tentang siapa yang meraja
Melainkan tentang cara kita saling memanusia.
Bila suatu telah ditakdirkan
Apakah usaha akan menjadi sebuah fana
Disisi-Nya banyak orang berdoa
Banyak juga yang berusaha
Namun banyak juga yang hanya ikuti arusnya
Ketika ia sendiri tak mampu yakin
Tuhan pun enggan untuk bersabda
Layar laptop kembali menyala di sudut malam yang sepi
Menampilkan tumpukan tugas yang tiada henti
Analisis, jurnal, laporan yang kian memburu
Menghimpit pundak ini dalam pilu
Di tengah arus tugas yang datang bertubi-tubi
Hanya satu keinginan yang terbesit dalam hati:
Aku ingin pulang …
Menuju sudut kota bercahaya
Sudut kota bercahaya …
Senyuman paling tulus terukir disana
Pelukan paling murni, yang tidak pernah dusta
Untaian doa yang selalu mengalir dengan setia
Tempat paling nyaman untuk berlabuh
Tempat dimana cinta tak sirna oleh zaman
Sudut kota bercahaya …
Aku akan pulang …
Tunggu anak ini menuntaskan perjuangan diatas kertas
Menukar dinginnya malam rantau dengan cintamu, Ibu …
Samar
Bagaimana jika duka datang tanpa akhir
Diujung nafas si kecil
Yang bertanya: inikah benang tak kasat mata?
Mencari lorong yang dirasa samar
Tiada ujung dirasanya
Hanya kepercayaannya ia abadikan
Kepada sosok yang memimpinnya
Walaupun kadang bertanya
Benarkah Tuhan ada padanya
Self-Worth
Manusia adalah sosok sempurna
Yang diciptakan oleh-Nya
Tapi pernahkah kita berpikir
Beberapa teguran sering menyapa
Dari sang tanah maupun sosok kekal
Apakah karena kita bodoh, atau ceroboh
Atau mungkin sukur kurang jelas terucap
Menilai diri hanya dari angka
Kembalilah ke tempatmu
Sedikit gores tak melukai angkamu
Peluk semua lukamu
Kau akan tau harga dari tubuhmu
Di Kala
Di kala orang lain terlelap dalam mimpi,
Ada raga yang sujud menjemput panggilan ilahi.
Di kala orang lain merancu dusta,
Ada raga yang bermunajat menggapai rida
Di kala orang lain berdalih iman,
Ada jiwa yang membeku akan ketakwaan
Di kala orang lain bersuka ria,
Ada jiwa yang berkhalwat pada kebijakan
Di kala orang lain kufur menutup tangan,
Ada pula langkah yang mengais berkah lewat amal
Dan, di kala orang lain berargumen cinta,
Ada jiwa yang meringis menahan rindu sang pencipta
Inikah cinta di kala Tuhan?
Ataukah ini kehakikian?
Sedang menempuh pendidikan di prodi Pendidikan Agama Islam, UIN SAIZU Purwokerto. Instagram @ta.nyta_ self worth
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!