Selepas Panggilan yang Terputus

Satu setengah jam lalu Jordi mengunggah foto pada salah satu grup di media sosial. Kini Jordi tak henti-hentinya mengecek belasan pesan yang masuk ke ponselnya. Grup bernama Janda & Duda Mencari Cinta Sejati itu beranggotakan  13.000 orang lebih dan sangat aktif. Itulah kenapa Jordi tak henti-hentinya merasa geli dan terkikik membaca satu per satu pesan yang merespon fotonya.

Ada juga pesan dari perempuan yang melengkapinya dengan foto, seolah menunjukkan bahwa dirinya masih menarik. Padahal perempuan itu sudah layak dipanggil nenek. Kepada teman kantornya, Nando, Jordi menyampaikan yang ini. “Kau ladenilah mereka chat, nanti kita lihat mana yang paling serius merespons,” ujar Nando.

Semuanya memang bermula dari Nando. Ialah yang menyarankan Jordi mencari uang tambahan dari media sosial. Awalnya Jordi mengira, Nando akan menyuruhnya terjun sebagai konten kreator atau jualan online, jadi reseller di toko baju atau sepatu. Toh, anak muda sekarang hobi belanja online.

Namun begitu, Jordi sempat ragu dengan ide Nando. Tetapi demi mendengar kalimat pamungkas Nando, banyak harapan yang akhirnya berpendar dalam kepala Jordi. “Kau cobalah dulu agak beberapa minggu, kalau tak kerasan, kau boleh berhenti.”

Begitulah awal mulanya Jordi memposting sebuah foto dirinya yang menurutnya paling keren, tak lupa pula ia edit habis-habisan di komputer kantor tempat ia dan Nando bekerja. Foto itulah yang menghasilkan berbelas-belas pesan dalam waktu singkat.

“Halo, Bang, bisakah kita kenalan?”

“Hay, Abaaaang, bolehkah aku menjadi kekasihmu?”

“Jemputlah adek, Mas. Adek siap jadi yang ke sekian untukmu.”

 

***

 

Malam itu sebuah panggilan video masuk ke ponsel Jordi. Sebelumnya, dalam dua hari terakhir, Jordi memang rutin membalas pesan dari perempuan itu. Jordi berseru riang dalam hati. Menurut Nando, seorang perempuan yang menelepon terlebih dahulu, itu artinya akan memudahkan dalam menyelesaikan tugas berikutnya.

“Kenapa gelap, Bang?”

“Maaf, lampu di kamar memang rada redup.”

“Waduh, padahal aku bela-belain nelpon karena mau lihat wajah ganteng Abang.”

“Ah, kamu bisa aja.”

“Serius loh, Bang. Foto Abang di kapal itu cakep bener, itu foto asli kan, Bang?

“Beda ya dengan yang sedang nelpon ini?”

“Gimana mau nilai, wajah Abang sekarang gak kelihatan.”

“Kapan-kapan mungkin kamu bisa lihat.”

“Oke, Bang. Ngomong-ngomong namaku Enny. Boleh dong kenalan lebih jauh dengan Abang?”

“Tentu saja, Abang akan senang punya kenalan macam Enny.”

Obrolan pun mengalir tanpa jeda sesudahnya. Itulah salah satu trik yang diajarkan Nando: memberikan rasa nyaman pada si perempuan.

“Pertama sekali buatlah perempuan itu senang dan berikan harapan kepadanya seolah-olah kita mengharapkan dia.” Tak heran, video call pada kesempatan pertama itu berlangsung cukup lama.

Enny jadi cukup sering menelepon, sampai-sampai Jordi kewalahan, sebab Enny menelepon tak kenal waktu dan tempat. Kadang Jordi berkilah sedang dalam perjalanan, kadang ia bilang tidak ada pulsa, sehingga ia tak dapat menerima panggilan.

Enny tak menyerah, pada suatu hari, Enny berinisiatif membelikannya pulsa.

“Tak mengapa Enny mengirimi Abang pulsa asal kita bisa video call lagi.”

Bagi Jordi itu babak baru. Sejak saat itu pun, rutinitas harian Jordi pasti video call dengan Enny pada malam hari. Tampang Jordi tentu saja sesuai dengan yang dilihat Enny di foto. Itu membuatnya senang. Maka tak cukup sekali pula Enny membelikan Jordi pulsa atau paket internet.

“Nanti begitu Abang gajian, Abang akan mengganti semua pulsa yang Enny kirimkan.”

Enny tentu menolak, namun Jordi tetap menggantinya, malah sedikit melebihkan pembayarannya. Tak mengapa, itu babak baru selanjutnya bagi Jordi. Ajaran dari Nando-lah yang menjadi acuan.

“Berikanlah kesan yang baik pada perempuan ketika pada awal perkenalan.” begitu ucapnya.

 

***

 

Jordi pun mulai mencari-cari informasi tentang Enny. Dari media sosial, ia sedikit-sedikit bisa menyimpulkan bahwa Enny adalah seorang perempuan kampung biasa. Akunnya cuman berisi gosip-gosip seputar orang di kampung. Foto-fotonya berlatar di ladang, di bawah pohon mangga dengan bangku kayu, di rumah bata yang belum selesai diplester, dan lainnya.

Kenyataan itu semakin mempertegas, dalam lingkup itulah dunia Enny sesungguhnya.

Sebetulnya tak susah mencari informasi tentang Enny. Tanpa diminta pun, Enny tak ragu berkisah seputar kehidupan pribadinya pada Jordi. Tiap malam, Enny selalu bercerita bahwa ia tak merasa pernah dicintai oleh suaminya selama berumah tangga. Kerja suaminya hanya main judi. Jika duitnya habis suaminya akan jual barang, sampai akhirnya jual tanah.

Beruntung saat ini suaminya katanya pergi merantau ke negeri jiran. Bagi Enny itu jauh lebih baik, meski selama kepergiannya yang hampir setengah tahun ini tak pernah ada uang kiriman dari suaminya.

Hubungan Enny dan Jordi berlanjut ke arah yang lebih intim sesuai dengan keinginan keduanya, meski tujuan akhir masing-masing sangat bertolak belakang: Enny menginginkan seorang pendamping, sedangkan Jordi mengharapkan sesuatu yang sedari awal agak berbeda.

“Enny bosan dengan hidup semacam ini, Bang. Enny berharap ada orang yang bisa membebaskan Enny.”

Begitu kata Enny di suatu kesempatan.

 

***

 

Video call hampir tiap malam memberi sensasi menyenangkan, terutama bagi Enny. Ia pun kerap berfantasi tentang Jordi, yang tanpa malu-malu ia akui.

Entah pada malam ke berapa mereka video call, Enny tiba-tiba terdengar berbeda. Mulanya nada suaranya terdengar melemah, jeda napasnya pendek-pendek, dan akhirnya … tubuhnya mulai bicara. Daster Enny sudah tidak di tempat biasanya..

Pada awalnya Jordi bingung dan hanya melongo, tapi Enny membalas reaksi itu dengan tersenyum, menggoda.

Bagaimana pun, Jordi adalah seorang lelaki dan telah lama pula tak merasai sentuhan perempuan. Sejak putus tiga bulan lalu, dia hanya memuaskan hasrat dengan menonton video-video porno. Betapa pun ia awalnya tak tertarik dengan tubuh Enny, tetap saja ada yang berdiri dibalik celana dalamnya saat Enny mulai memilin-milin sendiri buah dadanya dengan lembut.

Jordi sesekali mengumpat dalam hati. Sebelumnya tak pernah punya pengalaman melakukan video call seks. Perbuatan itu hanya diketahuinya lewat segelintir cerita dari kawan-kawannya yang pacaran LDR.

Tentu Jordi tak sampai kepikiran harus melakukannya, sebab selama ini ia dengan modal tampang, ia bisa saja melampiaskan hasratnya dengan beberapa teman affairnya di kantor. Jika pun itu tak dapat, Jordi lebih memilih datang ke tempat lokalisasi, menyewa seorang perempuan buat kencan singkat. Asal batang ketemu lubang. Baginya itu lebih baik, ketimbang bercinta lewat maya.

Namun Jordi sepertinya harus meralat kepercayaan itu. Di seberang sana, wajah Enny kelihatan menggairahkan. Enny bergantian meremas buah dadanya yang kiri dan kanan. Entah bagaimana Jordi secara tak sadar mulai membuka resleting celananya, menggenggam batangnya yang sudah keras. Ia menikmati setiap kocokan tangannya hingga …

“Sial!”

Umpatan itu menyadarkannya kembali ke dunia nyata. Jordi tak ingin rencananya jadi berbelok. Bagaimana pun, tujuan awalnya mendekati Enny bukan karena ketertarikan seksual, meski harus diakui, ia juga menikmati apa yang barusan mereka lakukan.

Enny tersenyum, agak malu karena ini pertama kali mereka melakukannya. Ia bersandar pada bantal lusuh dengan rona bahagia. “Terima kasih, Bang, nanti kita lagi, ya.”

 

***

 

“Abang akan membebaskan Enny, Abang akan datang ke sana, lalu berikutnya kita bisa pergi ke mana saja.”

“Serius, Bang?”

“Tentu saja. Setelah apa yang terjadi pada kita hampir tiap malam, kenapa pula masih ragu? Abang akan menjemput Enny ke sana.”

“Apa Abang sungguh-sungguh?” tanya Eny berulang-ulang, penuh harap.

“Pasti.” selalu begitu pula jawaban Jordi.

“Kapan Abang bisa ke sini menjemput Enny?”

“Kapan saja sebenarnya Abang bisa. Cuman, buat ke sana pasti perlu biaya yang cukup besar. Masalahnya Abang belum punya cukup uang untuk saat ini.”

“Berapa uang yang Abang perlukan buat ke sini?”

“Entahlah, beberapa juta mungkin.”

Enny mulai menimbang-nimbang. Jangankan jutaan, ratusan-ribu saja baginya sudah terasa banyak.

Dalam kesempitan, otaknya berpikir cepat. Hal pertama yang ia ingat adalah tanah peninggalan keluarganya. Tanah satu-satunya yang tertinggal atas nama Enny. Tanah itu tentunya bisa menghasilkan uang, daripada suamiku terus yang menjual, pikirnya.

“Baik, Bang, Enny akan cari akal untuk biaya Abang ke sini. Kasih Enny waktu agak seminggu”

 

***

 

“Mohon maaf, Bang. Enny belum bisa menepati janji buat transfer uang itu.”

“Tak mengapa.”

Itu sudah tiga pekan berlalu. Selama itu, Jordi tak pernah memaksa dan mendesak Enny.

“Enny jadi tidak enak, Bang.”

“Pekan depan Abang akan gajian, uang itu mungkin bisa buat nambah biaya ke sana. Memang tidak cukup, karena Abang harus bayar utang dulu ke teman kantor.”

Enny semakin tidak enak mendengar itu. “Pokoknya Enny akan tetap cari cara, Bang.”

“Apa rencana Enny sebelumnya mengalami kendala?”

“Iya, Bang. Tanah yang hendak dijual itu belum laku sesuai dengan harga yang kita butuhkan.”

“Berapa harganya?”

“Orang yang membelinya hanya sanggup empat juta lima ratus. Kalau misalnya Enny hanya bisa kirim segitu, apa tidak masalah, Bang?”

Ada jeda panjang usai kalimat itu.

“Tak masalah, nanti kan bisa ditambah dengan gaji Abang minggu depan”

“Serius, Bang? Apa tidak mengapa, Bang? Cukup buat Abang ke sini?”

“Iya. Tak mengapa. Nanti dicukup-cukupkan.”

“Kalau begitu paling lambat besok siang Enny sudah bisa transfer. Paginya Enny akan ambil uangnya langsung pada pembeli. Lalu Enny akan langsung berangkat ke kantor kecamatan untuk transfer uangnya. Kalau di kampung ini tidak ada tempat untuk transfer, Bang.”

 

***

 

Sebuah panggilan telepon dari Enny. Cepat-cepat Jordi menjawab.

“Halo, Bang, Enny sudah mentransfer empat juta lima ratus sesuai yang kemarin Enny bilang.”

“Benarkah?” Jordi berseru hebat.

“Iya, jadi pekan depan Abang sudah bisa ke sini, kan?”

“Abang akan cek dulu ya uangnya.”

Jordi segera memutus telepon itu. Dengan segera ia mengecek aplikasi internet banking miliknya.  Benar saja, saldonya bertambah. Seketika telepon dari Enny memburunya, kali ini panggilan video.

Cepat-cepat dia memencet tombol “tolak” dan segera memblokir kontak Enny. Saat ini Jordy merasa telah mendapat apa yang dia mau. Dia tak perlu yang lain. (*)

Author

  • Romi Afriadi

    Lahir di Desa Tanjung, Kampar, Riau. Alumni Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Suska Riau. Buku perdananya yang terbit berjudul Darah Pembangkang (Interlude, 2022).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | pashagaming | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | stresser | betnano | ultrabet | ultrabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | perabet | perabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | royalbet | royalbet giriş | roketbet | grandpashabet | royalbet | galabet | galabet giriş | galabet | romabet | romabet giriş | galabet | galabet giriş | romabet güncel giriş | how to create invoices | how to create an invoice | how to pronounce | how to pronounce nguyen | how to pronounce pho | hiltonbet | hiltonbet giriş | roketbet | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب | فك السحر | جلب الحبيب خلال 24ساعه |