

Semangkuk bakso yang kupesan telah tiba di meja makanku bertepatan saat matahari hampir membelah hari. Terik matahari ditambah panasnya kuah bakso memanggang para pembeli dengan hebat. Angin yang masuk dari sela-sela terpal biru yang menaungi terlihat tidak sanggup memadamkannya.
Dari sebelah kananku tercium hebat bau keringat yang menyebar lewat kipas koran. Tepat di depanku, asap rokok dari seorang lelaki paruh baya terus menggulung di udara. Suara tangisan anak kecil dari pangkuan seorang ibu pun begitu hebat menusuk gendang telinga. Kendaraan yang lalu lalang di depan warung menyebarkan bau knalpot yang menyesakkan pernapasan.
Untungnya warung itu tidak begitu ramai sehingga pembeli tidak perlu saling berdempetan.
Begitu pembeli mulai sibuk dengan mangkuknya, para pedagang asongan turut menyerbu warung untuk berperang menawarkan barang dagangan. Bahkan menyodorkan dagangannya sedekat mungkin dengan mata pembeli.
Mereka akan nyeletuk ketika tidak seorang pun membeli dagangannya. Terkadang mengomel bahwa orang-orang begitu kikir. Kondisi dalam warung begitu riuh mengalahkan pasar dunia. Keadaan semakin buruk saat listrik di ruangan kecil itu padam.
Suasana begitu gerah dan berisik. Para pembeli tidak berdaya menghadapi gladi kotor neraka yang sangat menyiksa ini. Harapan pembeli hanya satu; hendaknya pemilik warung datang dan membawa satu mangkuk bakso juga agar para pedagang asongan ini diam.
Namun pria yang diharapkan membawa keajaiban itu malah terlihat sibuk dan enak-enak merayu pembeli wanita yang baru saja menjanda lengkap dengan sebatang Surya di mulutnya.
Saat para pembeli terlihat gelisah, aku mencoba tetap diam. Ini sudah biasa. Dari pengalaman aku mengerti bahwa tidak semua kondisi harus dikeluhkan, terutama jika tidak ada jalan keluar.
Tak lama seorang lelaki tua dan buta memasuki warung dengan tenang. Dengan baju muslim, celana panjang lengkap, dan kopiah berwarna hitam dia masuk melewati para pembeli yang duduk di mulut pintu. Saat dia masuk ke dalam warung, shalawat keluar dengan fasih dari mulutnya. Suaranya bening, tangannya menadah. Dia mengemis.
Setelah diamati kupikir aku mengenal pengemis itu. Seorang yang sering menghadiri pengajian di majelis aku ikuti. Atau aku kira pengemis itu seorang yang selalu menghadiri pengajian dan mendengar pencerahan persoalan kehidupan dunia dan akhirat. Lalu sesuatu dari hasil pengajian itu dia jadikan senjata untuk dapat menghidupi kehidupannya.
Awalnya ada rasa tidak terima mengapa shalawat yang suci itu malah dijadikan alat untuk mengemis. Namun saat aku memikirkannya, mungkin karena shalawat nariyah itulah tanganku tiba-tiba membuka dompetku dan mengambil sedikit rupiah untuk aku berikan kepada pengemis itu.
Tiba-tiba lamunanku pecah. Seorang pria lain menghantam meja dengan telapak tangannya. Nampaknya iemosi mendapati pesanannya belum juga sampai. Pria itu juga mengusir pada pedagang asongan.
Teriakan pria itu ditelan habis dengan suara knalpot yang meraung-raung di jalan raya tepat di depan warung bakso. Aku dengar celoteh dari para pedagang. Antara pria dan pedagang asongan terjadi pertengkaran dengan kata-kata tidak sedap.
Pria yang emosi kembali duduk dengan sembrono. Pria itu perlahan diam namun dengan wajah yang masam. Tapi mulutnya kembali mengoceh lantaran melihat pengemis yang meminta-minta di depannya.
“Heh buta! Kenapa gak keluar? Mau apa kamu di sini, heh! Mau minta dikasihani terus, dikasih makan gratis!?”
Pengemis itu diam saja. Pria yang emosi kembali berdiri. “Keluar! Tadi siapa yang suruh kamu masuk, hah!”
“Saya masuk sendiri, cuman ingin menumpang mengemis, tapi tidak ingin makan.”
Pria itu geram dan kembali duduk. Dia kehabisan kata. Hanya bisa menatap tajam dari meja makan seperti akan menelan pengemis itu bulat-bulat. Yang ditatap pun hanya diam. Beberapa menit suasana sedikit mereda. Pengemis yang lega memilih duduk di sebelahku tepat saat semangkuk bakso tandas.
Lagi-lagi mulutnya kembali bergumam: “…. Sayyidinaa Muhammadin alladz tanhallu bihil ‘uqadu…”
Shalawat itu kembali mendayu dengan jernih. Tidak ada lagi ocehan pria tidak jelas itu. Para pembeli bakso diam terpaku mendengarnya. Semakin lama suara pengemis itu seperti menutup kebisingan kenalpot dari luar warung. Aku sudah mulai susah membedakan yang mana suara mesin dan lantunan shalawat. Bisa jadi aku sudah tenggelam dalam dunia mimpiku.
Dengan samar aku lihat diriku sudah berada di Padang Mahsyar yang begitu luas. Penglihatanku terkalahkan dengan sinar mentari. Matahari begitu dekat dengan ubun-ubun. Namun anehnya hawa saat itu begitu sejuk. Aku lihat ribuan orang duduk bersila membentuk lingkaran.
Mereka menggunakan baju muslim, celana panjang dan kopiah hitam persis seperti pengemis yang ada di warung bakso. Bahkan mereka serentak melantunkan shalawat nariyah dengan nada yang sama dengan pengemis.
Saat melihat mereka, teringat dengan suasana majelis talim yang sering aku datangi. Mereka begitu bersemangat melantunkan shalawat.
Tiba-tiba suara dentuman terdengar pecah. Hawa yang sangat panas menyengat. Beberapa orang beterbangan di langit seperti laron dan jatuh di sekitarku. Debu berhamburan menutupi pandangan.
Apakah ini akhir dari dunia? Aku mencoba lari dengan akal setengah sadar. Namun kakiku seperti dipaku di dalam tanah. Aku coba berteriak membangunkan akal sehatku. Namun saat mencobanya, mulutku terasa asin dan berdebu.
Aku coba menelan liur yang tersisa, rasanya sangat familiar. Aku coba meludahkannya. Ternyata ludahku bewarna merah. Bersamaan dengan itu, aku merasa ada cairan merah segar yang mengalir dari hidungku. Ya tuhan, diriku ternyata terluka sangat parah.
Tubuhku menyerah dan memilih tersungkur di tanah. Diriku terbaring tidak berdaya bersama malapetaka. Warung yang aku tempati sudah hancur tak berbentuk. Bentuknya sudah tidak karuan. Terpal biru sebagai peneduh sudah sobek, tiang penyangganya berhamburan di jalan.
Beberapa meter dari tempat aku terbaring, terlihat samar truk yang tidak kalah buruk bentuknya. Kendaraan di sekitar berhenti menyaksikan peristiwa itu. Dengan tenaga seadanya aku mencoba menepi ke pinggir jalan. Tapi diriku tetap memaksaku untuk tetap tersungkur dengan aspal sebagai alasnya.
Orang-orang merintih kesakitan. Lalu kulihat dengan begitu samar seseorang keluar dari tumpukan bangkai barang. Badannya begitu bersih dan tidak ada satu goresan pun. Lelaki itu sangat tenang dan berjalan dengan pasti meninggalkan warung menuju arah barat.
Telingaku kembali mendengar lelaki itu melantunkan shalawat nariyah sembari terus berjalan dengan tenang ke arah matahari beredar.

Lahir dan menetap di Kota Samarinda, 24 April 2008. Saat ini dia masih fokus dengan pendidikan SMK jenjang akhir di Sekolah Vokasi Kehutanan dengan bayang-bayang masa depan yang tidak pernah terlihat hilalnya. Daripada memikirkannya, Adriano lebih memilih untuk menulis akal-akalan yang tidak pernah habis di benaknya.