Segala yang Kita Anggap Tidak Harus Begitu

Seharusnya Sesamanya Manusia

 

di mana saat ini kita berada?

“di bahasa, yang tak sempat tumbuh dewasa.

dibunuh, mati muda.”

 

siapa yang membunuh kita?

“bahasa mereka. kata-kata berbedanya

manusia.”

 

apakah kita dapat dihidupkan kembali?

“ya, oleh bahasa kita. kata-kata sesamanya

manusia.”

 

Jakarta, 2026

 

 

 

 

Kita Semua dalam Bahaya Mereka

 

sekarang mereka hutan: gersang, tandus dan kemarau panjang.

tidak ada lagi dan mau lagi tanaman tumbuh di atas tanahnya.

 

sebab yang mereka percaya hijau dan penghijauan

adalah mitos adalah dongeng baginya.

 

sehingga kau mesti waspada dan berhati-hati pada mereka.

(ingat, kau bukan hutan)

 

ingat, itu bahaya. bahaya bukan kawan dan bencana segera tiba

meluluhlantakkan kita semua.

 

Jakarta, 2026

 

 

 

Segala yang Kita “Anggap” Tidak Harus Begitu

 

terbiasalah kau dan aku dengan kekecewaan, maka kita

tidak akan jatuh di jurang kepuasan fana mereka.

terbiasalah kau dan aku dengan rasa lapar, maka kita

akan terjauh dari rasa kenyang palsu mereka.

terbiasalah kau dan aku dengan duka, sampai kita paham

bahwa permulaan suka adalah ketidakpastian hampa.

 

namanya penderitaan. jadikan ia seperti obat dan teman.

 

 

tapi selama ini kita salah.

 

 

kita selalu saja menganggap ia sebagai pelaku pelecehan seksual, pelaku kekerasan seksual, aparat yang merugikan rakyat, ataupun kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

sehingga ia kita jadikannya obat penawar yang tidak layak konsumsi dan seumpama teman.

 

 

ya, segalanya itu.

 

 

jika kau melihatnya dari sudut pandang mereka yang atas—kau akan memperlakukannya sebagai hina. kau tidak akan mau atau menolak lantaran perih-pahitnya. tapi jika kau melihatnya dari sudut pandang mereka yang bawah. berempatilah, teguk serta-merta merasakannya langsung di sela-sela perih-pahitnya.

 

 

maka hati dan matamu akan terbuka.

 

 

kita tidak lagi menganggap penderitaan sebagai penyakit dan kesepian. pun kebahagiaan sebagai obat dan teman. sebaliknya. hati dan mata kita hendak percaya bahwa penderitaan adalah obat dan teman. dan justru kita was-was dan curiga, bahwa kebahagiaan itulah berarti penyakit dan kesepian.

 

Jakarta, 2026

Seorang pemuda acak biasa asal Jakarta yang menasbihkan waktunya untuk studi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan membaca karya sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!