Seekor Kucing dan Kematiannya yang Kesembilan

Menjelang kematiannya yang kesembilan, kucing itu teringat pada perempuan tua yang merawatnya di kehidupan terakhir. Ia mengingat dengan cermat tangan tua yang keriput itu tetap mengusap bulu-bulunya dengan lembut. Setiap kali bulu-bulunya diusap dengan lembut, kucing itu mengingat kehidupan-kehidupan sebelumnya dan semua tangan yang pernah mengusap bulu-bulunya, tetapi tak ada yang selembut tangan perempuan tua yang tinggal seorang diri setelah dua tahun lalu suaminya, Frans, pergi meninggalkannya dalam sebuah pertengkaran yang panjang.

“Dua puluh enam tahun! Dua puluh enam tahun, aku selalu diam! Omelan-omelanmu selalu aku terima, aku telan, dan aku pendam. Empat puluh delapan tahun. Aku berdiri di tempat yang sama, sementara kau terus saja meneriakiku, mengatakan aku lelaki bodoh! Lelaki tidak berguna!”

Lalu lelaki itu pergi begitu saja, ia mengubah dirinya. Di usianya yang ke lima puluh enam tahun itu, untuk pertama kalinya dalam usia pernikahannya, ia berani untuk mengambil langkahnya sendiri. Langkah kakinya terasa lebih ringan dari biasanya, ia seperti melangkah di udara, dan punggungnya terasa lebih ringan. Ia mampu berdiri dengan tegak setiap kali orang memandang ke arahnya. Dan hari itu juga, seorang pedagang roti keliling mengatakan bahwa untuk pertama kalinya ia melihat lelaki itu tersenyum bahagia.

Perempuan tua itu tetap berdiri di tempatnya, di tempat ia mengangkat kepalanya lebih tinggi dari suaminya, di tempat ia duduk lebih tinggi, tidur lebih tinggi, berjalan lebih tinggi, dan berbicara dengan nada yang lebih tinggi.

Ia membenarkan perbuatannya, dan memang ia tak menganggap dirinya bersalah atas keadaan yang dialaminya selama empat puluh delapan tahun pernikahan. Perempuan itu tak pernah merasa gembira, dalam hatinya hanya dipenuhi oleh kemarahan dan kebencian. Setiap malam menjelang tidur, ia selalu menyesali pilihannya sendiri dan merasa tertipu oleh suaminya yang bodoh dan tak berguna.

“Mengapa tak kau tinggalkan saja suamimu itu sejak lama?”

“Ah, aku ingin sekali melakukan itu, tapi bagaimana dengan anak-anakku? Aku bukan sosok ibu yang jahat dan egois, kau tahu, aku menyayangi anak-anakku, dan aku tak akan membiarkan anak-anakku menjadi korban karena keegoisanku.”

“Sungguh, meskipun setiap hari kau selalu menderita, tapi kau ibu yang baik. Malang sekali nasibmu memiliki suami seperti itu, suami yang bodoh dan tak berguna.”

“Memang, aku perempuan yang malang.”

“Dasar, lelaki tak tahu diuntung! Jika aku menjadi kau, aku sudah lama meninggalkan lelaki semacam itu. Untuk apa memelihara lelaki yang bodoh dan tak berguna. Lelaki seperti itu hanya parasit bagi kehidupan perempuan sepertimu.”

Perempuan tua itu dengan bangga mengatakan keburukan-keburukan tentang suaminya. Suaminya selalu tidur seperti seekor babi, ia mendengkur sangat keras, bahkan lebih keras dari dengkuran seekor babi. Selain itu, kulitnya yang berwarna hitam-arang selalu menguarkan aroma matahari yang tak sedap. Tengik. Peluh yang menempel di keringat dan bajunya selalu membuat dirinya merasa mual. Seperti ia adalah seorang gelandangan yang kebetulan memiliki rumah, atau perempuan itu sengaja memungutnya dari jalanan, lalu memintanya untuk membersihkan diri di rumahnya, mengganti pakaian di rumahnya, makan di rumahnya, dan bermalam di rumahnya juga!

Entah sudah berapa lama perempuan itu tak lagi mau jika harus tidur bersama Frans, suaminya itu.

Frans ialah seorang pekerja lepas di pabrik pembuatan batu-bata merah di perbatasan kota. Lokasinya cukup jauh sehingga ia harus menumpang pada truk-truk besar yang lewat. Jika sedang malang, ia harus berjalan kaki beberapa kilo untuk sampai di rumah, dan kalaupun sampai, ia hanya punya sedikit waktu untuk makan dan tidur, lalu kembali ke tempat yang sama untuk mencetak batu-bata merah.

Tempat yang paling menyenangkan untuk Frans kunjungi adalah tempat pembakaran batu-bata merah. Ia membayangkan betapa panas di dalam tunggku pembakaran. Mungkin jika ia melompat ke dalam sana, ia tak akan merasakan sakit, hanya terkejut, lalu tubuhnya akan berubah menjadi abu. Begitu yang ia bayangkan ketika korek api di tangannya menyulut seekor belalang yang ia temukan dekat lokasi penjemuran batu-bata merah selesai cetak. Selanjutnya, ia melempar belalang itu ke dalam tungku pembakaran, seketika tubuh belalang itu lenyap.

Selama dua puluh enam tahun, Frans selalu hidup dalam api, tidak hanya di tempat pembakaran batu-bata, tetapi juga di rumahnya sendiri. Rumah yang selalu perempuan itu katakan bahwa itu adalah rumah miliknya. Rumahnya tak lagi disusun dari tumpukan batu-bata, pernak-pernik, perabot, tetapi juga disusun oleh api-api yang selalu membakar tubuh Frans.

Api di rumah itu selalu terasa lebih panas, lebih membakar dan menghanguskan Frans. Frans merasa bahwa hidupnya memang tidak berguna. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas nasib yang dialaminya. Setiap malam, ia membiarkan api itu membakar tubuhnya, dan bahan bakarnya adalah istrinya.

Setelah memutuskan pergi, Frans kemudian tinggal di sebuah apartemen kecil tak jauh dari pabrik pembuatan batu-bata merah. Apartemennya berukuran kecil, hanya ada dua ruangan, yaitu kamar dan toilet, sedangkan dapur kecil terletak dekat jendela empat langkah dari tempat tidur.

Di ruangan kecil itu, Frans merasakan kelegaan yang tak biasa, dadanya terasa lebih lapang menghirup udara pagi dan malam. Dan, ia merasa lebih bahagia untuk bekerja ketimbang biasanya. Setiap selesai bekerja membuat batu-bata merah, Frans akan jalan-jalan sendirian dekat danau di tengah kota. Di sana ia membeli sepotong roti yang akan ia berikan kepada sekelompok burung merpati atau tiga ekor bebek yang berenang bebas di pinggir danau. Jika hari menjelang malam, ia akan berjalan menuju ke apartemennya.

Kehidupan bagi Frans baru saja dimulai saat ia meninggalkan perempuan tua itu, dan tanpa ia sadari, kehidupan perempuan itu berakhir ketika Frans pergi.

Mulanya perempuan tua itu merasa bahwa Frans tua tak akan bertahan lama hidup di luar sana. Ia membayangkan Frans yang malang akan berbaring di sebuah trotoar dan menyesali perbuatannya. Tak mungkin bagi Frans bisa bertahan tanpa istrinya, ditambah lagi bahwa selama ini hanya ia yang mau memungut Frans tua sepulang kerja membakar batu-bata merah. Atau ia membayangkan Frans tua akan menginap di pabrik pembakaran batu-bata merah, dan jika ia tak sanggup menyesali perbuatannya dan dihantui rasa bersalah, Frans tua akan mencemplungkan dirinya ke dalam api pembakaran batu-bata merah. Dan itu adalah hal yang bagus bagi perempuan tua itu, sebab ia tak perlu susah-susah untuk memungutnya kembali.

Satu minggu berlalu tanpa ada satu pun kabar dari Farns tua yang terdengar. Mulanya permepuan tua itu mengira bahwa Frans tua telah mati di suatu tempat yang sepi sehingga tak ada seorang pun yang menemukannya. Bahkan bau busuk tubuhnya pun tak tercium oleh orang lain. Dan, mungkin Frans tua telah habis digerogoti anjing-anjing liar menyikasan kerangka tulang-tulang yang tak bisa lagi dikenali. Tulang-tulangnya pun telah berserakan hingga tak bisa dikumpulkan dan disatukan lagi. Perempuan tua itu juga menyumpah bahwa di akhirat sekalipun Frans tua akan tetap meratap dan menyesali perbuatannya karena telah pergi meninggalkannya. Frans tua akan merasa kesepian, tertolak, dan tak ada seorang pun yang menerima keberadaannya, surga ataupun neraka.

Pikiran tentang Frans tua yang pergi meninggalkannya entah bagaimana membuat perempuan tua itu merasa sedih. Dadanya bergetar dan tubuhnya gemetar setiap kali menatap kursi panjang tempat suaminya menyerahkan lelah. Perempuan tua itu merasa hampa; rumah yang ia tempati mendadak terasa terlalu besar untuk dirinya sendiri. Ruangan yang dulu biasa saja kini seperti memamerkan kekosongannya. Hatinya yang biasa penuh oleh amarah kepada suaminya itu kosong seketika. Api di dalam tubuhnya mendadak padam. Tak ada lagi sesuatu yang bisa ia salahkan. Ia merasa dingin dan sendirian. Sahabat-sahabatnya tak lagi membuatnya merasa bergairah untuk menceritakan hal-hal tentang suaminya. Ia merasa tak ada lagi yang bisa ia ceritakan, bisa ia bagi kepada orang-orang. Selama ini, hampir setiap hari dalam hidupnya selalu memiliki Frans di dalamnya sebagai sumber kesal, sumber amarah.

Seorang sahabat mendapati perempuan itu sedang duduk seorang diri di beranda rumahnya pada suatu sore yang muram. Perempuan tua itu tidak melakukan apa-apa selain menatap deretan pot mawar yang berjajar di tepi pagar. Beberapa kuntumnya telah mengering, kelopaknya mengerut dan menggantung lemah pada tangkai. Ia baru menyadari bahwa selama ini suaminya yang dengan telaten menyirami mawar-mawar itu setiap pagi, dan ia juga baru menyadari bahwa Frans tua lah yang selama ini menyirami mawar dalam dirinya.

Saat perempuan tua itu memikirkan tentang Frans, kucing itu mengajaknya pergi keluar melewati pintu putih yang mendadak muncul di sebelah kiri.

Lahir 14 Juni 2001. Beberapa tulisannya telah tersiar di beberapa media elektroik, koran nasional, koran lokal, dan majalah. Instagram @abangkelabu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!