Sedihnya Melihat Dunia Perjokian Tugas Kuliah Saat Ini

Dulu, waktu masih aktif di dunia sindikat joki tugas, setahu saya hanya ada relasi dua arah, antara yang butuh nilai dan yang butuh duit. Transaksi gelap ini biasanya saya lakukan di pojokan kantin kampus atau via chat WhatsApp yang kemudian dihapus pas udah nilai keluar. Ada yang butuh, saya sediakan, selesai. Hanya sebatas itu.

Saya terjebak di dalam dunia gelap ini beberapa tahun lalu saat masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di Provinsi Jambi. Alasannya klise sih… karena kepepet kebutuhan ekonomi.

Bagi mahasiswi tingkat akhir seperti saya, saat itu memang sedang di fase yang aneh. Idealisme yang menggebu-gebu di awal kuliah kian menipis, sementara uang saku ikut menjerit, dan bunyi token listrik kos bersahut-sahutan dengan notifikasi dari dosen pembimbing. Semuanya membuat emosi saya meledak tak karu-karuan.

Belum lagi ditambah kebutuhan print revisi yang tak terhitung, sementara keinginan “nongki” di kafe dengan embel-embel mencari ilham kelancaran menyusun skripsi.

Tambahan tradisi tukaran gift kecil-kecilan kalau ada teman yang seminar proposal atau sidang memaksa saya mencari jalan pintas, biar tetap waras.

Awal mulanya, saya hanya diminta adik kos menurunkan persentase plagiasi Turnitin skripsi milik pacarnya. “Kakak kan anak bahasa, pasti mudah ngerjain beginian” katanya.  Sungguh pujian yang membuat hati anak bahasa seperti saya melambung tinggi. Syukurlah ternyata saya cukup piawai  membolak-balikkan kalimat dan memoles paragraf agar terlihat baru.

Perlahan, permintaan “bantuan” serupa berdatangan. Mungkin akibat promosi dari mulut ke mulut si “pelanggan”. Singkat cerita hal ini jadi bisnis sampingan.

Sampingan ilegal ini pada akhirnya membuat saya sering begadang, karena permintaan makin banyak, dan beberapa bahkan menuntut waktu yang singkat. Saya pernah menghajar parafrase skripsi 120 halaman lebih, diminta selesai dalam sehari. Gila memang. Tetapi tetap saya ambil, siapa yang menolak duit?

Namun, ironisnya saya malah kerajinan ngerjain skripsi orang daripada skripsi sendiri. Mungkin gara-gara ini, saya pun tobat dan dari dunia perjokian ini.

Sistem perjokian tugas yang baru saya ketahui. Ada istilah admin, hunter dan worker…

Setelah pensiun, rupanya dunia yang saya tinggalkan beberapa tahun lalu bukan sekedar jadi kerja sampingan semata. Malah berkembang menuju bisnis yang tersistem rapi.

Pas saya iseng mencari jasa cek Turnitin untuk sepupu saya yang baru masuk kuliah tahun lalu, ternyata banyak yang berubah. Kisaran jasa cek Turnitin yang dulunya berkisaran lima ribu rupiah untuk dua kali pengecekan, rupanya berubah.

Saya cek di Twitter (X). Wow… saya kaget! Sekarang cuma seribu perak! Bisa pakai QRIS pula. Sungguh profesionalitas yang tak pernah saya pikirkan sebelumnya.

Tanpa pikir panjang saya kontak jasa tersebut. Tak lama, setelah bertransaksi, sang admin menawarkan saya untuk bergabung ke dalam grup joki tugas mereka. Ia menawarkan saya join ke grup. Katanya kalau saya butuh jasa dia lagi atau mau menjadi hunter, worker bisa join. Dijelaskannya mengenai sistem pembayaran dan pembagian job juga tertata rapi.

Rasa penasaran saya seketika muncul. Bagaimanapun, sebagai mantan penjoki yang sudah tobat saya tetap ingin tahu bagaimana sistem perjokian sekarang ini.  Langsung saja saya join ke grup, dan astaga! … saya kaget waktu baca melihat isinya.

Ada Admin yang  bukan sekedar pengelola grup WhatsApp, tapi pihak ketiga, yang mendapatkan jatah 5 persen dari total transaksi. Buset… sepengingat saya yang pernah menjadi tukang joki, tidak pernah ada namanya pihak ketiga. Uang langsung ditransfer ke saya.

Ada juga Hunter, yang sesuai namanya adalah “pemburu” customer. Mereka sales di media sosial 24 jam. Hebatnya lagi dengan bot otomatis mereka bisa mendeteksi kata kunci “butuh joki” di Twitter (X) dan langsung membalasnya di kolom komentar lengkap dengan harga pricelist. Jatah mereka lumayan besar, sekitar 20 persen dari job.

Worker, tak lain adalah pemain utamanya. Tukang ngerjain, revisi, dan sudah pasti tukang begadang. Bayarannya sebesar 75 persen. Dengan bagian segitu mereka bisa bekerja dengan tenang karena uang sudah dijamin aman di tangan admin. Tidak ada lagi drama murahan customer kabur setelah tugas dikirim.

Jadi cara kerjanya begini. Dalam satu grup ada satu admin. Di dalamnya berkumpul para hunter dan worker. Jumlah mereka bisa ratusan.

Setelah Hunter berburu dan dapat customer, si customer akan dikirimi form order. Form yang telah terisi itu kemudian dilempar ke dalam grup. Di sinilah para worker mulai berebut peluang, menghubungi hunter. Hunter kemudian memilih worker yang cocok. Begitu sepakat, hunter mengirim ulang format job itu ke dalam grup sambil menandai worker yang dipilih.

Di tahap ini customer diminta membayar DP 50 persen ke rekening admin. Begitu uang masuk, worker dipersilahkan mulai bekerja mengejar deadline. Kalau tugas sudah selesai, worker mengirim hasilnya ke hunter. Hunter akan mengecek dahulu sebelum customer melakukan pelunasan.

Setelah bukti transfer pelunasan diterima, hunter menginformasikan admin, bahwa pembayaran beres. Barulah file tugas dikirim ke customer untuk dicek kembali. Jika job sudah oke dari customer, maka admin akan mencairkan fee kepada hunter dan worker.

Saya kira perjokian cuma ada di Tugas Kuliah. Lagi-Lagi saya keliru.

Keheranan saya belum selesai. Di grup itu rupanaya ada lebih banyak kebutuhan-kebutuhan yang bisa dijokikan. Lucu sekali. Ada joki surat sakit dari puskesmas, apotek, bahkan rumat sakit bisa. Ada juga joki psikotes (online) perusahaan rentail Indomaret dan Alfamart. Mungkin gak m,engherankan kalau nantinya ada joki pemilu. Namanya juga Konoha, kan?

Satu hal yang membuat saya kagum sekaligus terheran-heran adalah standar SOP dan hukumannya. Misalnya kalau ada worker yang ketahuan pakai AI mentah-mentah atau “banting harga” di bawah standar pasar, Admin langsung berubah menjadi pembuli handal yang tak kenal ampun.

Tanpa basa-basi, admin akan memberikan label “penipu” dan mentag nomor worker dan hunter bersangkutan di grup jika ketahuan melanggar. Nomor telepon, bahkan identitas asli si pelaku akan disebarkan ke jaringan grup lain. Rupanya ada semacam aliansi admin lintas grup. Sehingga sistem blacklist di dunia perjokian menjadi seperti hukuman mati secara online.

Keheranan saya yang paling utama adalah betapa rapi dan profesionalnya dunia pelacuran intelektual ini. Dosa yang dulu saya lakukan diam-diam di kamar kos, malah kian membesar, dengan skala yang edan-edanan. Kalau istilah lucunya, masif dan sistematis-lah.

Dari semua pengalaman saya mengorek grup tersebut, saya cuma bisa mengelus dada. Berharap bahwa hal semacam ini tak akan berkumulasi pada sesuatu yang lebih serius. Perjokian ini bagaimanpun sudah jadi industri. Ia bisa saja sama berbahayanya dengan judol dan pinjol. Bisa jadi lebih buruk: karena industri ini cocok untuk para pembohong.

Semasa  masih berada di lingkaran itu, menjadi penjoki tugas merupakan aib yang terpaksa saya simpan, demi memenuhi kebutuhan hidup waktu kuliah.

Saya sudah lama berhenti karena merasa bersalah. Sekarang saya sadar, berhenti saja tidak cukup. Karena sistem tetap akan berjalan dan berkembang, bahkan tanpa saya. Nampaknya hal yang membuat saya paling gelisah saat ini adalah sistem itu dianggap normal belaka. Semuanya nyaris terasa “resmi” dan profesional.

Author

  • Yesi Almawa

    Guru bahasa tingkat Sekolah Menengah Atas. Alumnus Universitas Jambi. Tetarik dengan bacaan feminisme dan hal-hal absud. Sering merenungi eksistensinya “Aku ini siapa, sih?” Jika ingin menyapa bisa lewat Instagram @sii_almawa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
galabet giriş | nakitbahis | nakitbahis | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | norabahis | jojobet giriş | Report Phishing | Ultrabet |