Sejarah membuktikan bahwa lahirnya tokoh-tokoh besar yang kita kenal hari ini tidaklah lahir dari kehidupan yang biasa-biasa saja. Hal itu terbukti bahwa cara berpikir merekalah yang membuat mereka menjadi besar.

Contohnya Bung Karno. Pada tahun 1928, sebelum Indonesia merdeka, dalam salah satu pidatonya mengatakan apabila perang pasifik meletus, maka pada saat itulah Indonesia akan tampil ke depan sebagai bangsa yang merdeka. Seperti sebuah ramalan, kata-kata itu terbukti terjadi. Sejarah mencatat Indonesia merdeka, ketika perang Pasifik meletus.

Apakah benar Bung Karno seorang peramal?

Itu bukan sekadar hasil dari Bung Karno bersemedi di malam hari, tapi cara berpikir Bung Karno-lah yang membuat pandangannya saat itu melampaui waktu. Semua didasarkan kepada analisa politik yang tajam, sedang kemampuan menganalisa itu kuncinya adalah berpikir kritis.

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa berpikir kritis adalah berpikir secara jernih. Pada prosesnya berpikir seperti itu harus berlandas pada nilai-nilai kebenaran dan bukti-bukti yang kongkret. Artinya ia menutup kesalahan dalam memahami dan mengolah informasi. Paling tidak merumuskan pokok-pokok permasalahan dengan mencari jawaban yang jelas dari setiap pertanyaan.

Selanjutnya, perlunya kemampuan untuk dapat melihat realitas secara objektif sehingga tidak menimbulkan bias dalam menalar suatu persoalan. Fakta-fakta yang terhimpun haruslah akurat, alih-alih asumsi. Apalagi jika penalarannya hanya berdasarkan pada perasaan suka atau tidak suka.

Menarik jika melihat kondisi gerakan pemuda khususnya mahasiswa Purwakarta hari ini, adanya sebuah upaya gerakan yang dibangun secara hirarkis, sebagai upaya pengumpulan kantung-kantung massa yang dikemas dalam perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan kesatuan.

Tidak masalah dengan konsep kebersamaanya, namun yang menjadi pertanyaan adalah apa sebenarnya tujuan dan orientasi dibentuknya pola hirarkis itu? Tidakah kita memberi kesempatan bersama dalam membangun ruang-ruang gerakan dan wacana bukan hanya sebagai pelaksanan intruksi semata?

Kini kantung-kantung massa dikemas sebagai upaya perwujudan nilai-nilai kebersamaan dan kesatuan. Di balik itu semua militansi kader-kader yang menggebu dimanfaatkan sebagai alat kontrol politik. Pada kenyataanya cara berpikir kita dititipi kepentingan subjektif untuk hal-hal politis lainnya. Maka timbulah gerakan-gerakan yang landasannya buram tidak mengakar pada kepentingan rakyat yang benar membutuhkan, tapi lebih pada kepentingan titipan budaya senioritas itu tadi.

Kita tahu bahwa Bung Karno  juga lahir dari kultur berorganisasi  di masanya. Sekarang kita bisa bertanya pada diri masing-masing. Apakah budaya dalam gerakan-gerakan anak muda yang kita lakoni saat ini telah berhasil melahirkan seseorang yang visioner dan kritis seperti Bung Karno?

Barangkali pertanyaan yang lebih tepat, benarkah gerakan-gerakan kita masih berjalan di atas rel?

Profil Penulis

Ahmad Septian Nugraha
Ahmad Septian Nugraha
Mahasiwa asal Purwakarta yang kuliah di Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Filosofi hidup “The most important thing, is always to give the best of yourself”. Aktif di Organisasi Permata Yogyakarta, UKM Audio Visual Ruang Gelap. Founder Sinema Merah, semacam creative pictures