Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Bukan Satu Agama.

Entah kutipan dari siapa, yang jelas aku melihatnya tertera di kaus rekanku, aktivis mahasiswa. Namun sekilas aku terngiang bait lagu Satu Nusa Satu Bangsa, ciptaan L. Manik.

“Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita,” begitu bunyi bait pertama lagu.

Dijelaskan makna dari bait tersebut, satu nusa bermakna bahwa setiap orang harus merasa memiliki satu tanah air yang sama, yaitu tanah air Indonesia. Satu bangsa memiliki makna walaupun kita berasal dari suku yang berbeda, tetapi kita tetap satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia. Pun satu bahasa memiliki maksud untuk mewujudkan persatuan bangsa yaitu dengan berbahasa Indonesia.

Istilah satu agama ditolak secara pragmatik dalam kutipan di atas dengan penggunaan kata ‘bukan’. Dari redaksi kutipan tersebut di atas, ‘satu agama’ bermakna menjadi hal yang tidak diperlukan, tidak mesti keberadaannya, sebab itu, dibedakanlah dalam penuturannya: “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Bukan Satu Agama”. Secara kontekstual, itu bisa jadi tidak masalah. Jika konteksnya Indonesia. Sebab, nusa, bangsa, bahasa itu bermaksud kepada Indonesia. Penggunaan kata ‘bukan’ adalah tepat sebab memang tidak ada Agama Indonesia. Maka pada kutipan itu kata agama harus diberikan pembeda dari kata nusa, bangsa, dan bahasa. Namun dengan dimaknai secara semantik kutipan itu bisa menjadi suatu hal yang fatal.

Secara etimologi, agama berasal dari bahasa sansekerta, yaitu A= tidak, Gama=Kacau. KBBI menjelaskan bahwa agama adalah suatu ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta serta tata kaidah yang berhubungan dengan kehidupan manusia supaya tidak terjadi kekacauan.

Dari sana, jelas! Mana mungkin sebuah negara tidak perlu memiliki satu agama yang sama. Mana mungkin dalam suatu negara menerapkan banyak sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadinya kekacauan yang berbeda-beda; tidak sama. Kecuali negara itu akan lebih kacau saja keadaannya. Maka seharusnya manusia-manusia di Indonesia ini tidak sekadar menyamakan pilihan tentang satu nusa, bangsa dan bahasa, namun betapa perlu juga memilih satu agama; satu sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadinya kekacauan, demi terwujudnya satu kepemimpinan, harmonisasi, cinta kasih dan perdamaian, dalam rangka kepentingan kesatuan persatuan.

Lantas agama atau sistem yang bagaimana yang mesti dipilih? Tentu sistem dari Yang Maha Menciptakan kehidupan-lah yang mesti terpilih yaitu sistem dari Tuhan. Kekuasaan Tuhan di muka bumi ini direpresentasikan oleh wakilnya yaitu utusannya dengan menjalankan kalam-kalam Tuhan itu sendiri yang diwahyukannya langsung kepada utusan tersebut. Sebagaimana kisah Adam selaku manusia pertama yang diciptakan Tuhan, lantas Ia diberi wahyu untuk menumbuhkan keimanan bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta itu adalah ciptaan Tuhan dan semua akan kembali kepada-Nya Yang Maha Pencipta, lalu untuk diadakannya sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadi kekacauan, yaitu dengan menjalankan segenap kalam-kalam Tuhan.

Demikianlah awal peradaban itu lahir, yang diiringi pengingkaran-pengingkaran manusia pada generasi selanjutnya, kemudian Tuhan mengirimkan utusannya lagi untuk mengajak umat manusia kembali kepada jalan yang lurus, yang setelah mereka kembali kepada sistem dari Tuhan, terjadi lagi pengingkaran-pengingkaran pada generasi selanjutnya, sehingga Tuhan mengirimkan utusannya lagi, sampai kepada utusan Tuhan yang terakhir dalam arti penyempurna dari semua utusan yang pernah dikirimkan ke muka bumi, yang diamini semua umat manusia (beragama), sebab semua utusan terdahulu mengabarkan berita tentang kedatangannya tersbeut, yang akan dikenal dengan nama Muhammad: orang yang terpuji, yang memiliki akhlak mulia yang patut diteladani.

Namun sejarah peradaban manusia yang sangat sederhana itu mengalami distorsi sehingga dibuat betapa kompleks-nya peradaban manusia itu, sampai akhirnya para pengingkar Tuhan atas kedengkiannya melahirkan ajaran-ajaran yang diklaim bahwa itu sebagai suatu agama, yang akhirnya menjadikan adanya macam-macam ajaran agama dewasa ini. Dengan dogmatisasi yang dibuat-buat para pengingkar Tuhan atau para pendengki itu, ada sebagian manusia yang akhirnya bertaklid. Memaksa mereka lalai terhadap kalam-kalam Tuhan. Sedangkan kedatangan utusan terakhir yang berakhlak mulia, yang membenarkan utusan-utusan terdahulu, yang mengajak umat manusia kembali kepada jalan yang lurus itu pun telah dikabarkan dalam literatur semua ajaran agama yang ada dewasa ini.

Dari kronologis tersebut betapa jelas hakikatnya agama atau sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadinya kekacauan itu hanya ada satu yakni sistem dari Tuhan yang sewajibnya diterapkan umat manusia. Sebab kerugianlah bagi pengingkar-pengingkar Tuhan atas kedengkian di dadanya sehingga membuat sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadinya kekacauan atas nafsu dan rasionalisasi dangkal duniawi, tidak berdasarkan kepada kalam-kalam Tuhan. Sedang jelas prinsip ber-agama dalam kata lain prinsip mengadakan sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadinya kekacauan itu ada tiga, yakni: iman, islam, ihsan; meyakini adanya Tuhan Yang Maha Menciptakan, berserah diri kepada-Nya, menjalankan segenap kalam-Nya dengan sungguh-sungguh serta penuh keyakinan bahwa Tuhan Maha Melihatnya meskipun manusia itu sendiri tak melihat-Nya.

Untuk itu, kita hanya perlu mengenali siapa utusan Tuhan dan membaca mana kalam Tuhan. Kita wajib memilih satu agama. Sedang tak diragukan lagi bahwa Muhammad bin Abdullah Shalallahu Alaihi Sasalam adalah utusan Tuhan dan Al-quran adalah kalam Tuhan, maka risalah yang ada padanya-lah yang wajib diterapkan sebagai sistem yang mengatur kehidupan manusia supaya tidak terjadinya kekacauan di negara ini, bahkan di muka bumi ini. Adapun dalam cakupan Indonesia ketika terpilihnya satu agama untuk dijadikan pegangan itu tidak lantas memaksa semua harus sama-seragam, sampai melakukan teror untuk itu. Sebab sebagaimana utusan Tuhan yang terakhir itu telah mencontohkan kerukunan dalam keanekaragaman, yang wajib diteladani. Selayaknya pilihan satu nusa yang sama: Indonesia, kita tetap tinggal di atas tanah dan air masing-masing tanpa ada perasaan paling mulia di antara yang lain. Pilihan satu bangsa yang sama: Indonesia, tidak lantas memaksakan kita menanggalkan kesukuan kita masing-masing. Pilihan Satu bahasa yang sama: Indonesia, tidak lantas pula memaksa atau mengancam kita tidak boleh lagi menggunakan bahasa daerah kita masing-masing. Demikianlah kewajiban kita memutuskan pilihan Satu Agama yang sama: Agama dari Tuhan, tidak lantas mengubah aktivitas ke-Indonesiaan kita sehari-hari. Kita tetap bersekolah, bekerja, berkeluarga, bersuku-suku, beranekaragam, berdasarkan kepada kalam Tuhan, sebab kita adalah makhluk-Nya.

Profil Penulis

Budi Hikmah
Pegiat Literasi Kopel Purwakarta dan aktivis PERMATA cabang Purwakarta