“Demokrasi kita baru sebatas heboh-heboh Pemilu saja!” kata seorang mahasiswa Purwakarta, kami lupa namanya, saat beres gelaran Talkshow Akhir Pekan (TAP) perdana, beberapa waktu lalu. Entah apa motivasi di balik omongannya itu. Apa mungkin karena ‘sensi’ skripsinya ngga kelar-kelar? Atau, siapa tahu akibat nunggak bayar uang kuliah dan akhirnya ngga bisa ikut UAS? Ngga tahu juga, sih.

Yang jelas, menurut standar perasaan kami yang tidak-seberapa-mantap ini, mahasiswa itu jujur. Nyatanya memang begitu, kan? Disadari atau ngga, demokrasi yang konteks dan kontennya jelas lebih besar dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) itu baru sekadar hadir dalam ‘panggung’ kecil bernama Pemilu. Seakan-akan demokrasi sudah tuntas dengan begituan. Padahal, tidak semudah itu, dong, Romario!

Masih ada ‘ceruk’ demokrasi lain yang belum kena jamah. Misal, bagaimana dengan demokrasi ekonomi? Apakah semua warga (citizen) Indonesia sudah punya kesempatan dan peluang yang sama di bidang ekonomi? Wallahu A’lam. Sebab, dari hasil survei kecil-kecilan, masih banyak orang yang kelimpungan akses. Ya, “akses” ; hal esensial yang membedakan secara ekstrem mana orang kaya dan mana orang miskin.

Lalu, apa kabarnya juga dengan demokrasi sosial kita? Dalam hal ini, apakah semua orang sudah sama setara (equal) dihadapan negara (state)? Yang jelas, jika maling ayam ‘bisa’ dibakar massa, sementara koruptor tidak (dan malah bisa leyeh-leyeh di sel berkelas bintang lima : Pen), artinya belum ada kesetaraan. Analogi yang brutal memang. Tapi, gaes, that’s a fact!

Nah, memang akan sangat njlimet ngomongin demokrasi dari sudut pandang itu semua. Di antaranya, banyak waktu yang pastinya perlu dikorbankan. Sementara, kami tidak rela momen maen Pe-Es-Empat yang ekstra-menyenangkan itu harus sirna untuk perkara demokrasi. Lalu, pasti, banyak biaya juga yang harus dikeluarkan untuk sosialisasi dan edukasi demokrasi yang 100% well. Hei! Itu masalah, sebab kami tidak masuk daftar penerima warisan keluarga Rockefeller.

Namun, sebagai fans ‘ultras’ Eep Saefulloh Fatah, kami sangat peduli demokrasi, lho. Seriusan. Dan sebagai bentuk kepedulian, kami ingin ngobrol bersama orang-orang handal di bidangnya untuk ngebahas demokrasi. Ngga apa-apa lah dari sudut “heboh-heboh Pemilu” juga seperti kata mahasiswa tadi. Paling tidak, mulai dari yang kecil dulu. Lalu, membesar seiring waktu–dan tekad.

Apa yang perlu diobrolin dari Pemilu kita sekarang ini? Menurut kami, ada dua aspek yang kayaknya seru buat dibahas. Pertama, Pemilu 2019 nanti, seperti yang di-iklan-in di televisi adalah Pemilu bersejarah, karena untuk pertama kalinya Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif digelar serentak.

Wow! Bersejarah, sih, memang untuk ukuran penyelenggaraan Pemilu berprinsip efisiensi alias penghematan. Tapi, bagaimana dengan konsekuensinya di lapangan nanti? Be-Te-We, ada lima surat suara, lho, nanti yang akan dicoblos pemilih (voters). Eniwei, bagaimana caranya agar mereka tidak keblinger?

Beruntung, level tantangan memilih Calon Presiden (Capres) bisa dibilang “easy”. Sebab, hanya ada dua pilihan saja. Sesederhana memilih ‘gebetan’. Namun, bagaimana dengan pilihan Calon Anggota Legislatif (Caleg) di tiap tingkatan; dari mulai kabupaten hingga pusat? Yassalam, nama-namanya banyak sekali, sedangkan kapasitas memori otak seseorang terhadap nama itu sangat-sangat terbatas. Selain nama keluarga terdekat, beberapa nama yang nyantol di otak biasanya terkait hal-hal pribadi ; gebetan, mantan, pacar, orang yang minjem duit dan orang yang nagih duit. Selebihnya, percayalah, potensi kita lupa nama itu sangat besar.

Ke-dua, hal lain yang perlu dibahas adalah diperbolehkannya orang gila untuk nyoblos di Pemilu nanti. Wow lagi, nih! Apa iya se-ekstrem itu? Beberapa kawan kami, entah kenapa, bisa langsung percaya begitu saja tanpa perlu cross-check. Efek lem aibon-kah? Atau, dampak drama Vicky Prasetyo – Angel Lelga mungkin?

Jelas, hal ini perlu di-tabbayun-kan. Masa iya KPU se-obsesif itu mentang-mentang menjamin hak politik warganya? Sebab, berdasarkan informasi yang kami himpun, hak memilih hanya diberikan kepada orang-orang sakit jiwa dengan kriteria tertentu, yaitu sakit jiwa rendah dan sedang dalam arti masih berkesadaran. Ya, sama halnya dengan keripik Ma’Icih, sakit jiwa itu ada levelnya, gaes!

Tentu akan keren dan berfaedah jika hal-hal diatas bisa dibincangkan dengan orang-orang andal di bidangnya. Sekurang-kurangnya, ada wawasan yang dibagi kepada khalayak. Lebih dari itu, mudah-mudahan dapat meningkatkan partisipasi politik publik. “Partisipasi” yang lebih dari sekadar bilangan angka di tiap Tempat Pemungutan Suara (TPS).

Profil Penulis

Widdy Apriandi
Widdy Apriandi
Penulis adalah suami siaga, barista dan kerja apa saja yang penting asoy