Sebelum Abah Pulang

Ia seorang anak yang jahat. Entah, tapi dulu ia tak seperti itu. Ia hanya benci. Rumahnya, keluarganya, kampungnya, nyaris tak pernah absen untuk membuatnya gusar. Sepuluh tahun berlalu sejak ia meninggalkan kampung halaman, dan selama itu pula, tak pernah sekalipun terlintas rindu.

Belakangan ia dengar cuaca disana makin panas, pohon-pohon di kampungnya banyak dibabat, suasana terik bukan lagi hal luar biasa, dan tentu sawit ada di semua tempat. Kau, tak perlu susah-susah mencari pohon yang kata presiden mengeluarkan oksigen itu. Pokoknya, cukup mengedarkan pandangan ke kiri dan ke kanan. Maka, selamat! Kau telah berhasil menemukan pohon berbuah merah kekuningan tersebut.

Dunia memang jahat. Mereka punya cara yang kejam untuk menarik ia kembali. Ia tak bisa lari lebih jauh lagi. Seakan semesta menarik kerah bajunya secara paksa untuk pulang ke kampung halaman. Setelah bertahun-tahun menghindar, surat keputusan itu datang juga. Ia akhirnya dimutasi, pindah ke daerah terpencil, yang rupanya kampung halamannya sendiri.

Ya, Lindhu mengaku ia seorang anak yang kejam. Sebagian orang justru pasti akan senang bila pulang ke rumah orang tua. Dasar ia memang anak tak tau di untung, harusnya ia bersyukur tidak lagi menjejak tanah perantauan. Namun, di tanah kelahiran ini yang ia rasakan justru perasaan kosong itu. Hampa, sedari tadi melamun menatap hamparan sawit yang terus saja membentang sepanjang perjalanan.

Abas disebelahnya sesekali berdehem, mencairkan situasi yang sejak tadi sunyi. Ia tak tahan dengan situasi ini. Kerongkongannya gatal sejak tadi hendak mengobrolkan apa saja.

“Jadi, Ndhu.” Abas akhirnya membuka obrolan. “Gimana rasanya akhirnya balik ke kampung sendiri? Dag-dig-dug?”

Bis itu menukik tajam di tikungan, membuat tubuh Lindhu sedikit terhuyung ke arah Abas. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Pertanyaan Abas tadi menggantung di udara.

“Tidak ada rasanya, Bas. Aku cumav… ya, balik. Biasa saja.”

Abas tertawa kecil, meski jelas terdengar dipaksakan. “Masa gak ada rasa? Sepuluh tahun, Ndhu. Kalau aku jadi kau, pasti senang sekali. Bisa pulang, ketemu keluarga. Lagian, siapa tahu, ada yang berubah dari kampung itu.”

Lindhu mendengus pelan. Matanya tetap terpaku ke jendela, menatap barisan sawit yang seolah tak ada ujungnya. “Kampung itu tak pernah berubah, Bas. Panas, kering, sawit di mana-mana. Orang-orangnya juga masih sama, terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain, tidak peduli dengan anaknya.”

Bis kembali menukik tajam, membuat beberapa penumpang mengeluh pelan. Abas memutuskan untuk tidak menjawab, membiarkan kata-kata Lindhu melayang di antara suara mesin bis yang menderu. Bis itu terus melaju, mendekati akhir perjalanan mereka. Di depan sana, kampung halaman Lindhu telah menunggu.

*

 

Sesungguhnya cerita di atas telah tertinggal beberapa bulan belakangan. Kini, Lindhu sudah menetap dan mengajar di salah satu Sekolah Menengah Akhir di kampungnya lebih kurang enam bulan. Sejak hari pertama ia mengajar, ia tahu pendidikan di kampung ini mirip makanan mahal di restoran. Hanya dapat ditatap jauh oleh mereka, sebab orang kampungnya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani dan buruh kebun sawit tidak pernah memimpikan anaknya untuk berkuliah. Bahkan ketika Lindhu bertanya pada siswanya tentang rencana mereka setelah lulus, sebagian besar muridnya tak punya rencana lain selain menikah.

Maka tak menunggu lama. Cepat saja, Lindhu memanggil para orang tua dari siswa-siswi di sekolahnya. Ini baginya genting sekali. Oleh karenanya, malam itu, aula balai desa penuh. Para orang tua duduk lesehan di lantai keramik. Di depan mereka Lindhu duduk bersila ditemani dengan Abas. Jelas sekali senyum Lindhu terasa kaku.

“Bapak, Ibu, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di sini,” ucap Lindhu membuka diskusi. Suaranya tegas. “Saya mengundang kita semua malam ini karena ada satu hal yang penting untuk kita bicarakan bersama, yaitu masa depan anak-anak kita.”

Lindhu mulai menjelaskan permasalahan di tengah mereka. Membawa cerita salah satu siswinya yang sebetulnya punya keterampilan dan nilai yang layak untuk masuk perguruan tinggi, tapi kini kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan hidup dalam kemiskinan struktural karena pernikahan dini.

“Tentu, pernikahan itu bukan hal buruk,” katanya, berusaha menjaga nada netral. “Tapi, kalau terlalu dini, apalagi tanpa persiapan yang matang, justru sering membawa masalah baru. Kita tidak ingin anak-anak kita mengalami itu, kan?”

Bisik-bisik di antara para orang tua mulai terdengar lebih keras. Seorang pria tua, yang duduk di barisan depan, mengangkat tangannya. Ia berbicara tanpa menunggu Lindhu mempersilakan.

“Jadi maksudmu, Ndhu, kita ini salah menikahkan anak-anak kita?” tanyanya dengan nada tajam. “Kau pikir kami tidak tahu apa yang terbaik untuk keluarga kami?”

Suasana mulai memanas. Beberapa orang di belakang mengangguk, mendukung ucapan pria itu. Lindhu menarik napas panjang.

“Bukan begitu maksudnya, Pak. Kita hanya ingin sama-sama melihat bahwa ada banyak potensi pada anak-anak kita. Kalau kita beri mereka kesempatan untuk belajar lebih lama,” Abas menyahut.

Seorang ibu-ibu berdiri. Suaranya tinggi, penuh emosi. “Belajar? Dengan apa? Uang dari mana? Kau pikir mudah bagi kami memberi makan mereka setiap hari? Kalau anak-anak itu menikah, setidaknya tanggungan kami kurang sedikit!”

“Betul, Bu!” sahut yang lain dari belakang. “Kami ini orang susah, Ndhu. Bukan seperti kau, yang bisa sekolah tinggi dan hidup enak di kota!”

Kepala Lindhu mendadak berdenyut. Kata-kata itu begitu menohok jantungnya. Ingin sekali ia berteriak,  mengatakan bahwa hidupnya di kota tidak pernah seindah yang mereka bayangkan. Hidupnya di kota juga penuh perjuangan. Hidup Abah dan Emak juga serupa, keduanya telah mengorbankan begitu banyak tenaga dan uang demi membeli kehidupan yang tak pernah keduanya rasakan—itu semua demi Lindhu.

“Saya mengerti beban yang Bapak Ibu rasakan,” kata Lindhu pada akhirnya, menahan emosi dengan nada selembut mungkin. “Saya berdiri di sini bukan untuk merendahkan kalian. Saya tahu bagaimana kehidupan di kampung ini, karena saya tumbuh besar di sini. Tapi pernikahan dini bukan solusi. Anak-anak kita butuh waktu untuk tumbuh, untuk belajar, untuk mengenal dunia. Kalau kita dorong mereka menikah terlalu cepat, mereka akan membawa masalah yang sama ke dalam rumah tangga mereka. Anak-anak itu,  tidak harus hidup seperti kita. Mereka bisa punya pilihan, kalau kita beri mereka kesempatan.”

Lindhu tentu berbeda dengan Abas. Ia dokter muda yang ditempatkan di puskesmas kampung itu. Abas tersungging tipis mendengar Lindhu berbicara.  Ia tahu beban yang dipikul Lindhu berat.

Ia sendiri bisa lebih tenang, barangkali karena tiap hari yang ia hadapi adalah pasien-pasien dengan penyakit yang bisa dilihat dan diobati dan nyerinya bisa dijelaskan. Berbeda dengan Lindhu, yang tiap hari dihadapkan pada luka-luka yang tak kasat mata: siswa-siswi SMA yang tak punya harapan, anak-anak yang entah bagaimana sudah pasrah pada hidup mereka yang padahal baru saja dimulai.

Ruangan kembali sunyi. Beberapa orang tampak tertegun, tapi hanya sesaat.

“Sudahlah, Ndhu,” ujar salah satu pria sambil berdiri. “Tidak ada gunanya diskusi ini. Kau bukan orang tua. Kau tidak tahu apa-apa soal hidup kami.”

Satu per satu orang mulai meninggalkan aula, menciptakan suara langkah kaki yang berat di lantai keramik. Lindhu tetap berdiri di tempatnya, menatap kosong ke arah pintu keluar.

Saat aula itu benar-benar kosong, Lindhu akhirnya menghela napas panjang. Kepalanya tertunduk. Abas, meski tidak berkata banyak, tahu persis perasaan Lindhu. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Abas menepuk lembut bahu Lindhu, memberi tanda bahwa ia tidak sendirian.

*

 

Lindhu dalam bahasa jawa berarti gempa bumi. Entah orang tuanya dapat inspirasi dari mana. Tapi  terlepas dari arti namanya, setidaknya ia tumbuh dengan baik.

Harusnya Abah berterima kasih kepadanya. Sebab nama Abah lebih sering disebut-sebut dari nama lain di sekolah. Mengalahkan teman-teman Lindhu yang punya bapak lurah, polisi, atau barangkali koruptor—jelas nama bapak teman-temannya tak pernah diserukan sesering nama abahnya. Dua belas tahun berturut-turut, speaker sekolah seharusnya bosan meneriakkan nama Abah saat pengumuman juara kelas.

Lindhu pikir awalnya begitu, tapi Abah adalah Abah. Bahkan saat acara pengambilan rapor ia tak pernah datang sekali pun. Lindhu tak tau pasti perasaan Abah ketika melihat anaknya tumbuh pintar. Tapi kata Emak, Abah memang begitu. Selalu melafal bangga tanpa puji, mengeja sayang tanpa kata.

Dua minggu telah berlalu sejak diskusi itu. Jadwal pekerjaan Lindhu makin banyak. Selain sebagai guru, sepulang mengajar ia mengerjakan pekerjaan sampingan lain. Jadilah, ia pulang hanya ketika langit telah gelap. Tiap malam ia bertemu Abah yang selalu menyeruput kopi di beranda rumah. Tidak ada percakapan. Lindhu pun tak pernah mau memulai.

Ketika Abah masih di beranda, menyeruput kopi dengan tenang. Emak ada di dapur, barangkali memanaskan lauk tadi siang.

Dulu, saat hidup mereka lebih sulit, Lindhu sering memilih pergi daripada tinggal di rumah ini. Ia selalu beralasan ada kegiatan sekolah, pekerjaan kelompok, atau hanya sekadar membantu teman. Padahal ia hanya ingin lari. Lari dari keluhan-keluhan kecil yang kadang terdengar dari dapur ketika Emak bicara dengan Abah. Lari dari wajah Abah yang diam tapi menyimpan lelah, lari dari tangan Emak yang kasar dan pecah-pecah sebab terlalu sibuk mengupas pinang.

Ia merasa tak berdaya, dan ketidakberdayaan itu membuatnya muak pada dirinya sendiri. Lindhu, yang selalu menjadi kebanggaan di sekolah—juara kelas yang namanya diumumkan melalui speaker setiap semester, tidak bisa melakukan sesuatu di rumah. Membantu Abah berladang justru membuat ia bertambah muak. Muak dengan kemiskinan struktural yang secara terang-terangan telah diwariskan padanya.

Biar pun begitu, barangkali anak-anak bodoh yang nilainya jelek disekolah itu lebih baik dibanding ia yang punya nilai bagus tapi tak punya ilmu untuk bisa menghibur Emak. Maka, ia memilih pergi. Membiarkan rumah itu menjadi tempat yang hanya ia singgahi ketika benar-benar diperlukan.

 

Sebetulnya Lindhu sudah sangat muak dengan kehidupan kampungnya yang stagnan. Sawit di semua tempat, pekerjaan yang begitu-begitu saja, rutinitas yang tak berubah, dan pola pikir orang kampung yang tak pernah berkembang. Hidup di kampungnya tak ubahnya roda pedati yang berputar di tempat. Lahir, sekolah, menikah, menjadi petani/buruh sawit, tua, lalu mati. Hal itu membuat Lindhu gerah.

Bermodal nekat, ia mulailah membuat gerakan-gerakan kecilnya untuk merubah pola pikir masyarakat kampung. Langkah awalnya sederhana saja. Ia ingin mengajak sebanyak-banyaknya orang kampung kembali mengisi surau. Selama ini, ia bosan bertemu dengan wajah-wajah bau tanah yang itu-itu saja.

“Dan kau pikir mereka akan tertarik hanya karena kau ajak?” tanya Abas skeptis, waktu Lindhu menjelaskan rencananya.

“Aku tidak hanya mengajak,” jawab Lindhu. “Aku akan memancing mereka. Makan gratis setelah solat berjamaah. Siapa yang bisa menolak makan gratis?”

Abas hanya terkekeh. Itu benar, ciri khas orang Indonesia, selalu senang dengan segala sesuatu yang gratisan.

Lalu, hari pertama tiba. Setelah salat Magrib, Lindhu berdiri di depan masjid, sebuah meja sederhana di depannya telah tertata rapi oleh nasi bungkus dan air mineral.

Di sebelahnya, Abas ikut berdiri, mengamati dengan wajah pesimis. Hanya ada lima orang yang datang malam itu—semuanya bapak-bapak tua yang memang rutin ke masjid.

“Terima kasih, Pak. Kabarin sama warga lain, kalau tiap Magrib akan ada nasi gratis ya Pak,” ucap Lindhu sambil membagikan nasi bungkus pada mereka.

Hari berikutnya, jumlah jamaah bertambah dua orang. Menariknya malam ketiga, empat orang lagi ikut hadir. Seminggu berlalu, kabar tentang makan gratis setelah salat maghrib berjamaah itu makin menyebar. Perlahan surau itu mulai terasa lebih hidup.

Dua minggu setelahnya, Lindhu menerapkan konsep baru. Ia tidak lagi menyediakan nasi bungkus. Melainkan hanya beberapa tempat-tempat besar yang berisikan nasi dan lauk pauk. Maka jamaah surau, harus pintar-pintar membawa tempat makannnya sendiri.

Begitulah rutinitas Lindhu sehabis salat berjamaah. Ia akan berdiri di depan meja, memasukkan nasi dan lauk ke dalam piring-piring yang dibawa oleh warga kampung. Abas di sebelahnya membantu. Kali ini bahkan jamaah yang datang dua kali lebih banyak, sebagian besar diisi oleh anak muda. Tak jarang ibu-ibu juga turut serta membawa tempat makan yang besar-besar meminta lebih kepada Lindhu dan Abas.

Dengan cepat makan gratis itu telah membuat orang-orang kampung lupa dengan diskusi di balai desa beberapa waktu lalu yang naasnya berjalan tak lancar. Bahkan beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu yang dulunya sempat beradu argumen dengannya kini malah lebih sering menyapanya dengan ramah. Tentu Lindhu tak mau melewatkan kesempatan ini. Pelan tapi pasti, ia menggiring orang-orang kampung. Surau itu telah menjadi pusat pertemuan. Dimana tiap warga dapat saling bertemu—saling bersilaturahmi, mengobrol, dan melepas penat sehabis bekerja di ladang. Disanalah Lindhu berusaha mengubah pola pikir mereka yang telah lama karatan. Pelan-pelan ia bincangkan masalah pendidikan kepada para orang tua, berusaha sekeras mungkin membuat mereka tak tersinggung.

Sebetulnya Lindhu juga tau ide makan gratis ini tentu perlu biaya besar. Modalnya hanya nekat dan sedikit gaji PNS ditambah seperempat dari gaji Abas yang tak sudi melihat rekannya berjuang sendirian. Tapi setidaknya ada proses. Sepelik apapun nantinya, setidaknya telah ada langkah yang ia coba.

*

 

Cerita di atas telah tertinggal ratusan hari lalu. Kini, ide sederhana yang terlahir dari kegelisahan Lindhu menjadi kegiatan rutin di kampung itu. Perlahan orang-orang mulai membuka matanya. Para orang tua yang dulu enggan mendengarkan ide-idenya, kini mulai meliriknya dengan lebih serius. Beberapa dari mereka bahkan datang kepada Lindhu, menawarkan sumbangan hasil panen mereka untuk dapur umum yang ia buat.

Namun, di balik perubahan ini, Lindhu tetap merasa terjebak di dalam dilema yang lebih besar—tentang dirinya, tentang rumahnya, dan tentang Abah. Meskipun kampung mulai berubah, ada satu hal yang tak pernah berubah dalam dirinya: rasa hampa yang sulit ia lepaskan. Ketidakberdayaan, rasa bersalah yang masih membekas. Di rumah, Abah tetap seperti itu, selalu diam. Tak pernah bertanya tentang perkembangan kampung, tentang dapur umum yang ia jalankan, atau bahkan tentang pekerjaannya seharian. Berulang-ulang begitu saja, mirip detak jarum jam yang tak pernah berubah.

Suatu sore yang masih teringat jelas, waktu itu Abah dipaksa Emak untuk masuk puskesmas karena diare. Memang, beberapa hari belakangan diare Abah tak kunjung sembuh. Sewaktu Emak memberi tahu lewat telfon, Lindhu segera saja bergegas ke puskesmas  sehabis kegiatan belajar mengajarnya selesai.

Sialnya, di rumah sakit Emak terpaksa pergi untuk mengambil baju dan membereskan rumah. Abah dan Lindhu hanya berdua di ruang rawat itu, duduk diam dalam kecanggungan yang luar biasa. Tentu ini aneh, ia bisa berdiskusi dengan bapak-bapak lain di surau, tapi tidak dengan ayahnya sendiri.

Pada saat itu Lindhu merasa, ia harus meluluhkan ego. Tanpa sadar, ia membuka suara, tapi sebelum sempat ia memulai percakapan, Abah sudah duluan buka suara.

“Gimana orang-orang kampung, Ndu? Masih sama? Suka ngerumpi sambil ngopi?” tanya Abah sambil terkekeh.

Demi menyaksikan kejadian langka ini, Lindhu mengerjapkan matanya dua kali. Ternyata bukan mimpi, barusan benar Abah yang memulai obrolan duluan.

Lindhu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, sambil tertawa ia membalas, “Haha iya, tapi sekarang mereka lebih sering rumpi di surau, Bah. Sambil bawa piring dari rumah.”

Abah tertawa, demi melihat hal tersebut hati Lindhu nyaris menghangat. “Kamu ini. Bikin dapur umum, ngajakin orang salat. Nanti jangan-jangan orang kampung mulai nunjuk kamu jadi kepala desa.”

Lindhu hanya tertawa mendengar hal itu. Beberapa menit kemudian hening kembali menggantung di udara.

“Bah,” akhirnya Lindhu bersuara kembali, kali ini kerongkongannya gatal hendak bertanya.

Abah hanya bergumam, tanda ia mendengar.

“Kenapa Abah nggak pernah datang ke sekolah waktu aku kecil? Bahkan pas aku juara kelas terus-terusan, Abah nggak pernah lihat,” tanyanya dengan nada yang sedikit getir.

“Aku takut, Ndhu.”

Lindhu mengernyit, tak percaya dengan jawaban itu. “Takut? Takut apa, Bah?”

Abah mengangkat wajahnya perlahan, menatap anak laki-laki yang kini sudah menjadi pria dewasa. “Takut nggak cukup buatmu. Takut kalau aku ada di sana, aku bakal terlihat kecil dibandingkan pencapaianmu. Takut kamu malu karena bapakmu cuma petani.”

Lindhu tertegun. Hatinya mencelos. Seluruh kata yang sudah disiapkannya di kepala mendadak lenyap. Ia tak pernah membayangkan Abah memikirkan hal seperti itu.

“Abah, aku nggak pernah malu. Aku bangga sama Abah. Apa yang Abah lakuin itu jauh lebih besar daripada apa pun yang aku capai di sekolah,” Lindhu akhirnya membalas dengan suara gemetar.

Percakapan malam itu kemudian mengalir begitu saja. Ibarat palu godam di dada Lindhu hilang begitu saja. Lindhu membicarakan apapun yang ada di kepalanya. Serius ia belum pernah punya percakapan sehangat itu dengan Abah. Ini adalah pertama kalinya.

 

Kini Ia berbaring di sebelah Abah, di sebuah kamar yang tenang. Suara detak jam terdengar begitu jelas. Wajah Abah tampak tenang, lebih damai daripada yang pernah ia lihat sebelumnya. Abah, yang dulu tak pernah tampak rapih dan terawat, kini bersih dan wangi.

Selepas diare yang tak kunjung sembuh itu,  Abah didiagnosis terkena kanker usus. Rupanya di sana lah permasalahannya. Ia menyimpan sakitnya diam-diam, lelahnya dan bebannya ia tutup rapat-rapat, cemoohan tetangga, dan hinaan saudaranya ia tahan dalam-dalam. Semuanya ia kumpulkan disana seperti bom waktu, tidak ada yang tau. Hanya tinggal menunggu waktu meledak saja.

Abah sepertinya memang tak mau merepotkan siapa pun. Dua minggu setelahnya, Abah pamit  pulang pada Emak juga Lindhu. Untuk selamanya. Lindhu tahu, Abah benar-benar siap untuk pulang.

Hanya ada keheningan malam itu. Besok, pagi-pagi orang kampung akan berbondong-bondong datang ke rumahnya. Kini ia berbaring di sebelah Abah. Ada sesuatu yang retak di dalam dirinya, tapi tidak bisa ia tangisi. Abah sudah selesai dengan dunianya, Lindhu tahu, Abah benar-benar siap untuk pulang. Dunia memang jahat. Mereka punya cara yang kejam untuk berputar.

Sekelebat kalimat Abah bergaung di kepalanya. “Hidup itu sementara, Ndhu,” ujar Abah pelan waktu itu, matanya lurus ke arah jendela. “Yang kekal itu kebahagiaan yang kamu bagi-bagi.”

Lahir dan besar di Riau. Saat ini merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Unand. Suka jeruk dan manggis serta memiliki kucing bernama Ameng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!