Sebagai Umat Kristian, Saya Malu karena Trump

Di era politik modern, kita sering melihat fenomena para pemimpin negara yang menggunakan simbol-simbol agama untuk mendekatkan diri dengan rakyat. Donald Trump adalah contohnya, sebab kita kali ini mau bahas Trump, bukan Cak Imin.

Trump sering menyebut dirinya sendiri sebagai pembela orang Kristen. Pada satu kesempatan, ia pernah difoto sedang memegang Alkitab di depan gereja. Namun, jika kita melihat kebijakan luar negerinya seperti penangkapan paksa Presiden Venezuela pada Januari dan serangan militer pada Iran di akhir Februari, maka,

Di mana sebenarnya nilai-nilai kristen dalam tindakan-tindakan tersebut? Atau,

Jangan-jangan, agama hanya menjadi topeng untuk membungkus ambisi politik dan ekspansi kekuasaan?

 

Ross Douthat, seorang kolumnis terkenal di The New York Times menawarkan cara pandang yang menarik tentang nasionalisme Kristen. Menurutnya, ada dua cara memahami istilah ini.

Pertama, nasionalisme Kristen bisa dimaknai sebagai upaya orang-orang beragama yang ingin menerapkan ajaran agama dalam kebijakan negara. Kedua, ketika nasionalisme menjadi “pengendali” dan agama hanya atributnya saja, seperti yang sudah terjadi di negerinya Pria Solo enih. Agama hanya “setangkai dupa” yang bisa membuat orang merasa nyaman dengan tindakan duniawi yang sebenarnya sama sekali tidak mencerminkan iman mereka. seperti

Contoh lain dari kemunafikan ini pada era Trump bisa tergambar melalui Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Trump. Pete memiliki sebuah tato salib dan merupakan anggota sebuah Gereja Calvinis. Foto-foto yang beredar juga menunjukkan bahwa dia adalah umat kristiani yang taat. Namun dibalik itu semua, ada laporan bahwa ia merencanakan dan mengeksekusi operasi militer di Venezuela yang menewaskan banyak warga sipil. Tidak ada pertimbangan etis tentang just war (perang yang adil) yang seharusnya menjadi pegangan tradisi Kristen selama berabad-abad.

Argumen yang digunakan para pembuat kebijakan ini lebih terdengar seperti bloody-minded utilitarianism pokoknya membunuh yang tidak menguntungkan akan dianggap sah.

Padahal tradisi Kristen sejak abad pertengahan mengenal doktrin just war yang ketat. Thomas Aquinas dan para teolog lainnya merumuskan setidaknya tiga syarat utama. Bahwa perang harus dideklarasikan oleh otoritas yang sah:

  1. Penyebab yang adil,
  2. Harus dilandasi oleh niat baik, bukan niat menghancurkan
  3. Bukan berniat untuk menguasai atau membalas dendam.

Berdasarkan ketiga kriteria tersebut, sulit menemukan justifikasi atas tindakan penculikan Nicolas Maduro. Analis dari DW bahkan menyebut tindakan AS tersebut telah mengabaikan Piagam PBB dan hukum internasional, tindakan mereka tidak hanya ilegal tapi juga immoral.

 

Sedangkan Venezuela dan Iran …

Penangkapan Maduro menjadi titik balik penting dalam ketegangan hubungan internasional. Seorang presiden sah diculik paksa dari negaranya dan diterbangkan ke New York untuk diadili. Bayangkan jika hal itu dilakukan negara lain kepada Sekutu AS, sudah pasti akan menuai kecaman, tapi karena AS yang melakukannya, banyak yang memilih diam.

Iran, sekutu Venezuela, membaca kejadian ini dengan prihatin. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebutnya sebagai tindakan yang sama sekali tidak bisa dibanggakan. Mereka tahu, jika Venezuela bisa diperlakukan seperti itu, siapa yang bisa menjamin mereka tidak akan menjadi yang berikutnya?

Respons tersebut terbukti. Dua bulan berselang, AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran. Yang lebih memprihatinkan, serangan ini dilakukan tanpa adanya persetujuan Kongres yang jelas. The New York Times mengatakan bahwa Trump memulai ini semua tanpa memberikan alasan jelas kepada Amerika dan dunia alasan ia melakukannya. Transparansi yang menjadi fondasi demokrasi dikesampingkan, prosedur yang seharusnya menjadi pengekang kekuasaan eksekutif diabaikan.

Seorang pemimpin yang mengklaim membela nilai-nilai Kristen malah menjadi agen kekacauan global, dasar dajjal!

Babibu soal perdamaian, tapi kebijakannya memicu perang. Ia mengaku pembela kebenaran, tapi tindakannya melanggar hukum, membuat malu umat kristiani. Identitas agama hanya menjadi kostum politik sementara kebijakan luar negeri berjalan tanpa kompas moral!

Douthat mencatat bahwa pemerintahan Trump memang banyak memberikan retorika umum tentang nilai kekristenan bagi masyarakat Amerika, keluhan tentang penganiayaan orang Kristen di luar negeri, dan unggahan media sosial bersama pendeta. Namun tanpa kebijakan yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai Kristen, semua itu terasa lebih seperti sebuah sandiwara di depan rakyat.

Bagi Douthat, pada era Trump tidak ada idealisme sama sekali, yang ada hanya kepentingan dan kekuasaan. Jika ada sedikit saja nilai Kristen, sedikit kerendahan hati, sedikit belas kasihan, sedikit pertimbangan etis dalam nasionalisme Trump maka mungkin bisa mencegah pemerintahan ini melakukan hal-hal yang sungguh jahat. Sebaliknya, agama menjadi tameng untuk melindungi kebijakan yang tidak bisa dibela secara moral.

 

Akhir Kekuasaan, Alkitab dan Rudal

Pada akhirnya, kasus Trump menunjukan seorang pemimpin mampu mereduksi agama menjadi sekedar simbol. Nasionalisme yang berlebihan dapat menjadi bentuk penyembahan berhala, bangsa dan kekuasaan menjadi perhatian utama, sementara nilai-nilai iman dikesampingkan. Para pemimpin mungkin datang ke gereja, memegang Alkitab, dan memuji Tuhan. Namun jika kebijakan mereka menciptakan permusuhan, penindasan, dan kematian, maka semua ritual tadi menjadi sia-sia.

Douthat memberikan sebuah refleksi penting melalui sebuah pertanyaan, jika agama hanya jadi simbol tanpa substansi, bukankah itu seperti garam yang menjadi tawar seperti dalam Matius 5:13?

Garam tawar tidaklah berguna, hanya dibuang dan diinjak orang.

Demikian pula halnya dengan klaim iman yang tidak tercermin dalam tindakan nyata, ia kehilangan fungsinya sebagai terang dan garam dunia. Sejarah akan mencatat pada akhirnya, ada pemimpin yang datang menenteng Alkitab tapi meninggalkan jejak dosa kezaliman.

 

Referensi

Douthat, R. 2025. Why is Christianity So Hard to Find in the Trump Administration? The New York Times. https://www.nytimes.com/2025/12/06/opinion/trump-hegseth-christian-nationalism.html

Farhadi, Erlina. 2026. Penangkapan Maduro: Alarm dari Caracas Menggema ke Teheran. https://amp.dw.com/id/penangkapan-maduro-alarm-dari-caracas-menggema-ke-teheran/a-75418364

Allsides staffs. 2026. Did Trump Unlawfully Bypass Congress to Strike Iran? https://www.allsides.com/story/federal-state-and-tribal-powers-did-trump-unlawfully-bypass-congress-strike-iran

Mahasiswa CRCS (Center for Religious & Cross-cultural Studies) Universitas Gadjah Mada. Banyak tertarik untuk menulis dan meneliti tentang isu hak-hak masyarakat adat, new animism, paganism, KBB, dan teologi agama-agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!