

Bandar Lampung itu unik. Bukan karena lautnya yang indah, bukan juga karena kulinernya yang menggoda (meskipun ya, itu juga), tapi karena satu hal yang sering luput dari perhatian: trotoarnya. Atau lebih tepatnya, ketiadaan trotoar yang benar-benar bisa disebut “trotoar”.
Coba bayangkan ini: kamu keluar rumah dengan niat mulia. Jalan kaki. Iya, jalan kaki. Aktivitas yang katanya sehat, murah, dan ramah lingkungan, tapi niat itu diuji sejak langkah pertama. Trotoar yang seharusnya jadi sahabat pejalan kaki malah berubah jadi semacam “arena uji nyali”. Ada yang retak-retak, bolong, tiba-tiba menghilang, atau bahkan berubah fungsi jadi parkiran motor dan lapak dadakan.
Kalau trotoar di kota lain mungkin hanya sekadar jalur tapi di Bandar Lampung, trotoar itu Dufan 🙁
Kadang saya berpikir, mungkin memang bukan trotoarnya yang rusak. Mungkin kita saja yang rajin suudzon. Trotoar di sini memang dirancang untuk melatih keseimbangan, refleks, dan insting bertahan hidup. Setiap langkah harus penuh perhitungan. Salah injak sedikit, bisa keseleo. Kurang fokus, bisa nyemplung ke lubang yang entah sejak kapan menganga tanpa rasa bersalah.
Lucunya, di beberapa titik, trotoar itu seperti punya kepribadian sendiri. Hari ini ada, besok hilang tiba-tiba jadi tiang listrik. Disambung lagi dengan beton yang beda tinggi.
Padahal, kota ini sebenarnya terus berkembang. Jalan-jalan diperlebar, gedung-gedung baru bermunculan, pusat perbelanjaan makin ramai. Tapi entah kenapa, pejalan kaki seperti tidak pernah benar-benar dipikirkan dan masuk dalam rencana besar itu. Seolah-olah semua “pengguna jalan” berarti yang punya kendaraan saja. Kan, tidak semua orang punya motor atau mobil, tidak semua perjalanan harus ditempuh dengan kendaraan. Ayo, lah! Warga Lampung juga romantis berjalan bersama pasangan seperti di Dago!

Alih Fungsi Trotoar Lampung
Kita juga harus bicara soal “alih fungsi” trotoar. Ini fenomena yang cukup kreatif, sebenarnya. Trotoar bisa jadi tempat parkir, tempat jualan, bahkan tempat nongkrong. Multifungsi betul nampaknya. Bayangkan kamu berjalan di trotoar, lalu tiba-tiba harus zig-zag menghindari motor parkir, gerobak, dan kursi plastik. Rasanya seperti main game, dan level kesulitannya? Hard mode lah jelas!
Yang lebih ironis lagi, kadang kita menemukan trotoar yang sebenarnya sudah bagus. Rapi, lebar, bahkan dilengkapi guiding block untuk penyandang disabilitas tapi … ya itu. Entah kenapa tetap saja ada motor yang naik. Tetap saja ada yang menjadikannya tempat parkir, ada juga yang berdagang.
Untuk yang ini, saya cenderung yakin kesalahannya juga ada pada cara kita memandang ruang publik. Trotoar itu kan bukan “sisa jalan” yang bisa dipakai sesuka hati. Itu hak, lhho. Hak untuk berjalan dengan aman, nyaman, dan tanpa rasa was-was setiap dua langkah sekali.
Bandar Lampung sebenarnya punya potensi besar untuk jadi kota yang lebih ramah pejalan kaki. Tapi untuk sampai ke sana, kita perlu mulai dari hal yang paling dasar: mengakui bahwa pejalan kaki itu ada. Bahwa pejalan kaki juga penting dan berhak atas keamanan.
Sampai artikel ini ditulis, Bandar Lampung masih sama. Kalau kamu jalan kaki di Lampung, kamu harus siap berjuang~
Mungkin suatu hari nanti, kita bisa berjalan santai tanpa harus melihat ke bawah setiap detik. Tanpa harus turun ke jalan raya karena trotoarnya tiba-tiba “mendelep”. Kemudian, sambil menunggunya, kita, para pejalan kaki, akan terus berjalan. Pelan-pelan, hati-hati, sambil tertawa miris dan mendengarkan The Lantis. Sebab di kota ini, bahkan berjalan lurus saja bisa jadi pengalaman yang penuh plot twist. Subhaanallah!
REFERENSI
https://rmollampung.id/trotoar-keramik-di-bandar-lampung-akan-diganti-dengan-granit
https://lampung.viva.co.id/berita/4542-kata-wali-kota-bandar-lampung-soal-trotoar-keramik
https://lampung.rilis.id/Pemerintahan/Berita/trotoar-kramik-warna-warni-di-bandar-lampung-Oxoh
Mahasiswa S2 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Lampung yang tertarik pada isu kota, sastra, bahasa, dan kehidupan, empat hal yang sering membuatnya berpikir terlalu jauh dari yang seharusnya. Kesehariannya diisi dengan membaca, menulis, dan berdamai dengan deadline. Ia percaya bahwa bahkan hal kecil, seperti trotoar atau percakapan biasa, selalu punya cerita, tinggal cukup peka (atau cukup overthinking) untuk menyadarinya.
This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.
Hai Kak Azzahra…. terima kasih sudah menulis ini. Sebagai pejalan kaki di Bandar Lampung aku juga punya keresahan yang sama. Colek dong Bunda tercinta… ehee