Duduk di kursi kebesarannya, Tuan Krabs tertawa-tawa dan tertawa-tawa. Hari ini ia untung besar; berkali-kali lipat lebih untung daripada biasanya. Dan keuntungannya ini masih akan terus bertambah sebab ini belum juga pukul satu siang. Di sela-sela tawanya, ia membuka brankas dan melihat-lihat tumpukan uangnya di sana, lalu tersenyum lebar, lalu menutupnya lagi; setelah itu ia kembali duduk di kursi kebesarannya dan tertawa-tawa dan tertawa-tawa. Ia tahu ia orang kaya. Dan sebagai orang kaya, ia begitu senang mendapati kekayaannya akan bertambah signifikan hanya dalam waktu satu hari saja.

 

Hari ini memang hari yang istimewa bagi Tuan Krabs. Puluhan ribu orang berkumpul di luar Krusty Krab, mengikuti semacam acara politik bernuansa agama, dan satu per satu dari mereka telah memasuki Krusty Krab dan memesan krabby patty; banyak dari mereka memesan dua atau tiga sekaligus. Tuan Krabs sampai mendirikan tenda-tenda yang lebar dan besar di luar Krusty Krab, mengelilingi restorannya ini. Di bawah tenda-tenda itu tentu ada meja-meja dan kursi-kursi, dan orang-orang yang duduk beristirahat atau bermalas-malasan atau menyimak apa-apa yang tengah dikoar-koarkan seseorang yang di semacam panggung. Tuan Krabs tidak tertarik pada apa yang dikoar-koarkan seseorang itu. Tidak juga ia tertarik pada acara tersebut. Orang-orang itu datang membawa uang dan mereka pasti membelanjakannya. Ia hanya tertarik pada satu hal ini.

 

Untuk memperbesar kemungkinan orang-orang itu membelanjakan uangnya, Tuan Krabs memberi sejumlah tugas spesial kepada Spongebob, karyawan terbaik Krusty Krab bulan lalu dan bulan sebelumnya dan bulan sebelumnya lagi dan bulan sebelumnya lagi. Salah satu tugas spesial itu adalah mengambil foto dari orang-orang itu ketika mereka sedang menyantap krabby patty dan setelah itu menawari mereka jika ada sesuatu yang ingin mereka katakan terkait acara yang mereka ikuti itu; apa yang mereka katakan ini kemudian akan dicantumkan di semacam buku dokumentasi yang akan diproduksi oleh Krusty Krab—sebenarnya hanya disponsori—dan kelak akan dijual secara online, tentu saja kepada mereka. Tuan Krab percaya Spongebob melakukan tugas spesialnya itu dengan baik; ia bagaimanapun adalah sosok yang selalu bisa diandalkannya terkait hal-hal semacam ini. Dan Tuan Krab tahu, Spongebob tak akan meminta bonus atau kenaikan gaji sebagai imbalan atas kerja-lebihnya ini. Memikirkan ini semakin membuatnya ingin tertawa dan tertawa.

 

Setelah bosan tertawa, Tuan Krabs berjalan menghampiri jendela. Acara di luar itu sungguh berisik namun yang sampai ke ruangannya ini hanya sisa-sisanya saja; dan kini ketika mengamati orang-orang itu dari balik jendela Tuan Krabs tak bisa menahan diri dari tersenyum sinis. Kalau saja mereka tak membawa uang, atau membawa uang tetapi tak membelanjakannya di Krusty Krab, Tuan Krabs tentulah sudah mengusir mereka dari tadi. Ia yakin orang-orang yang kebetulan sedang berada di sekitar Krusty Krab sebenarnya terganggu dengan dilangsungkannya acara itu. Bahkan bisa jadi bukan hanya mereka, melainkan semua penghuni Bikini Bottom. “Orang-orang ini pastilah berpikir mereka sedang melakukan sesuatu yang penting,” kata Tuan Krabs, dan kembali tersenyum sinis. Tetapi sedetik kemudian senyumnya berubah; kali ini senyum dengan mata berbinar dan diikuti beberapa anggukan kepala. Beberapa dari orang-orang di luar itu datang membawa anak-anak mereka. Tuan Krabs sebenarnya membenci anak-anak, sebab mereka berisik, dan sulit diatur. Tetapi ia tahu anak-anak mudah tergoda dan mudah diperdaya, dan itu artinya uang, uang, dan uang.

___

 

Tak habis pikir ia harus berada di Krusty Krab padahal ini hari Minggu, hari di mana ia semestinya tengah mencoba melukis atau berlatih klarinet di kamarnya yang artistik dan berkelas, Squidward mencoba melihat kesialannya ini sebagai bagian dari realitas yang konyol. Telah bertahun-tahun ia menjadi kasir di Krusty Krab, dan ia tak melihat kemungkinan ia akan dipromosikan atau sekadar diberi kenaikan gaji. Dan ia selama bekerja itu harus bertatap muka dengan Spongebob, makhluk kuning konyol dan menggelikan yang entah telah berapa kali membuatnya tertimpa masalah. Ia kesal sekali kalau rekan kerja sekaligus tetangganya ini sudah tertawa-tawa. Sebenarnya ia kesal juga ketika mendapati bosnya, Tuan Krabs, tertawa-tawa. Satu-satunya sosok yang tak membuatnya kesal saat tertawa-tawa adalah dirinya sendiri.

 

Hari ini Squidward jauh lebih sibuk daripada biasanya. Krusty Krab penuh; dan meski di luar telah didirikan tenda-tenda nyaris tak pernah ada meja kosong untuk waktu yang lama. Squidward sebenarnya tidak peduli pada orang-orang itu. Dan kalaupun mereka mau mengantre di hadapannya, ia akan melayani mereka seperti ia melayani para pelanggan yang lain di hari-hari yang lain; tugas monoton ini sudah dikerjakannya bertahun-tahun dan ia telah terbiasa untuk tak memikirkannya, untuk tak sedikit pun terganggu olehnya. Tetapi hari ini ada banyak anak-anak. Mereka ikut mengantre bersama orang-orang dewasa, dan mereka banyak yang berisik atau plin-plan dan itu benar-benar membuatnya kesal. Satu-dua anak bahkan menangis di antrean, dan itu gara-gara adu mulut konyol dengan anak lain.

 

Squidward ingin sekali melontarkan kata-kata kasar atau bahkan melemparkan sesuatu ke si anak yang menangis itu, atau kepada si orang dewasa yang membawanya. Tetapi ia ingat Tuan Krabs mewanti-wantinya untuk tidak membuat orang-orang ini kesal. “Mereka, dari yang kudengar, mudah tersinggung dan bisa begitu saja menyerang balik. Mereka bahkan tak bisa membedakan mana lalucon mana penghinaan,” kata Tuan Krabs kepadanya dan Spongebob, lebih dari enam jam yang lalu. Tuan Krabs juga memberi peringatan bahwa ia dan Spongebob akan dikenai hukuman berat jika orang-orang ini sampai kesal dan mengamuk, merusak properti-properti Krusty Krab. Tuan Krabs tak peduli siapa yang memulai.

 

Berdiri di balik meja kasir, dengan sesekali pintu depan terbuka, Squidward bisa mendengar apa-apa yang dikoar-koarkan orang-orang di luar itu; dan ia lumayan bisa menangkap isu yang tengah mereka angkat—ia bisa menebaknya, paling tidak. Beberapa kali ia mendengar kata-kata “ganti presiden” diteriakkan. Ada juga “tukang tipu”, “penista agama”, dan “pembohong”. Kata-kata itu tiba di telinganya ketika ia sedang membaca koran di kursinya dan, kalau mau jujur, ia sebenarnya kesal; pasalnya ia tak sedikit pun peduli pada apa yang tengah dipermasalahkan orang-orang itu; dan ia tak ingin mendengarnya; tidak sedikit pun ingin mendengarnya. Orang-orang itu—nyaris semuanya—mengenakan pakaian serbaputih seakan-akan mereka tengah melakukan sebuah ritual suci, sesuatu yang diyakini akan sempurna menyucikan mereka. Squidward tak bisa membayangkan apa yang ada di benak mereka. Ia menduga mereka meyakini bahwa berteriak-teriak dan menjelek-jelekkan seseorang akan membantu mereka menjadi suci, dan baginya itu sungguh tak masuk akal.

 

“Tolong krabby patty-nya tiga,” kata salah satu dari mereka, tentunya dengan pakaian serbaputih. Squidward bangkit dari kursinya dengan malas. Ia berharap langit lekas gelap dan ia bisa berbaring tenang di kasurnya dan memejamkan mata.

___

 

Meski telah berjam-jam bekerja nyaris tanpa jeda, Spongebob sama sekali tak terlihat lelah. Justru ia tampak bersemangat, bahkan masih menunjukkan senyum lebarnya. Selama berjam-jam ini begitu banyak orang telah memakan krabby patty buatannya, dan selama berjam-jam jam ke depan akan ada begitu banyak orang lainnya menikmati krabby patty-nya itu. Spongebob tak pernah membayangkan hari membahagiakan ini akan dialaminya. Ia merasa begitu berguna, dan disukai. Tuan Krabs telah mengatakan kepadanya bahwa hari ini akan menjadi hari bersejarah bagi Krusty Krab, dan ia kini turut andil secara aktif dalam hari bersejarah tersebut.

 

Satu hal lainnya yang membuat Spongebob senang selain begitu banyaknya orang memakan krabby patty adalah bertambahnya tugasnya. Jika di hari-hari biasa ia hanya ditugaskan sebagai koki dan pelayan, hari ini ia ditugaskan juga sebagai pendokumentasi dan maskot. Tidak sulit bagi Spongebob melakukan itu semua dengan sama baiknya, terutama ketika ia mengingatkan dirinya bahwa seharian ini ia tengah mempertaruhkan reputasinya sebagai karyawan terbaik Krusty Krab sekian bulan berturut-turut. Tuan Krabs akan senang dengan kinerja seharian ini, dan itu berarti predikat sebagai karyawan terbaik bulan ini sudah separuh berada dalam genggamannya. Memikirkan ini membuatnya tambah bersemangat.

 

Dan ada satu hal lainnya lagi yang turut menambah semangatnya: anak-anak. Spongebob menyukai anak-anak sebab mereka aktif, berisik, imajinatif, dan selalu ingin bermain. Di jam istirahat makan siang tadi ia menghabiskan waktunya untuk berperan sebagai maskot Krusty Krab dan bermain bersama anak-anak itu; bermain tebak-tebakan atau kejar-kejaran atau tertawa-tawa atau apa pun itu. Ia ingin sekali mengajak anak-anak itu ke ladang ubur-ubur dan berburu di sana. Ia pun ingin sekali membiarkan mereka bermain dengan Mystery, seandainya saja kuda laut itu masih dipeliharanya. Dan ia pun ingin memperkenalkan mereka kepada Patrick dan melihat mereka melakukan hal-hal konyol dengan sahabatnya itu. Tak lupa, ia pun ingin membawa mereka ke rumah Sandy; bahkan kalau bisa ia ingin Sandy mengajari mereka karate dan setelah itu ia dan mereka kembali bersenang-senang sampai kehabisan tenaga.

 

Soal kenapa hari ini bisa ada begitu banyak orang datang ke Bikini Bottom dan sebagian di antaranya adalah anak-anak, begini penjelasan Tuan Krabs kepadanya: “Ini tanggal cantik. Dan khusus di tanggal cantik ini orang-orang itu akan melakukan sesuatu yang dianggapnya penting. Semacam ibadah. Ritual keagamaan. Atau bisa juga diibaratkan konser musik—tentu dalam pengertian yang lain. Tetapi kita tak usah memikirkan itu. Mereka akan membeli dan memakan krabby patty kita. Itu yang penting. Ini semua soal uang.” Tuan Krabs menutup penjelasannya itu dengan tertawa.

 

Spongebob sebenarnya tidak begitu suka Tuan Krabs hanya terfokus pada uang, tetapi sedari dulu bosnya ini memang begitu, dan ia sudah terbiasa dengan itu. Lagipula menurutnya benar juga yang dikatakan Tuan Krabs, bahwa ia tak harus memikirkan hal tadi itu. Ia cukup menikmati hari bersejarah ini; bermain dan bersenang-senang dengan anak-anak itu.

 

Meskipun begitu ada satu hal yang sedikit mengganggunya. Orang-orang dewasa, sebagian dari mereka, kerap kali berteriak-teriak dan itu membuatnya takut; meski ia tahu mereka tidak sedang meneriakinya tetapi ia bisa merasakan sesuatu semacam kebencian di dalam teriakan-teriakan itu. Dan ia tidak suka mereka melakukannya di hadapan anak-anak itu. Dan ia lebih tidak suka lagi mendapati anak-anak itu juga ikut-ikutan melakukannya; mereka jadi tidak terlihat seperti anak-anak, dan di matanya itu mengerikan. Untunglah anak-anak pada dasarnya adalah anak-anak; ketika diajak bermain olehnya mereka mau dan saat sedang bermain-main itu mereka kembali terlihat sebagaimana semestinya anak-anak terlihat—polos, riang, bersahabat. Ia ingin sekali di hari lain ia bisa bermain dan bersenang-senang dengan mereka lagi. Mereka harus tahu betapa menyenangkannya berimajinasi di dalam kotak kardus, pikirnya, sambil tersenyum lebar dengan mata berbinar-binar.

___

 

Pukul delapan malam. Krusty Krab sudah sepi; hanya ada Spongebob, Squidward, dan Tuan Krabs. Orang-orang yang berpakaian serbaputih itu telah pergi dari hampir sejam yang lalu; kembali ke kota-kota asalnya, jauh di luar Bikini Bottom. Spongebob dan Squidward kini sedang membereskan kursi-kursi dan meja-meja dan mengepel lantai. Tenda-tenda di luar sendiri sedang dirobohkan oleh orang-orang yang disewa Tuan Krabs—tentunya dengan biaya murah. Sedangkan Tuan Krabs, mudah ditebak, sedang duduk di kursi kebesarannya dan tertawa-tawa.

 

“Menurutmu bagaimana seharian ini Squidward? Menyenangkan, bukan?” tanya Spongebob, dan ia tertawa.

 

“Ya ya ya … menyenangkan untuk orang-orang bodoh yang mau-maunya mengorbankan hari liburnya untuk sesuatu yang juga bodoh,” jawab Squidward.

 

Spongebob kembali tertawa. Tawa yang membuat Squidward kesal.

 

“Aku harap mereka datang lagi lain waktu. Dan kuharap mereka kembali membawa anak-anaknya itu,” kata Spongebob, lagi-lagi disambung tawa.

 

Squidward mendengus. Tanpa menunggu Spongebob menanyakan pendapatnya ia berkata: “Aku harap lain kali ketika mereka sedang berada di kota ini Man Ray dan Dirty Bubble muncul. Dan aku akan menonton kekacauan yang ada di balik meja kasir. Mereka akan berlarian panik ke sana ke sini dan aku akan menonton mereka sambil duduk di kursiku.” Squidward tertawa.

 

“Oh itu sebaiknya tidak terjadi, Squidward,” kata Tuan Krabs. Squidward tidak menyadari kapan bosnya ini keluar ini dari ruangannya.

 

“Aku tahu kau pun ingin mereka kembali, Tuan Krabs. Aku tahu itu. Aku tahu itu,” kata Spongebob, girang; ia sekarang melompat-lompat seperti pegas—dan masih tertawa-tawa.

 

“Oh ayolah, Tuan Krabs. Kau telah mengambil hari liburku yang berharga untuk sesuatu yang bodoh ini. Kupastikan, aku tak akan mau melakukannya lagi,” ujar Squidward.

 

“Tenang saja, Squidward. Kalaupun mereka ke sini lagi itu adalah tahun depan, atau bahkan tahun depannya lagi. Mereka hanya akan berkumpul di tanggal yang sama,” jelas Tuan Krabs.

 

Di detik ini Spongebob berhenti melompat-lompat seperti pegas. Ia terlihat terkejut, kemudian sedih. Dan tak lama kemudian ia menangis; menangis keras-keras seperti anak kecil.

 

“Oh ayolah, Spongebob. Kau menangisi sesuatu yang benar-benar konyol. Apa kau tak sadar seharian ini tenagamu diperas jauh lebih parah dari biasanya?”

 

“Tetapi aku senang bermain dengan anak-anak itu. Aku ingin bermain dengan mereka lagi.”

 

Spongebob kembali menangis. Semakin keras. Semakin membuat Squidward kesal.

 

“Jangan khawatir, Nak. Mereka akan datang lagi,” kata Tuan Krabs, dan tangis Spongebob terhenti.

 

“Benarkah itu, Tuan Krabs? Benarkah itu, Tuan Krabs?”

 

“Ya, benar. Tentu saja benar. Dan kita akan mempersiapkan sesuatu yang lebih hebat lagi untuk menyambut kedatangan mereka tahun depan. Kita akan membuat mereka lebih nyaman. Kita akan membuat mereka lebih tergerak untuk membelanjakan uang mereka.”

 

“Benarkah itu, Tuan Krabs? Benarkah itu, Tuan Krabs?”

 

“Pastinya, Nak. Pastinya. Soalnya itu bagus buat bisnis.” Dan Tuan Krabs tertawa. Tertawa dan tertawa.

 

Spongebob mengikuti Tuan Krabs—tertawa dan tertawa.

 

Squidward, sementara itu, menepuk jidatnya sendiri berkali-kali.

 

Di luar Krusty Krab, tenda-tenda masih dirobohkan satu per satu.(*)