

tiada keindahan tulisan yang mampu dikarang
oleh sastra untuk mengucapkan kasih sayang.
sebab sastra-sastra saja tak cukup mengutarakan
maksudnya.
tiada kemerduan lirik yang mampu dituturkan
oleh bahasa untuk mengucapkan terima kasih.
sebab bahasa-bahasa saja tak cukup mengutarakan
maksudnya.
jika aku adalah sastra dan bahasa, dan
kau adalah kasih sayang dan terima kasih.
maka tiada aku yang disastrakan dan tiada aku
yang dibahasakan guna menjelma aku.
Jakarta, 2026
masih aku ingat kala itu. waktu aku terdampar
di wajahmu yang temaram. dan ada empat titik
jerawat di pipi kanan dan kirimu. kau tersipu.
seketika terpendar rona merah di kedua pipimu.
jerawatmu yang imut dan lucu, ingin ku membacanya
dengan bahagia yang paling suci dari kedua mataku.
agar jerawat-jerawatmu tak lagi mengimut dan melucu.
namun kau menolak. kau tolak segala yang ada
di wajahmu. “apa pentingnya wajahku ketika wajah
tak begitu penting bagiku?” katamu. kau tersipu.
aku pun juga tersipu.
Jakarta, 2026
selagi bahagia, kau
kan berbahagia.
selagi sedih, kau
kan bersedih.
selagi rindu, kau
kan… apa?
tiada makna
(ber-)
selagi rindu. kau
tidak ditemukan.
Jakarta, 2026
ketahuilah, kau dan aku
tidak akan pernah,
“menjadi apa kita.”
sebelum, kau dan aku
lebih dulu mengerti,
“di antara apa kita.”
kelak jika waktu telah menunjukkan
pukul tiba. sejengkal saja kau dan aku
tuk sampai pada muara. kau dan aku
akan mengerti.
menjadi adalah amanmu yang berdiri gagah.
di antara adalah kesahmu yang kupeluk gigih.
Jakarta, 2026
jangan biarkan hujanmu turun menerpa mereka. kau tidak akan
pernah tahu. bagaimana hujanmu akan memperlakukan mereka. atau
mengapa hujanmu dapat membuat mereka berhenti dari pelananya
atau hujan mampu membuat mereka menjadi sakit.
jika aku bertanya kepadamu,
kau takkan pernah mengerti.
begitu pula aku.
jangan angankan hatimu menerka cahaya mereka. kau tidak akan
pernah tahu. bagaimana cahaya akan memperlakukanmu. atau
mengapa cahayanya dapat bagimu melihat dari dekat ke yang jauh
atau gelap ruangan tercipta di dalam hatimu.
jika aku bertanya kepadamu,
kau takkan pernah mengerti.
begitu pula aku.
Jakarta, 2026
aku tak butuh keluar dan pergi jauh-jauh untuk liburan. tapi orang-orang itu
mengajak atau membujukku keluar dan pergi liburan. aku menolak dan selalu
aku menolaknya. lantas orang-orang itu menempatkan aku sebagai orang gila
dan terus-menerus menganggapku gila.
aku tidak punya banyak waktu. ada terlalu banyak wisata indah
di dalam diriku sendiri yang belum semua aku datangi. tempat
ideal untuk melarikan diri sejenak dari kepalsuan, patah-sakit hati
dan kebisingan yang kuperoleh dari banyak orang.
mereka—orang-orang itu—yang menyematkan aku sebagai orang gila
dan terus menerus menganggapku gila, tidak menyadari. mereka hidup
dan tinggal di dalam ruangan sempit. tempat sebagian orang membuat
permainan dan sebagian dari kebanyakannya memainkan permainan itu
dan dipermainkan. sehingga mereka hilang akal. ingin ke luar dan pergi
jauh-jauh untuk liburan.
Jakarta, 2026
Seorang pemuda acak biasa asal Jakarta yang menasbihkan waktunya untuk studi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah dan membaca karya sastra.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!