“Seandainya” dalam Hidup Ibu

Usang dan berdebu. Setidaknya, itulah kata yang bisa menggambarkan kotak cokelat berukuran medium dalam genggaman tanganku.

Malam itu, pendar bulan menembus tirai jendela, menitipkan sinarnya yang akan ditelan matahari pagi. Menemani rasa ingin tahu yang membuncah terhadap kata “seandainya” yang dititipkan Ibu pada kotak cokelat ini. 

Jemariku bergerak membuka kotak tersebut. Di dalamnya, terdapat banyak kertas yang terlipat.

Ya, memangnya apa yang kuharapkan untuk ada di dalam kotak ini? Sebuah roket? Jutaan uang tunai? Tentu tidak.

Meski begitu, tak ada rasa kecewa yang muncul. Sebab, aku tahu benar bahwa setiap yang ada lipatan kertas itu akan membawaku bersapa ria dengan masa lalu Ibu. Masa lalu yang dipenuhi keraguan, ketakutan, dan masa lalu yang penuh kata “seandainya”.

Kuambil lipatan kertas paling atas yang sebagian sisinya sudah menguning termakan usia. Di dalamnya terdapat ungkapan tentang impian Ibu yang hingga kini pun terus diceritakannya kepadaku secara berulang-ulang.

Seperti Ayu, teman dekatku, aku ingin sekali ikut daftar magang di tempat penyiaran radio. Namun, jika daftar bersamaan dengan Ayu, sudah pasti aku tidak akan lolos, kan? Ya, tentu saja. Nilai Ayu bagus, pengalamannya pun banyak. Sedangkan aku? Mengangkat tangan di kelas saja tak berani.

Aku menghela napas. Rasa kesal setelah membaca tulisan itu menjalari tubuhku. Kenapa Ibu langsung menyimpulkan tanpa pernah mencobanya?

Bagaimana jika ternyata Ibu dan Ayu, si teman dekatnya itu, bersama-sama lolos?

Bagaimana jika ternyata hanya Ibu yang lolos sedangkan Ayu tidak? 

Kubuka kertas kedua. Tampilannya sama, menguning di sebagian sisi. Aku mempersiapkan diri karena pasti akan lebih kesal saat membaca isi kertas ini.

Bagaimana ini? Ayu mengajakku untuk menjadi partnernya dalam perlombaan penulisan karya ilmiah tingkat nasional. Aku senang akan bidang lombanya, tapi kenapa harus tingkat nasional? Tidakkah itu terlalu tinggi untuk diriku yang belum pernah mencobanya? Jadi, harus kuterima atau kutolak saja, ya?

“Pasti ditolak oleh Ibu,” aku menjawab pertanyaan yang dituturkan Ibu pada kertas tersebut. 

Tanganku dengan lincah membuka lipatan kertas selanjutnya. Mungkin kertas ini akan tetap berwarna putih apabila tak ada bekas tumpahan kopi yang hampir memakan seluruh permukaannya.

Temannya Ayu mengajakku untuk menjadi panitia pentas musik tahunan di kampus. Ini kali pertama aku diajak terjun dalam kepanitiaan semasa hidupku. Apalagi aku tak perlu menghadapi pertanyaan wawancara, seperti apa alasanku ingin menjadi panitia dalam pentas musik tersebut. Namun, apakah aku sanggup? Ini pentas musik dan sebelumnya aku tak pernah menghadiri pentas seperti ini. Aku tak yakin aku dapat bekerja dengan baik.

“Ya, memangnya kenapa kalau belum pernah menghadiri pesta musik?! Bertanggung jawab dan bekerja sama itu yang paling penting dalam kepanitiaan!” lagi dan lagi, aku menggerutu kesal. Ingin aku meneriakkan agar Ibu mengambil kesempatan yang diberikan kepadanya tetapi … ah, sudahlah.

Aku berusaha menyingkirkan rasa kesalku karena tulisan yang sudah-sudah, tetapi tetap saja tak bisa. Kuabaikan perasaan itu, lalu tanganku berpindah pada lipatan kertas selanjutnya.

Hari ini Bu Sekar menawarkanku untuk bergabung pada tim lomba yang tengah dibimbingnya karena kebetulan mereka kekurangan satu personel lagi. Beliau menawariku karena nilai ujianku pada mata kuliah yang diajarkannya memuaskan. Katanya, ini akan memberikanku pengalaman baru. Namun, aku menolaknya tanpa ragu. Karena… bukankah terlalu cepat untuk mengikuti perlombaan yang dibina langsung oleh dosen? Aku merasa ilmuku belum cukup.

“Hah?! Tanpa ragu?!” tanpa sadar, suaraku meninggi. “ Semua hal memang akan terasa terlalu cepat dan tak tepat bagi Ibu yang selalu menolak untuk mencoba,” lanjutku bermonolog dengan suara pelan.

Aku bergeleng beberapa kali. Tak bisa lagi memaklumi tindakan Ibu pada masa mudanya. Akan tetapi, aku penasaran dengan pilihan yang tak pernah diambil Ibu, mimpi yang tak pernah Ibu kejar barang selangkah pun, hingga kata-kata yang tak pernah Ibu ucapkan dengan lantang. Jadi, kuputuskan untuk kembali menyapa versi lama Ibu dengan membuka lipatan kertas selanjutnya.

Hari itu aku kembali berkumpul bersama teman-temanku saat SMA. Sam merasa dirinya tertinggal karena banyak teman-temannya yang sudah mulai magang, memenangkan lomba, memuat karya mereka di media, dan sebagainya. Sedangkan dia hanya menghabiskan waktu di rumah tanpa melakukan apa-apa. Entah kenapa, aku bisa memahami apa yang dirasakannya. Ingin aku mengatakan bahwa ia tak sendirian dan tak perlu menyesuaikan langkahnya dengan milik orang lain. Namun, alih-alih mengatakannya, aku malah diam dan hanya mendengarkan saja. Sampai sekarang, aku menyesal sekali tak berani untuk mengatakannya. Padahal mungkin saja Sam akan merasa lebih baik ketika mendengarnya.

Terlintas pertanyaan dalam benakku usai membacanya. Apakah hingga kini Ibu masih menyesal karena tak berani untuk mengatakannya kepada Sam? Dalam hati, aku berharap kiranya kalimat itu telah diucapkan Ibu di lain waktu saat mereka bertemu lagi setelah perkumpulan itu. 

Tak ingin berlama-lama larut dalam sesuatu yang tak pasti itu, aku membuka lipatan kertas berwarna kuning, satu-satunya kertas berwarna di dalam kotak itu.

Pramudya, lelaki yang akhir-akhir ini menarik perhatianku. Si lelaki aktivis yang doyan mengukir aksara puitis. Kami tak sesering itu berjumpa sebab bukan satu jurusan. Kudengar dari bisik-bisik temanku, tutur katanya lembut sekali. Ingin sekali aku bertukar pikiran dengannya yang pasti intelek itu. Meraup gudang ilmu sekaligus harmonisasi tuturnya. Namun, apakah aku layak bersanding dengan lelaki itu? 

Pramudya. Aku memekik seketika. Kali ini, Ibu berhasil! Baiklah, begini, Pramudya itu nama Ayahku. Tak mungkin aku salah, kan?

Aku kenal sangat baik dengan sosok lelaki yang memperkenalkan istilah gastrokolonialisme, sosok Jiro Horikoshi, cultuurstelsel, Boston Tea Party, Rohana Kudus, hingga Jugun Ianfu. Pramudya, nama yang bagiku tak pernah sebatas sosok Ayah, melainkan juga pengajar yang sangat baik. 

Rasa senangku melampaui batas. Aku melompat-lompat sembari tertawa kegirangan dengan kertas kuning tersebut dalam dekapanku. Ibu menuliskan kekaguman sekaligus keraguannya dalam kertas kuning, yang kini menjadi satu-satunya kertas berwarna dalam kotak cokelat ini. Astaga, kebetulan macam apa ini?!

“Ini sangat mengagumkan. Kertas ini menjadi penghibur atas rasa kekesalanku yang sudah menumpuk melewati batas yang bisa kutolerir,” 

“Kau kenapa, Binar?”

Aku menoleh kala kudengar namaku disebut. Hingga kudapati sosok Ibu yang kebingungan di dekat pintu kamar yang telah terbuka. 

Aku menyengir. “Eh, Ibu. Tidak apa-apa. Hanya merasa senang saja.” 

“Sudah kau baca kertas-kertas yang berisi penyesalan Ibu di masa muda karena selalu takut dan ragu?” Ibu bersedekap.

Aku mengangguk antusias. “Sudah. Aku sudah membaca enam kertas dan karena aku telah menemukan sesuatu yang Ibu berhasil capai, aku tak mau melanjutkannya lagi. Anggap saja ini akhir yang bahagia,” ujarku.

Ibu menghela napas. Sepertinya memahami apa yang kumaksud. “Ya, itu juga tak akan tercapai kalau bukan Ayahmu yang memulai duluan,” Ibu memberitahu yang sebenarnya, tetapi aku tak peduli. Intinya Ibu berhasil, kan? 

“Sekarang bagaimana? Mau menolak menjadi perwakilan sekolah dalam kompetisi olimpiade sejarah yang ditawarkan gurumu?” Ibu lanjut bertanya.

Oh, inilah hal yang membuat Ibu memaksaku untuk berkenalan dengan kotak cokelat yang berisi segudang penyesalan itu!

Sudah tiga hari berturut-turut Ibu membujukku agar menerima tawaran wali kelasku menjadi perwakilan sekolah dalam olimpiade sejarah. Namun, tak henti-hentinya aku meragukan diri sendiri hingga Ibu kesal sendiri dan memintaku untuk membaca kertas-kertas yang menjadi saksi luruhnya harapan Ibu pada masa mudanya.

“Tentu saja aku bakal menerimanya! Aku gak mau keinginanku berakhir di kotak cokelat berdebu seperti itu,” jawabku dengan nada sombong. 

Ibu mendengus dan akhirnya tertawa kecil. “Jangan lupa makan malam sebentar lagi. Tunggu Ayahmu pulang.”

Aku mengangguk patuh. Lalu, usai Ibu menutup pintu kamarku, aku beranjak untuk merapikan seluruh kertas-kertas yang kukeluarkan. 

Pikiranku melayang-layang tak pasti. Membawaku melayang jauh ke masa lalu Ibu, menyusuri setiap sesal yang mungkin masih Ibu bawa hingga kini.

Lahir di Medan pada 15 September 2007. Tahun ini usianya 19. Berupaya menulis dengan cinta dan berharap tersampaikan melalui tulisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!