Cinta dan ketulusan. Itulah dua kata yang paling tepat untuk mengungkapkan pesan moral yang terkandung dalam Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou, film animasi Jepang yang sudah diputar di banyak negara seperti Amerika serikat, New Zealand, Kanada, Inggris, dan Perancis sejak akhir Febuari 2018 dan baru belakangan ini mulai dirilis di Indonesia. Merupakan animasi original produksi P.A. Works, Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou sukses mencuri perhatian masyarakat luas karena ragam kualitas yang ditawarkannya. Keindahan grafik, detail setting dan jalinan cerita yang ditampilkan sungguh sangat menawan. Tidak mengherankan bila kemudian Mari Okada, sutradara film animasi ini mendapat pujian dari berbagai kalangan walau ini merupakan karya pertamanya sebagai seorang sutradara.

Harus diakui, salah satu yang membuat film-film animasi Jepang terbilang unik adalah bagaimana sering kali para kreatornya menanamkan kepercayaan terhadap kekuatan kuno atau mitos-mitos lokal di dalam buah karya mereka. Entah itu benar atau tidak, namun benang, tenun, dan rajutan kerap kali digambarkan sebagai simbol dari aliran waktu. Tengok saja film animasi Kimi no Nawa yang menjadi film terlaris kedua sepanjang waktu di Jepang, maka dalam film tersebut akan ditemukan dialog yang mengarah pada kepercayaan itu. Hal semacam ini ternyata dapat ditemukan pula dalam film animasi Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou yang berdurasi sepanjang 1 jam 54 menit. Bahkan secara langsung, Mari Okada menjadikan benang, kain tenun dan eksistensi keduanya sebagai prolog yang nantinya akan membangun cerita.

Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou sendiri mengambil setting dunia imajiner abad pertengahan yang sangat realistis. Tanpa sihir, tanpa kekuatan superpower maupun tanpa teknologi yang muluk-muluk dan kelewat maju. Dengan dominasi warna-warna yang cenderung cerah nan memikat, abad pertengahan yang ditampilkan berpusat pada ruang lingkup taman, seputar istana, pemukiman yang padat dan kumuh, serta kota dengan tembok dan jalanan yang masih tersusun dari kayu dan bebatuan khas abad pertengahan kita. Namun, ada satu hal yang membedakan antara abad pertengahan dalam dunia Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou tersebut dengan abad pertengahan dunia kita. Perbedaan tersebut terletak pada keberadaan salah satu bangsa yang dianggap legenda.

Mereka adalah orang-orang Lorph. Bangsa unik yang memiliki rambut pirang, kulit putih seputih telur rebus, dan bekerja sehari-hari menenun Hibiol, semacam kain panjang yang biasa digunakan sebagai penghias. Tenunan Hibiol mereka sangatlah rapi dan indah sehingga dihargai cukup mahal. Akan tetapi bukan itu yang menjadikan mereka dianggap sebagai bangsa legenda. Melainkan karena umur mereka yang terlalu panjang hingga mencapai ratusan tahunlah penyebab utamanya. Mereka pun menjauh dari peradaban, lalu mengasingkan diri di suatu tempat terpencil karena beberapa alasan, termasuk salah satunya adalah ketidakinginan mereka diganggu oleh manusia.

Menjadi bangsa kecil yang hidup sendiri, tentu bukanlah hal yang mudah dan menyenangkan. Kebutuhan, barang, orang, dan hampir segala yang ada serba terbatas. Sialnya, keadaan tersebut ternyata bisa jadi lebih buruk lagi bagi satu orang. Dia adalah Maquia, sang protagonis yang merupakan perwujudan dari sosok gadis penakut, cengeng, ragu-ragu, namun di sisi lain begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Maquia, bisa diistilahkan sebagai kucing di antara harimau. Ia hidup sendirian di tengah-tengah bangsa yang memang sudah sendiri. Saat teman-temannya disambut oleh keluarga mereka selepas bermain di sungai pada saat matahari terbenam, dari kejauhan, Maquia hanya bisa menatap punggung mereka menjauh seraya tertunduk lesu seorang diri.

Suatu malam, kediaman orang-orang Lorph dikejutkan dengan kedatangan tamu yang tidak pernah diharapkan. Meraka adalah orang-orang dari pihak kerajaan yang datang dengan mengendarai Renato, makhluk semisal naga yang dianggap sama legendarisnya dengan orang-orang Lorph. Kedatangan mereka bukannya tanpa maksud. Tujuan mereka adalah untuk membawa tetua Iorph ke kerajaan. Kiranya, di sinilah keserakahan dan kepongahan manusia menjadi latar belakang. Pihak kerajaan ingin sekali menunjukkan kekuatan mereka kepada negara lain dengan memamerkan kedua legenda itu di bawah genggaman mereka; bangsa Iorph dan Renato.

Namun di tengah-tengah kunjungan tak diharapkan tersebut, seekor Renato tiba-tiba saja hilang kendali. Ia pun mengamuk, menyerang dan menyemburkan api ke sembarang arah. Ketegangan, keseruan, efek suara, dan guncangan berhasil digambarkan dengan sempurna oleh tim animasi Mari Okada pada bagian ini. Untuk sejenak, bukan tidak mungkin kita bisa lupa bahwa film Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou sebenarnya tidak bermaksud mengusung genre aksi di dalam ceritanya.

Ketika Renato yang hilang kendali tersebut terbang pergi, siapa sangka, Maquia ternyata bergelantungan padanya. Gadis cengeng dan polos tersebut akhirnya terjatuh ke sebuah hutan. Lalu singkat cerita, dengan tubuh penuh memar dan luka gores, Maquia mendengar tangis seorang bayi. Ia pun mencari sumber suara tersebut, lalu menemukan bekas iring-iringan yang hancur usai diserang segerombolan bandit. Mata Maquia membelalak ketika di dalam salah satu kemah ia melihat seorang bayi yang tengah menangis dalam dekapan ibunya yang sudah wafat. Dengan takut-takut, Maquia mendekat dan terhenyak menemukan begitu kuatnya pelukan mayat wanita itu terhadap bayinya. Walau pernah diberi pesan oleh tetua Lorph untuk tidak berhubungan dengan orang dari dunia luar, pada akhirnya, Maquia tetap bersikeras untuk menyelamatkan bayi itu.

Kira-kira apa yang akan terjadi bila seorang wanita dari bangsa Lorph, bangsa yang memiliki umur luar biasa panjang, merawat dan mencintai seorang anak manusia biasa yang cepat sekali berubahnya? Barangkali itulah pertanyaan yang akan segera timbul dalam benak kita saat melihat Maquia menggendong bayi mungil tersebut. Namun sebelum pertanyaan itu terjawab, kiranya rangkaian kejadian Maquia –yang boleh dibilang sedikit payah karena masih kurang dewasa saat pertama kali merawat bayi laki-laki yang ia beri nama Ariel, cukup menggelitik. Kegugupan dan kepolosannya, membuat kita merasa gemas pada sosok gadis ini. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, Maquia akhirnya semakin dewasa dan sudah terbiasa menjadi sosok ‘mama’ bagi Ariel.

Dari tahun ke tahun, Ariel tumbuh dan berkembang dengan drastis, namun tidak demikian dengan Maquia. Ia masih terlihat begitu cantik dan awet muda. Dan ini tentu saja, bukannya tidak mengundang masalah. Dalam salah satu fase usia Ariel, tidak sedikit orang yang menganggap Ariel dan Maquia adalah sepasang kekasih yang melarikan diri lalu hidup berdampingan. Ragam permasalahan lain juga silih berganti menghantam. Permasalahan ekonomi, juga Maquia yang terlibat permasalahan politik, belum lagi permasalahan identitas dan harga diri Ariel –mengingat masa muda selalu identik dengan masa pencarian jati diri. Beberapa tahun sebelum itupun, Ariel sebenarnya sudah berhenti memanggil Maquia dengan sebutan ‘mama’ usai ia cukup umur untuk mengerti bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki hubungan darah.

Namun, Maquia tetaplah Maquia. Cinta dan kasihnya kepada Ariel sama sekali tidak berkurang barang setitik. Karena kuatnya perasaan yang Maquia miliki, ia sampai menangis karena Ariel dewasa sengaja menginjak kain tenun Hibiol yang dikerjakan oleh anak itu sendiri ketika masih berusia enam tahun. Tidak masalah pula bagi Maquia untuk bekerja siang-malam. Karena yang ia pikirkan hanyalah kebahagiaan Ariel, Ariel dan Ariel seorang, bukan yang lain.

Sayangnya, nasihat dari tetua bangsa Lorph ada benarnya. Umur bangsa mereka yang teramat panjang, merupakan sebuah kutukan tersendiri di mana mereka akan banyak merasakan kehilangan bila berinteraksi dengan orang asing, apalagi memiliki perasaan kepada mereka. Maquia yang memungut bayi Ariel, menyelamatkan, lalu merawat dan mencintainya mau tidak mau harus menghadapi risiko itu. Walau begitu, ia tidak gentar. Ia pun sudah berjanji untuk tidak menangis kepada putranya. Di sinilah, film animasi Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou menunjukkan daya magisnya untuk mengundang air mata para penonton, utamanya nanti ketika tengah berkecamuk perang antara kerajaan di mana Maquia dan Ariel tinggal dengan negara lain.

Dengan melihat Sayonara no Asa ni Yakusoku no Hana wo Kazarou, kita seharusnya paham, bagi Mari Okada, cinta bukan soal memiliki atau bersama selamanya. Cinta bukan pula soal sepasang laki-laki dan perempuan yang bercumbu rayu dan bermandikan nafsu. Namun  barangkali bagi Mari Okada, cinta adalah soal kasih sayang dan ketulusan, seperti cinta ibu kepada seorang putra tunggalnya.

 

 

Profil Penulis

Munandar Harits W
Munandar Harits W
Pria kelahiran Boyolali 15 Juli 1996