Saya adalah Pemulung, dan Ini yang Saya Rasakan

 Dunia ini memang penuh misteri. Kadang, hidup membawa kita ke tempat-tempat yang tidak pernah ada dalam daftar rencana masa depan. Begitulah yang saya rasakan.

Siapa sangka?

Saya yang awalnya bekerja rapi di depan layar sebagai host live TikTok di kawasan Jalan Kaliurang (Jakal) KM 10, kini justru merasa lebih “hidup” saat menenteng karung di pinggir jalan. Semuanya bermula dari sebuah ketidak-sengajaan, sebuah rasa penasaran yang akhirnya berubah menjadi apa yang saya sebut sebagai “kenikmatan abadi”.

 

Berawal dari Jakal KM 10

Dua minggu terakhir masa kerja saya sebagai host live, saya memutuskan untuk berjalan kaki dari kontrakan di daerah Gowok menuju tempat kerja di Jakal KM 10.

Jarak yang lumayan jauh itu memberikan Saya banyak waktu untuk berpikir dan mengamati sekitar. Di salah satu sudut jalanan, mata Saya tertuju pada sosok pemulung yang tertidur lelap di depan kios orang.

Melihatnya, hati saya berdesir. Saya membayangkan betapa beratnya hidup mereka, hidup yang benar-benar beralaskan tanah dan beratapkan langit. Tidak ada kasur empuk, tidak ada pendingin ruangan. Hanya ada debu jalanan dan harapan yang terselip di antara tumpukan barang bekas. Dari rasa kasihan itu, timbul sebuah bisikan di kepala:

Coba aja deh, gimana rasanya jadi mereka“.

Niatnya cuma mau mencoba sekali dua kali. Eh, siapa sangka, Saya malah ketagihan! Sampai di titik sekarang, bayangkan teman-teman, kalau dalam satu hari saya tidak turun ke jalan untuk memulung, kepala saya rasanya sakit. Buat saya, memulung bukan lagi sekadar mencari barang bekas, bagi saya, ini adalah sebuah candu yang positif.

 

Kenapa harus Memulung?

Mungkin banyak yang heran,

“Kenapa sih harus mulung?”

Saya punya tiga alasan fundamental yang membuat pekerjaan ini terasa begitu istimewa bagi saya.

Pertama, memulung itu Demokratis. Di dunia kerja formal, kita sering dibatasi oleh selembar kertas bernama ijazah. Belum lagi urusan kasta sosial, etnis, suku, hingga gender. Namundi dunia pulung-memulung, semua itu tidak laku. Semua orang bisa memulung. Mau kamu lulusan SD atau sarjana, mau kamu muda atau tua, jalanan tidak pernah bertanya apa latar belakangmu. Di sini, kita semua setara di hadapan botol plastik dan kardus bekas.

Kedua, kebebasan waktu. Saya merasa merdeka. Tidak ada tekanan jam kerja yang kaku. Saya tidak perlu pusing dengan budaya kerja ala Barat yang mengharuskan kerja nine to five.

Saya adalah bos bagi diri saya sendiri. Kalau saya mau mulai Subuh, terserah saya. Kalau mau mulai tengah malam saat kota sudah sepi, tidak ada yang melarang. Fleksibilitas inilah yang memberikan ruang napas bagi jiwa saya.

Ketiga, energi yang tak terjual. Memang aneh, secara fisik memulung itu melelahkan. Namun secara batin, energi saya justru bertambah setiap kali saya menyusuri jalanan.

Ada sebuah interaksi positif yang saya dapatkan, baik itu sekadar tegur sapa dengan sesama pemulung atau sekadar merasakan energi dari jalanan yang saya lalui. Energi ini tidak bisa diperjual belikan. Kamu tidak bisa membelinya di toko. Satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan terjun langsung, merasakan keringat sendiri, dan berinteraksi dengan realita paling jujur di aspal jalanan.

 

Suka Duka di Balik Trash Bag

Pengalaman saya memulung memberikan banyak pelajaran berharga. Satu momen yang paling saya sukai adalah tukar pikiran saat bertemu rekan sesama pemulung di pinggir jalan. Kami saling menyapa, bertanya mengenai rute mana yang hari ini sedang “basah” alias banyak barangnya, hingga berapa pendapatan hari ini. Semangat mereka benar-benar luar biasa. Spirit kerja mereka sangat kuat meski dalam kondisi ekonomi yang sulit.

Namun, ada juga kejadian unik yang saya sebut sebagai fenomena “Pemulung Memulung Pemulung”. Suatu hari, saya sudah berhasil mengumpulkan dua sampa tiga trash bag penuh dari pagi sampai siang, dan karena lelah, saya letakkan hasil pulungan itu di samping kontrakan. Eh, tak lama kemudian, hasil kerja keras saya itu justru diambil oleh pemulung lain!

Awalnya kaget, tapi kemudian saya tersenyum. Saya mencoba berprasangka baik, mungkin itu memang sudah rezeki dia hari itu. Lagian, itu salah saya sendiri meletakkannya sembarangan. Saya ikhlaskan. Di sini lah saya belajar tentang titik terendah seorang pemulung, ketika apa yang kamu kumpulkan dengan susah payah justru menjadi berkah bagi orang lain tanpa kamu duga.

 

Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Teman-teman saya sering bertanya dengan nada heran, “Kenapa sih mulung? Emang gak ada uang ya?”

Jawaban saya selalu sama, “Bukan karena nggak ada uang, kawan tapi karena saya sudah menemukan kenikmatan abadi dan sensasinya.”

Lalu mereka tanya lagi, “Biasanya tiap mulung itu dapat berapa?”

Saya jawab jujur, “Ya paling cuma cukup buat makan di angkringan dan beli beberapa batang rokok.”

Mungkin bagi sebagian orang itu kecil, tapi bagi saya, nilai nominal itu tidak penting. Mungkin ya karena saya sudah merdeka di sisi lain, tapi yang jauh lebih penting adalah rasa bangga karena bisa berdiri di atas kaki sendiri.

Ada kepuasan batin yang luar biasa ketika saya bisa mandiri, tidak merepotkan orang lain, dan mendapatkan hasil dari keringat sendiri secara halal.

Bagi saya, memulung adalah jalan ninjaku untuk tetap rendah hati dan tetap terhubung dengan bumi. Ini bukan tentang kemiskinan, tapi tentang kita memaknai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Akhir kata, untuk teman-teman semua, jangan pernah malu dengan pekerjaanmu selama itu jujur. Daripada kita diam dan mengeluh, lebih baik bergerak. Sebab, hidup adalah tentang memberi nilai pada apa yang sudah dianggap tidak bernilai oleh orang lain. Tentu saja saya menjadi pemulung pun karena saya mungkin sudah merdeka di sisi lain dan tak usah pusing memikirkan cicilan. Saya tak menampik itu. Ada orang yang terpaksa menjadi pemulung, ada juga yang tidak. Saya rasa semua pekerjaan pun begitu, tapi  in this economy, saya cuma bisa berdoa semoga kita semua diberikan kesehatan.

Daripada hidup jadi sampah, lebih baik hidup dari sampah. Bersulung (berkah selalu untuk para pemulung). Salam lestari, salam literasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!