Satpam

Kala itu burung hantu dan gagak berebut celah sunyi untuk diisi raungan mereka di masing-masing sudut kuburan. Bulan terus mendaki dan akhirnya tepat berada di puncak tepat di atas kepala Bobi. Ia menyeret tikar sedikit ke kanan, siap bercerita di depan Zaidan dan Kaka. Matanya tidak kunjung menyusut dan membesarkan korneanya. Keringat dingin masih saja menetes membuat tikar sedikit menyusut.

Sepuluh pegawai studio telah melepas penat dan menginggalkan anggur di balik tirai hijau. Baru saja di grup pegawai dikirim sebuah video Kaka ambruk dan mengeluarkan isi lambungnya dan membuat busa di jok belakang taksi. Bobi terus saja menghisap rokok yang dilinting tidak presisi dan tanpa cukai. Zaidan tiba-tiba duduk dan terdengar ia menyenggol sebuah botol kosong di balik tirai hijau itu. Ia mengeluarkan sebuah rokok, entah apa isinya, dan mulai mendongeng tentang penghuni sini.

“Kok ada sih manajer ngasih studio di pojok lorong?!”

Zaidan mulai mendongeng dengan sebuah keluhan.

“Ya namanya cari murah. Orang juga di sini paling lengah pengawasannya.”

“Gak pengen pulang kau?”

“Ya tunggu kau keluar lah. Kau kira di sini ngapain? Gak mabuk aku!”

“Ya siapa tahu kau pengen ketemu nenek-nenek di sini.”

“Siapa?”
“Yah anak mami. Gini. Di sini kau nggak tahu di masing-masing studio ada penghuninya.” Saat itu kresek-kresek dedaunan menembus jendela tak bertirai.

“Ceritain, lah! Gak usah nyimeng kau anjing, buat aku takut dulu!”

“Gak usah jauh-jauh. Itu di jendela ada yang ngintip tuh!”

Spontan Bobi memutar kepala ke arah kresek-kresek daun. Bobi memang merasa di antara gesekan daun itu ada sebuah bola mata yang bergabung dengan sinar bulan.

“Itu sebenarnya mata nenek itu yang ketinggalan. Makanya kalau kau ketemu nenek itu, dia matanya kayak dajal.”

“Dia kalau ketemu orang ngapain?”

“Ngajak kau ke alam kubur paling.”

Lampu merah membuat beberapa pembalap liar melesat sekejap mata, beberapa ada yang menabrak pagar dan matanya terlempar keduanya. Bobi menahan dua lubang hidungya karena tersisa bau lambung, terkadang Bobi menemukan nasi yang tumbuh jamur di jok belakang.

Saat itu jendela mobil terbuka sedikit, membiarkan krik-krik jangkrik yang membelah riuh tabrakan kala bulan sedikit miring dari atap mobil ini. Tiba-tiba gawai Bobi berbunyi lonceng. Lampu merah walau berganti giliran dengan kuning, namun karena tiada mobil yang antre di belakang, Bobi melihat gawainya yang terpampang nama manajernya. Bobi menekan gambar segitiga yang memutar suara manajernya.

Bob, udah jauh belum kau pulangnya? Balik dulu ya ke studio. Besok kan mau ke Simpang Lima tuh buat rekaman, cuman karena rekamannya pagi-pagi banget, kalau temanmu ambil alat-alat besok pagi pasti nggak kekejar. Kau ambil ya sekarang. Habis ini saya kirim daftarnya. Tadi aku coba telepon Zaidan, tapi karena dia jauh dan dia bilang kau lagi keluarin mobil, kau yang paling dekat dong. Ambil dulu ya,”

Setelah itu terkirim beberapa nama benda seperti lensa, kamera, lampu-lampuan, juga mikrofon.

“Wah setan nih bos. Mau tengah malam gini malah nyuruh-nyuruh mendadak. Nggak jelas banget!”

Sebab hidup Bobi bergantung pada kantong manajernya, ia segera berbalik arah mobil. Walau sudah lama mobil itu bersandar di lampu merah, tapi tetap belum ada mobil lain atau motor lain yang antre. Bobi langsung banting setir, balik arah, tancap gas ke studio. Ia berpaling dari kerumunan pembalap liar yang sedang berkeliaran mencari matanya.

Apotek itu buka 24 jam. Bobi menembus gelap gang di samping apotek itu, jalan pertama ke sebuah gedung tempat studio-studio murah tertidur lelap. Lampu depan mobil Bobi menusuk celah pagar yang menyinari tempat parkir. Mobil Bobi mengeluarkan bunyi tin-tin yang seharusnya ada satpam kaget di balik pos itu.

Satpam itu keluar dari balik pos memegang pentung dan topinya yang lalu ia pakai. “Eh Kang Bobi. Mau apa Kang?”

“Ambil alat Pak. Besok mau rekaman.” Satpam itu menyeret pagar yang tidak dikunci dengan pelannya. Mobil Bobi meluncur pelan dan akirnya terparkir di depan gedung. Karena Bobi tidak ingin melihat nenek hantu, Bobi mendatangi satpam itu dan meminta untuk ditemani. “Pak, temani ke atas ya. Takutnya ada nenek-nenek yang itu,”

“Ya udah ayo, Kang.”

Lorong itu hanya menyisakan beberapa bunyi jangkrik dan gagak di luar jendela. Satpam itu menyalakan masing-masing saklar yang memecah kesunyian lorong. Saat itu studio yang beroperasi sampai malam memang studio Bobi. Makanya satpam ini sepertinya paham kenapa Bobi datang ke sini.

“Pak, di sini benar gak sih banyak penghuninya?”

“Sudah sering Kang saya ketemu mereka. Gak usah jauh-jauh Kang. Di balik jendela sana sebenarnya tempat nenek-nenek yang Kang Bobi bilang tadi. Tuh dia sedang mengawasi tuh.” Bobi menyesali pertanyaannya yang ia lontarkan untuk memecah kesunyian lorong.

“Ini kan kita naik tangga nih, itu ada lukisan kan, sebenarnya waktu siapa saja naik, matanya itu selalu ikut. Sekarang Kang Bobi sedang dipelototi tuh.”

“Pak, aku cuman tanya kok jadi nakut-nakutin!”

“Saya bercanda Kang Bobi. Ini biar Kang Bobi tahu, gak usah takut di sini.”

Walau satpam itu hanya bercanda, tapi ia tidak mengeluarkan lengkung bibir tanda tertawa.

Akhirnya lorong berakhir di studio Bobi. “Pak, saya mau ambil barang, tapi jangan tinggalin saya ya.”

Satpam itu hanya mengangguk. Bobi memutar kunci pintu dan masuk ke studio yang masih saja berbau anggur.

Bobi segera mengambil beberapa kamera dan lensa. Ia hampir saja menginjak beberapa muntahan dan busa yang bercampur asam lambung. Namun karena ia was-was dan ketakutan, ditambah lagi jendela masih kresek-kresek digesek pohon di luarnya, ia tidak peduli jenis lensa dan lighting yang akan dipakai. Apalagi ia hanya sendirian, ia hanya mencari dua tas besar untuk menadah semua alat yang akan diambilnya. Ia bergegas melempar segala jenis lensa yang entah terpakai atau tidak.

Bobi hampir selesai dengan semua. Walau pintu studio tertutup sempurna, biasanya Bobi masih bisa mendengar apa saja yang ada di luar pintu itu. Karena Bobi tidak mendengar langkah kaki, ia yakin Satpam itu masih setia menunggunya. Namun karena jendela itu terus saja berisik, Bobi merasa akan ada sesuatu yang mengejutkan jika ia tidak segera keluar dari sini. Bobi mengemasi segalanya, dan meneteng dua tas yang isinya puluhan juta rupiah. Ia enggan membuka pintu itu, tapi kalau ia enggan, ia akan kehilangan perjakanya di sini.

Bobi membuka pintu, untuk sekadar sadar bahwa tidak ada siapa-siapa di sana. “Wah tai dikerjain saya!” Bobi menutup keras pintu studio, namun karena kuncinya ia lempar ke dalam tas, ia segera lari dari sana. Ia baru sadar bahwa semua lampu telah mati. Ia sangat ingat tadi satpamnya menekan semua saklar di sepanjang lorong. Bobi meluncur di tangga hingga tas di bahu kirinya berayun dan menghantam keras pagar tangga. Ia sekilas mendengar suara kaca. Ia tidak peduli dan terus saja berlari.

Bobi meluncur keluar gedung dan tiba di bagasi mobil. Ia membuka bagasi dan menaruh semua tas, sebelum ia sadar ia melihat satpam yang tadi menemaninya sedang membasuh wajahnya di pos. “Orang tahi nih minta dihajar!” Bobi mendatangi satpam itu dan bersiap dengan suara kerasnya.

“Eh Kang Bobi baru datang.”

Bobi tidak jadi dengan suara kerasnya. “Gimana Pak?”

“Kang Bobi tadi buka pagar sendiri kan?”

“Pak jangan bercanda deh, Pak. Kan Bapak yang menemani saya ke atas.”

“Kang, sumpah Kang saya baru keluar dari pos. Saya baru sadar Kang Bobi masukin mobil. Tapi dari tadi nggak ada lampu lorong yang nyala.” Bobi langsung lari dan masuk mobil. Sebelum ia melesat kabur, ia mengirim pesan ke gawai Kaka dan Zaidan agar ketemu di pos biasanya.

Bobi masih saja melotot walau ceritanya menguras napasnya lebih banyak. Kini mata Bobi menular ke Zaidan dan Kaka yang masih lemas diserang anggur.

“Gara-gara kau Dan aku jadi kayak was-was gini!” Zaidan dan Kaka tetap saja dengan mata itu.

“Heh! Ngapain kalian? Gak usah sok kaget. Kau yang buat aku takut, ya!”

“Nggak, bukan karena cerita kau.” Zaidan buka mulut karena ia yang dari tadi melotot setelah mendengar kata “satpam”.

“Terus kenapa kau?”

“Satpam itu kan sudah meninggal minggu kemarin. Itu kuburannya.” Zaidan menunjuk sebuah kuburan yang nisannya masih putih di bawah pohon beringin.

Penghuni bumi Kediri. Calon mahasiswa Universitas Islam. Umurnya 17 tahun tapi pasrah saja dibilang Gen-Z. Tidak berstatus, tidak tahu golongan darah, bermimpi menjadi Seno Gumira Ajidarma. Instagram @naskahsenja64_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!