Waktunya Bercerai

Sidang mungkin akan digelar di bawah pohon
Tak ada hakim menghakimi
Kita diminta menulis satu per satu
Pertengkaran yang tak didengar
Permusuhan yang tak diperlihat
Kecemburuan yang tak diumbar
Mari sama-sama menulis dengan diam
Tak perlu lagi ada gaduh
Sekarang kaki kita adalah cabang pohon
Dua cabang yang ingin lepas dari batangnya
Sejak daun-daun kita gugur,
Putik memang tak lagi menghasilkan apa-apa

Binjai, 2019


Mengingat Usia

Hatiku menyediakan lapangan bagi anak-anak bermain
Dahulu sekali api sudah mati dalam kabung
Aku meringkuk dalam gelap
Anak-anak itu menyeretku kembali ke sana
Ada tatakan lilin di sudut-sudut
Mataku melihat beberapa cahaya
Redup perlahan dimakan usia
Tak kusadari aku beranjak tua
Lupa dan tak menginginkan apa-apa

2018


Hati Budak

Aku sepasang mata yang mengikuti pulang perginya
Aku sepasang telinga yang mendengar ketuk sepatunya
Aku kedua tangan yang merawat tumbuh-tumbuhannya
Aku kedua kaki yang mengusir hama masuk
ke rumahnya
Aku pekerja, aku jatuh cinta
Tapi sayang,
Aku budak ; hanya boleh mencintai
majikan tanpa organ tubuh luar dan dalam

Binjai, 2018

Yang Tersembunyi

Tak ada yang tahu
Sudah berapa isak yang kau sembunyikan tanpa suara
Sudah berapa lebam yang tak berani ditampilkan oleh kelopak mata
Sudah berapa kali tubuhmu berjalan tanpa kerangka
Sudah berapa lama arwahmu lari dari jasadnya
Dan karena kau telah dewasa
Tuhan selalu bersikeras memberimu kehidupan setelah mati
Berkali-kali
Dengan bahasa yang tak masuk dalam kelompok suara
Yang kau lakukan adalah hanya sekali-sekali sedikit marah
Pesan-pesan tersebut dikemas melalui air mata
Bukan kumpulan suara yang mestinya bisa kau dengar
Melalui radio tua ayahmu

Binjai, 8 Desember 2018

Mata Mencari Mata

Kita mencari
mata yang paling
bahagia: itu
sudah tak ada
Seperti matahari
yang menyerap
air di atas batu
Gunung-gunung
tandus hanya
menyisakan nama-
nama pohon
yang pernah
berbunga
Dan kita tak
lagi ingat bau-
baunya.

2018

Pergelangan Tangan yang Tak Pernah Menjadi Milikku

Semua figura adalah pergelangan tangan dengan gelang batumu
Wajahmu tercecer di jerjak jendela
aku tak berani mengutipnya
terlalu berat bagi kantong mataku
angin membawamu jauh
Kau tersangkut seperti layang-layang tanpa benang
Ada yang mencoba meraihmu tanpa anak tangga
Tangannya terluka
Tersayat-sayat seng tetangga.

2018


Profil Penulis

Noni Erviani Lubis
Noni Erviani Lubis
Biasa dipanggil Noni. Dan ada beberapa yang memanggil dengan nama tengah dan nama belakang. Ya. Apalah arti sebuah nama.
Bertempat tinggal di Pulau Sumatera. Sebuah kota yang tak banyak didengar asal muasalnya. Binjai. Kota yang sampai hari ini masih menyandang gelar sebagai kota rambutan.

Perempuan yang suka tidur di atas jam 12 malam. Suka minum teh, bukan kopi.
Hosting Unlimited Indonesia