Hampir setengah jam aku menunggu di kafe tempat pertama kami bertemu. Seorang pramusaji di belakang bar berkali-kali melirik sinis. Barangkali karena aku tak kunjung memesan makanan, bahkan segelas air pun.

Jam di dinding terus berdetak, aku menerka-nerka, jangan-jangan sebelum datang kesini, dia menemui perempuan lain lebih dulu.

Aku tidak tahu kenapa musti berpikir begitu. Semalam kami bertengkar hebat—meski sebabnya bukan hal yang besar. Tapi tetap saja aku tak bisa mengatasi hal-hal ganjil yang menimpa padaku setelahnya. Rasanya seperti sebuah serangan tiba-tiba. Perasaan bersalah.

Selang lima menit, orang yang kutunggu akhirnya datang. Ia berjalan dan duduk dengan tergesa-gesa di depanku. Tersenyum canggung sambil meminta maaf atas keterlambatannya.

Rasanya masih sulit dipercaya. Kami berpacaran tiga tahun, banyak masalah yang telah dilewati bahkan lebih pelik dari ini. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kerap mudah marah dan emosional. Bahkan rencana-rencana yang kami bangun untuk menikah kubiarkan berdebu di laci kamar.

Ia menggenggam tanganku seperti biasa, semacam ritual untuk setiap pertemuan. Keningnya mengkerut tapi tak bicara apa-apa. Salah satu yang kubenci darinya adalah; lelaki ini selalu hebat untuk membuatku merasa bersalah. Padahal, jelas sekali kalau aku sedang berhadapan dengan tersangka utama. Seharusnya sekarang aku menyiramnya dengan air vas bunga, atau menamparnya keras-keras sampai meninggalkan bekas.

“Sayang, kurasa itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan..” ia mengeluh, seperti seekor kerbau yang protes pada tuannya. Aku diam.

“Sayang, kita sudah bersama tiga tahun, dia bukanlah apa-apa dibanding kamu, ayolah.”

Ia terus bicara. Suaranya kadang terdengar ragu-ragu, sesekali terdengar optimis. Tapi aku tetap membisu, meski tanganku sudah ia genggam kuat-kuat.

Aku menggigit bibir. Bertanya-tanya mengapa jantungku berdebar biasa saja?

Suasana menjadi hening, aku masih berpikir bagaimana caranya agar aku tak tenggelam dalam perasaan sialan ini. Lelaki di depanku seolah punya keahlian untuk menjebak bahkan lebih ampuh ketimbang jeratan tikus.

“Perempuan itu, yang kau sebut bukan apa-apa, jelas ia mengirimkan rekaman suaranya sendiri dan menyanyikan lirik lagu romantis. Kuakui suaranya lumayan bagus, tidak seperti suaraku yang hampir terdengar seperti sesuatu yang sangat buruk.

Perempuan itu, yang kau sebut bukan apa-apa, aku tahu betul prestasi gemilangnya sehingga bisa tembus universitas ternama tanpa tes, jauh sekali denganku yang menjadi mahasiswi swasta kampus kecil di kota ini.”

Aku membuat tiga alasan dengan awalan yang sama. Jujur, perempuan itu mermbuatku merasa tersaingi, aku benar-benar muak mendengar banyak alasan yang ia jelaskan.

Dadaku rasanya sesak, dan dia terus merajuk seperti anak kecil.

Petugas kasir memutar lagu Slow Dancing in a Burning Room milik John Mayer yang lebih mirip terdengar seperti raungan anak kucing yang kelaparan. Seharusnya petugas kasir tidak memutar lagu itu di saat keadaan genting seperti ini. Suasana kafe semakin ramai, tapi aku masih merasa sunyi, jauh lebih sunyi setelah genggaman kami mengendur.

“Kau keterlaluan.” Hanya itu yang kuucapkan, tanpa ekspresi apapun.

Dia mendongak ke atas, menahan air matanya yang hampir jatuh.

Aku ingat, saat kita saling bersandar di kursi kereta—kepalamu jatuh di pundakku. Saat itu, aku berbisik; aku berjanji untuk bisa berada disampingmu selama apapun yang kau mau.

Dia mungkin takkan pernah tahu, tidurnya sangat nyenyak dan panjang. Aku mendekap lengannya erat-erat, masih ada empat stasiun lagi yang harus kami lewati. Kemudian aku membisikkan kalimat-kalimat yang menurutku romantis; beberapa bait puisi Agus noor dan lagu milik romansa. Saat itu aku berusaha untuk menjaga tanganmu agar tetap hangat dan aman dari hembusan AC di langit-langit kereta.

Waktu itu kereta seperti melaju tiga kali lebih lambat dari biasanya—atau lebih tepatnya jantungku yang berdegup terlalu cepat.

Pada balkon-balkon koson yang berjalan menuju rumah, kami tetap diam di antara gemuruh rel yang berderit. Aku menitipkan banyak pesan pada mata masinis yang mengantuk. Kereta itu, sayangku, anggap saja sudah kusewa untuk kita berdua.

Aku terenyak. Hampir tenggelam dalam ingatan kenangan-kenangan.

“Kita, mau bagaimana?”

Aku memecah keheningan. Hidungmu memerah, kulihat napasmu sedikit kurang lancar. Mungin flu atau apa. Ia menggeleng, lalu menangis sesenggukan. Ia berusaha agar tak meledakkan tangisnya di kafe yang ramai.

Aku mendengarnya mendesah, suaranya kedengaran berat. Kemudian mendongak lagi ke atas. Wajahnya jelek saat menangis.

Dua puluh menit ia masih begitu. Aku sudah tidak tahan lagi.

Aku memutuskan untuk pergi tanpa pamit, tanpa basa-basi.

“Tolong, Ren.” Ia berbisik.

Aku berpura-pura tuli, bergegas untuk pergi.

Akhirnya kami berpisah. Kenyataan yang harus kuterima. Aku berjalan dengan mantap, sesekali aku menoleh ke belakang untuk memastikannya jatuh pingsan atau tidak. Nyatanya tidak, posisi duduknya masih sama, masih terlihat seperti pengecut.

Ibuku bilang, jangan pernah membuat lelaki menangis, sebab sumpah serapahnya lebih manjur dari doa ibu sekalipun.

Aku sudah memikirkan hal itu matang-matang, bahkan jika ia meyumpahiku untuk tak akan berhasil mengencani manusia di muka bumi ini, aku akan bersikeras untuk berpisah. Lagipula, siapa yang percaya dengan omong kosong seperti itu? Mengubah makna doa yang seharusnya sakral malah jadi terkesan misoginis.

Maaf, tapi ini benar-benar keputusan bulat. Tolong untuk tidak berpikir kalau alasan berpisah adalah karena aku terkena penyakit mematikan dan sisa umurku tersisa besok, lalu kita tak bertemu lagi selamanya. Percayalah, tanpa harus mati pun, kita bisa untuk tidak bertemu selamanya.

Aku masih berjalan menapaki trotoar, lalu mengingat kembali kalimat-kalimat yang kulontarkan saat meminta untuk putus. Ada kalimat yang sulit untuk kulupakan, pada bagian ini:

“Perempuan itu, yang kau sebut bukan apa-apa, jelas ia menciummu tepat didepan mataku! Aku merasa dihinakan, kau lebih memilih diam daripada menolak atau mendorong ia ke lantai.”

Aku menertawakan kalimatku yang terakhir, lebih tepatnya tertawa getir.

katanya, bibir adalah anggota tubuh yang keramat, mesti dijaga baik-baik. Harus digunakan untuk hal yang baik, juga diberikan pada kekasih yang terbaik. Dia memang membenci perempuan yang bicara kasar, itu sebabnya aku selalu bersikap manis dan bertutur lembut selama tiga tahun terakhir.

Aku tertawa lagi, mengeluarkan handphone dan menekan tombol voice note pada room chat whatsappnya. “Bangsat!”

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Penulis adalah perempuan biasa yang menemukan Komunitas Swara Saudari sebagai wujud kepedulian terhadap isu-isu perempuan. Senang menjadi fasilitator Kelas diskusi dan sesekali menulis berbagai isu gender di beberapa media online. Selalu ingin disapa duluan, silakan coba di akun twitter @owyaaay sampai jumpa di sana, ya.
Hosting Unlimited Indonesia